FAWAIDURRAHMAN: BIOGRAFI DAN SEPINTAS PEMIKIRAN

Fawaidurrahman, lahir di lingkungan PP. Nurur Roohman Tegal Waru Mayang Jember pada 17 Desember 1988. Pria yang biasa dipanggil ”FA” oleh teman-temannya ini, semasa kecil pernah kurang begitu beruntung. Ia harus dibesarkan bukan oleh orang tuanya sendiri. Ia diasuh oleh tetangganya yang memang berhati emas, yang dengan sepenuh hati merawatnya dengan penuh kasih sayang, melebihi kasih sayang terhadap anak-anaknya yang lain. Kasih-sayang itu ia rasakan melebihi kasih-sayang yang ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Kini beliau sudah tiada, semoga Tuhan mengampuni dosa-dosanya, memberikan kedamain kepadanya, dan dikumpulkan bersama orang-orang sholeh di kerajaan surga sana.

Ia pernah nyantri di Darul Lughah (Rumah Bahasa Arab) Pesantren Annuqayah Sumenep Madura sambil melanjutkan pendidikan di MTs-MAK Annuqayah. Pengalaman hidup yang sangat menggelisahkan membuat dia pernah nyantri di sebuah pesantren yang ada di pendalaman kota pamekasan bernama Pesantren Darul Ulum Banyuanyar selama satu-dua bulan. Dalam prosesny disana ia mendapatkan sebuah pelajaran bahwa hidup tak selamanya putih. Hidup butuh warna lain, merah, kuning, hujau, dan sebagainya.

Sejak masih menjadi pelajar ia sudah aktif menulis dengan tidak hanya terfokus pada satu titik bentuk tulisan maupun kajian. Ia menulis apa saja yang ada di benaknya tanpa terikat dengan hal-hal yang bersifat formalitas. Terbukti sebagian karyanya, baik puisi, cerpen, opini ataupun resensi telah tersiar di sejumlah media, baik lokal maupun nasional. Semisal, Jurnal Al-Huda, Kuntum, Info-kom, Radar Madura, Radar Jember, Sindo, dan sebagainya); Beberapa puisinya masuk dalam antologi bersama: Sabda Alam Raya (Forma, 2004), dan antologi bersama telah diterbitkan Balai Bahasa Jawa Timur (2006). Puisinya ”Tarian Sufi” pernah dibacakan dalam Lomba Baca Puisi antar santri se-Kec. Mayang 2005 yang diadakan oleh YPI Nurur Rohman Mayang Jember.

Ia merupakan Perintis Rumah Sastra Bersama (RSB) di Sumenep dan Teater SUKMA. Kini ia berproses di komunitas Rumah Kosong di Yogyakarta dan terdaftar sebagai alumni Jurusan Perbandingan Hukum Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia juga merupakan pendiri LMC (Law and Mazhab Community), semacam lingaran diskusi mahasiswa hukum kampus. Kini berprofesi sebagai staf POSBAKUM (Pos Bantuan Hukum) Sleman Yogyakarta.

Pengalaman hidup di pesantren membuat dia tidak kapok untuk tetap berproses di lingkungan pesantren. Terbukti, pasca keluar dari Pesantren Annuqayah, ia nyantri lagi di Kompelk IJ Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Akan tetapi, karena tidak puas dengan apa yang ia dapat di sana, pun ia hijrah ilmiah ke “Nawesea English Pesantren”, untuk lebih mendalami khazanah kelimuan dalam bidang bahasa (dalam hal ini bahasa inggris), walaupun pada tahun 2004 ia pernah kursus di Pare Kediri dan menjadi Tutor Bahasa Inggris di Laboratorium Bahasa Annuqayah (2005). Dalam prinsip hidupnya, mengetahui bahasa orang lain merupakan dari “jihad ilmiah” untuk menyelamatkan diri dari pelbagai macam tipu daya. Sesuai dengan adanya istilah “man ‘arofa lughat qoumin, salima ‘an makrihim.” Pun ia dapat menguasai lima bahasa, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Jawa, Madura, Indonesia…he…

Dari segi akademik prestasinya sangat fantastik, cukuplah untuk sekedar membuat cewek-cewek berdecak kagum. Sejak dari kelas 1-6 SD dia tidak pernah absen untuk tetap eksis sebagai rengking kelas. Hal itu tidak ia pertahankan ketika menginjak SMP, tepatnya di SMP Silo I Jember. Dirasa tidak serius ia dipindahkan oleh orang tuanya ke MTs. Nurur Rohman Mayang Jember. Namun, proses mutasi itu masih tidak dapat membuatnya serius sekolah . Biasa… problem anak baru gede yang baru mengenal pergaulan yang lebih mengasyikkan dan menantang.  Melihat perkembangan yang tidak memberikan sebuah nilai maslahah, pun ia dimutasi lagi ke sebuah pesantren Semi-Modern, PP. Annuqayah Sumenep Madura dan diterima  di kelas II-E MTs. A dan di jenjang diniyah ia diterima di Kelas-V Awwaliyah.

Hidup jauh dari orang membuat dia sadar akan signifikansi belajar lebih serius dan terbukti ia dapat bersaing dengan teman-temannya yang ada di kelas A, walaupun ia masih merasakan shock culture dan masih kurang kompetitif. Menginjak kelas III ia terseleksi di kelas A yang membuat ia lebih terbangun untuk terus mengejar ketertinggalannya demi menggapai prestasi sampai puncak klasement.

Perkembangannya lebih mengagumkan ketika ia diterima di MAK. Annuqayah dan mulai mengukir sejarah awal kehidupannya yang lebih progresif. Hal itu ia buktikan dengan selalu rangking I dari sejak kelas I sampai kelas III. Lebih dari itu, ia buktikan prestasinya dengan penghargaan siswa Tauladan MAK. Annuqayah (2006) dengan nilai 9 murni, yang kemudian mengangkat namanya semakin melambung harum, sewangi bunga seroja yang turun dari surga. Hingga menjadi masiswa, ia masih memperhatankan IPK diatas 3,50. Sesutau yang bisa dibilang langka di kalangan mahasiswa yang juga aktifis-organisatoris seperti dia.

Disamping itu, ia seringkali menjuarai berbagai bentuk perlombaan dalam berbagai bidang dan berbagai skop, baik local maupun nasional. Ketika kelas I MAK ia sudah menjuarai lomba debat bahasa arab se Madura, walaupun hanya bisa menjadi juara III. Namun demikian, ia terus mengasah kemampuannya dalam berbagai bidang dan tak pelak pasca itu ia terus menggapai prestasi gemilang seperti  dinobatkan sebagai Pembicara terbaik Debat Bahasa Arab se Madura (2004), Juara II Debat Bahasa arab Se-Jawa Timur (2005), Juara I Debat Publik se-Sumenep (2005), Harapan I LOmba Karya Tulis Ilmiah Nasional (2006), Juara I Debat B. Indonesia (2007), Juara II Lomba Cerpen B. Arab antar pesantran Sumenep (2004), Juara I Lomba Resensi Pelajar se-Madura (2007), Nominasi Lomba Esai Nasional yang diadakan oleh STAIN Purwokerto 2010, Harapan LKTIM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2010, Juara III LKTI Nasional yang diadakan oleh Lemlit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2010 dan lain sebagainya.

Disisi lain, pengalaman dalam dunia organisasi juga tidak kalah menarik. Hal itu dapat dilihat dalam proses perjalanan panjang dari SMP hingga kini yang selalu berada pada posisi strategis pada sebuah Organisasi. Saat ia duduk di kelas II MTs. Nurur Rohman ia diangkat menjadi ketua OSIS. Koordinator  Pengembangan Pers OSIS MTs. Annuqayah. Dalam statusnya sebagai orang yang baru pindah,hal ini merupakan sebuah bukti akan eksistensinya yang wahhh. Kelas I MAK ia diangkat menjadi Dewan Redaksi Majalah MAK (Infitah).

Ketika duduk di bangku kelas II MAK.A, ia dicalonkan sebagai ketua OSIS MAK, akan tetapi ia kalah secara terhormat dengan hanya selisih 2 suara dari rekan sekelasnya. Entah, apa sebagian siswa MAK salah pilih karena adanya kesamaan nama, itu di luar deteksi. Kemudian di lantik menjadi Sekjend. BES (Badan Eksekutif Siswa) MAK Annuqayah. Dus, disaat yang sama ia terpilih sebagai Ketua MPM (Majelis Permusyawaratan Murid) Madrasah Diniyah Annuqayah dan diankat sebagai Pem-Red Infitah, dan PU Buletin Syafa.

Saat masih berstatus santri, ia sudah aktif mengisi ruang-ruang diskusi maupun aksi bersama organisasi ekstra mahasiswa, dan mendirikan lingkar studi filsafat. Jadi, tidak salah jika di laur pesantren ia sudah aktif dalam berbagai organisasi. Hal itu dapat dilihat ketika ia dipilih sebagai ketua Forum Lingkar Santri Sumenep (FLSS), Ketua Forum Jurnalis Muda Sumenep (FJMS), Bendahara Perkumpulan Manusia, Ketua Lingkar Pelajar Islam Madura (LPiM), dan banyak lagi yang lainnya.

Menginjak kelas III MAK ia kembali dicalon sebagai Ketua DPS (Dewan Permusyawaran Siswa) MAK Annuqayah, pun ia terpilih dengan selirih suara yang sangat jauh dari rival politiknya, dengan mengantongi suara lebih dari 60%. Di waktu yang sama ia merintis sebuah buletin yang mencoba mendekonstruksi segala bentuk konsep klasik yang ada di sekitar pesantren Annuqayah dengan memberinya nama ”as-Syarqawi” yang dinisbatkan kepada nama pendiri Pesantren Annuqayah KH. Muhammad as-Syarqowi, pengarang kitab Safinah an-najah.

Terlepas dari semua itu, ketika ia masih berstatus santri annuqayah, ia sering dipanggil untuk diadili oleh pengurus, bahkan pengasuh, cuma karena tulisan-tulisannya yang kontroversial dan melampaui statusnya. Seperti “Melepaskan Pesantren Dari Bayang-Bayang Kitab Kuning”, yang dimuat di Info-kom Sumenep, “Menggagas Fiqh Substantif” yang diterbitkan Radar Madura, Cerpen “Mencerca Tuhan” (buletin syafa), dan lain sebagainya. Selain dari pada itu, ia juga seringkali mendobrak otoritarianisme pengurus dengan berbagai kritik, baik tulisan ataupun aksi. Karena ia berprinsip “lebih baik diasingkan dari pada menyerah kepada kemunafikan!”, yang mengutip kata-kata Soe Hok Gie.

Pasca lulus MAK ia dipaksa oleh orang tuanya untuk mendaftar di Universitas Al-Azhar Kairo lewat jalur beasiswa. Mungkin karena ia terpaksa, ataupun Tuhan tidak berkehendak, iapun tidak lulus dan mendaftar di Jurusan PMH Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga, yang sebelumnya sempat mendaftar di IAIN Sunan Ampel dan UTS Surabaya, UIN dan UM. Malang, UNEJ Jember. Semuanya lulus, akan tetapi dia lebih memilih UIN Jogja karena yang dia tahu Jogja merupakan Kiblat Pendidikan dan Peradaban Ilmiah Indonesia. Awal perkuliahan ia banyak ditawari masuk organisasi ektra-kampus dan ia lebih memilih PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Pilihan itu tidak berdasarkan banyak pertimbangan, cuma sekedar keyakinan bahwa PMII lebih sesuai dengan idealismenya.

Sambil membaca basmalah iapun mengikuti Pelatihan Kader Dasar (PKD) 2007 yang mengangkat tema “Paralelisasi Gerakan Emansipatoris”. Pada akhir pelatihan itu ia terpilih sebagai ketua korp Genkster. Pada teman-teman korpnya ia selalu mengajak untuk tidak terjebak formalitas struktur dan sok profesionalisme dan tidak terjerumus dengan fanatisme golongan tertentu dan menanamkan nilai-nilai pluralitas dalam pelbagai aspek.

Pada ranah pemikiran, sebagai seorang lelaki yang hidup dengan kultur NU, ia menginginkan adanya perubahan prinsip dalam tubuh NU dan Islam secara umum. Prinsip yang coba ia usung adalah “al-nadzr ‘ala al-qodim al-sholeh, wal-ijad bil-ajdab al-anfa’ wal-ashlah.” Prinsip itu menawarkan spirit progresifitas dalam pelbagai hal dengan tidak hanya terlena dengan euphoria-historisitas tapi juga tidak terjerat dalam diabolisme pemikiran barat yang hanya menjebak pemikiran islam untuk lebih maju dan bangkit dari tidur pulas beratus abad lamanya. Ia mengimpikan umat islam lebih berupaya mengambil substansi dari nilai-nilai islam sebagai agama yang rohmatan lil-‘alamin dengan tidak hanya terjebak dengan tekstualitas an-sich yang selalu mengumandangkan spirit kemajuan zaman.

Demikian halnya dalam ranah politik-hukum, ia mengimpikan terciptanya sistem perpolitikan yang sehat dan tidak sekedar terjebak dengan jargon simbolis agama dan maneuver politik. Ia mengasumsikan bahwa praktek politik yang seharusnya diaplikasikan adalah sistem politik sehat. Sebab, dengan sistem politik yang sehat, masyarakat dapat memilih pemimpin secara obyektif-selektif, tanpa adanya money politic, dan prektek-praktek lain yang hanya “ngapusi” rakyat.

Dengan pola perpolitikan yang demikian, akan berpengaruh terhadap sistem kinerja pemerintah, lebih-lebih dalam ranah keadilan hukum yang selama ini terkesan tergadaikan. Disadari atau tidak, “Hukum” di mata masyarakat sudah tidak mempunya wibawa samasekali. Sedangakan pada umumnya, hukum harus mempunyai kewibawaan sehingga secara psikologis berpengaruh terhadap orang-orang yang ada di bawah hukum itu sendiri. Sejatinya, wibawa hukum tidaklah terletak dalam kekuasaan pemerintah yang menciptakannya. Sebab, jika demikian, hukum itu akan ditakuti bukan dihormati. Dus, Wibaha itu ada pada hukum itu sendiri. Sebab, hukum itu mengatur dan membimbing kehidupan bersama manusia atas dasar prinsi keadilan (yang sebagian diambil dari norma kesusilaan dan sebagiannya diambil dari norma agama).

Tidak selesai pada satu titik tersebut. Perjalan hukum di Indonesia sangat menuntut adanya kesadaran hukum semua pihak, terlebih para penegak hukum. Sebab, sebaik apapun suatu sistem tanpa ditopang/didukung oleh individu yang baik pula, idealisme untuk menciptakan keadilan hukum substansial hanya akan menjadi “misionis-utopis.” (kira-kira seperti itu…)

Kembali lagi ke proses… pasca satu periode berproses, PMII terlibat konflik internal ketika mamasuki pemilu mahawasiswa (PEMILWA) dengan partai yang terpecah menjadi dua, PKM-PRM. Pada masa ini ia berada pada posisi yang serba sulit, yang pada akhirnya ia memutuskan tidak terlibak dalam praktek perpolitikan kampus. Dan ia menolak duduk di berbagai jabatan yang ada di intra (LKM).

Pasca pemilwa, ketika proses RTA yang di dalamnya terdapat proses pemilihan Ketua Rayon, ia dicalonkan untuk menjadi ketua rayon. Dengan penuh semangat ia berusaha untuk memundurkan diri, tapi ditolak oleh ketua sidang. Akhirnya ia hanya dapat membujuk-rayu peserta sidang untuk tidak memilihnya dengan banyak pertimbangan. Alhamdulillah, ia tidak terpilih dan Aziz Afandy Budiharjo-pun terpilih menjadi ketua PMII Rayon Ashram Bangsa Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pada proses strukturisasi, ia tawarkan jabatan-jabatan strategis (minimal koordinator). Namun, ia menolak itu semua dengan dikontrak oleh semua pengurus rayon untuk bertanggung jawab pada ranah konsep rayon ke depan. Ia pun membuat jargon “Dekonstruksi Gerakan, Upaya Menghadirkan Survivalitas PMII”. Jargon tersebut dilatar-belakangi oleh situasi rill gerakan mahasiswa yang sudah tidak menemukan wujud idealnya yang mengemban misi perubahan ke arab yang lebih baik.

Ia mengasumsikan, gerakan mahasiswa harus diformat dalam konsep semangat zaman, yang membangun pribadi-pribadi kritis-solutif, dan unggul berlandaskan pada idela-moral etik di atas nilai insklusiftas-pregresif. Mahasiswa harus mampu membangun spirit “heteroglosia”, sebuah semangat zaman yang berusaha menomorsatukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Spirit heteroglosia adalah semangat persatuan yang perlu dikontekstualisasikan di abad ini. Semangat tersebut menggambarkan perlawanan pemikiran dan sikap yang kokoh untuk menyikapi perubahan zaman yang kian tak menentu. Di mana, mahasiswa sudah terlena dengan kemapanan globalisasi yang sangat naif; yang selalu menjanjikan libido kapitalisme dan materialisme, tanpa mempertimbangkan efek tarik ulur global yang tak jarang mambuat mahasiswa terjebak dalam glamoria kehidupan.

Beberapa hari sebelum penerimaan mahasiwa baru 2009 ia diberi amanah untuk menjadi ketua panitia Orientasi Pengenalan Kampus dan Kemahasiswaan (OPAK). Hal tersebut merupakan sesuatu yang berat. Sebab, di satu sisi ia harus menjalankan kinerja kepanitiaan secara profesinal-proporsional. Disisi lain yang jauh lebih berat adalah adanya misi PMII-isasi—proses injeksi kesadaran terhadap mahasiswa baru untuk bergabung di PMII.

Satu hal yang membuat dia selalu semangat dalam segala hal, bahwa realitas hidup tidak ada yang instan. Semuanya memerlukan proses panjang yang amat sangat melelahkan. Tinggal bagaimana kita mengatur ritme gerakan dan arah berpikir yang itu semua tidak terlepas dari management waktu yang baik. Ia yakin bahwa dengan apa yang ia tanam, suatu hari ia akan memetik-memanen apa yang ia tanam. Sesuai dengan pepatah inggris, “as you plant so will you pluck.” Semangat Cuy,,,,…!!!

Secara Simplifikatif biografinya sebagai berikut:

Nama                 : Fawaidurrahman

Te-Ta-La           : Jember, 17 Desember 1988

Alamat Jogja     : “Nawesea” English Pesantren Yogyakarta Jalan Raya Wonosari Km 7,9 Sekarsuli Rt.05/Rw.45/kav.6-7 Yogyakarta 55573.

Riwayat Pendidikan Formal:

  1. TK Mayang 01 Jember (Lupa tahunnya)
  2. SD Mayang 01 Jember (-)
  3. SMP Silo 01 Jember (-)
  4. MTs. Nurur Rohman Mayang Jember (-)
  5. MTs. 01 Annuqayah Sumenep Madura (lulus 2004)
  6. MAK Annuqayah Sumenep Madura (Lulus 2007)
  7. Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Lulus cumlaude 2011)

Pengalaman Nyantri:

  1. Pesantren Nurur Rohman (2003)
  2. Pesantren Annuqayah (Keluar 2003-2007)
  3. Pesantren Al-Ikhlas Kediri (Cuma Dua Bulan-2004)
  4. Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan Madura (Satu Bulan:2007)
  5. Pesantren Al-Munawwir Komplek-IJ Krapyak Jogja (tujuh Bulan-2009)
  6. “Nawesea” English Pesantren Yogyakarta (2009-Hingga Kini)

Pengalaman Organisasi:

  1. Ketua OSIS SMP Silo 01 (2001-2002)
  2. Ketua OMIM MTs. Nurur Rohman (2002-2003)
  3. Sekjend. BES (Badan Ekskutif Siswa) MAK Annuqayah (OSIS tandingan) [2005-2006]
  4. Ketua DPS (Dewan Permusyawaratan Siswa) MAK Annuqayah (2006-2007)
  5. Ketua FJMS (Forum Jurnalis Muda Sumenep) (2006)
  6. Pendiri RSB (Rumah Sastra Bersama) Sumenep (2006)
  7. Pemimpin Redaksi Majalah Infitah MAK Annuqayah (2005-2006)
  8. Kepala Suku Sanggar SUKMA 2005
  9. PU Buletin As-Syamil MAK Annuqayah (2006-2007)
  10. Pem-Red Buletin “Safa” Pesantren Annuqayah (2005-2006)
  11. Direktur Pengembangan Bahasa Asing Pesantren Annuqayah Daerah Latee (2006-2007)
  12. Bendahara Bengkel Sastra Annuqayah (2006-2007)
  13. Pem-Red Buletin “Asy-Syarqawi” The Annuqayah Institute Yogyakarta (2007-2008)
  14. Sekjend. SEMA. Fakultas Syariah dan Hukum (2010 tapi Mengundurkan diri)
  15. Ketua GENKSTR (Gerakan Kritis Tranformatif) Korp. PMII Rayon Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum Angkatan 2007.
  16. Sekretaris Umum The Annuqayah Institute (Center For Islamic Studies and Development Society) (2010-2011)
  17. Pengurus Komisariat PMII UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2010-2011)
  18. Peneliti ahli Nawesea Research Center (Sejak 2010)
  19. Dewan Redaksi Jurnal Nawesea (sejak 2011)
  20. Staf POSBAKUM (Pos Bantuan Hukum) Sleman Yogyakarta (Sejak 2011)

Prestasi-Prestasi:

  1. Siswa Terbaik (Siswa Tauladan) MAK Annuqayah (2006)
  2. Juara III Debat B. Arab Se-Madura (2005)
  3. Pembicara Terbaik Debat B. Arab Se-Madura (2005)
  4. Juara II Debat B. Arab se-Jawa Timur (2006)
  5. Juara I Diskusi Publik se-Madura (2006)
  6. Juara I Debat B. Indonesia se-Madura (2007)
  7. Juara II Cipta Cerpen B. Arab antar pesantren Sumenep (2005)
  8. Juara I Lomba Resensi se–Madura (2007)
  9. Nominator Lomba Esai Mahasiswa Nasional (2010)
  10. Harapan Lomba Karya Tulis Mahsiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2010
  11. Juara III Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Nasional 2010.

Karya-Karya:

  • Sebagian karyanya, baik puisi, cerpen, Esai, opini, ataupun resensi telah tersiar di sejumlah media massa: majalah sastra Jurnal Al-Huda, Kuntum, Info Kom, Radar Madura, Radar Jember, dll.
  • Masuk dalam antologi bersama: Sabda Alam Raya (Forma, 2004), dan antologi bersama telah diterbitkan Balai Bahasa Jawa Timur.
  • Kumpulan esai Islam dan Terrorisme, Yogyakarta: Grafindo, 2010.
  • Tulisannya yang berjudul “Menjangkau yang Terabaikan (Reaktualisasi Hukum Islam dalam Membingkai Isu Nikah Siri)” dibukukan dalam Kajian Islam Multidisipliner (jilid 3), Jakarta: Lemlit UIN Syarif Hidayatullah 2010.
  • “Menghidupkan Narasi Kecil Hukum Islam” dibukukan dalam Islam, National Character Building dan Etika Global, UIN SuKa Press, 2010.
  • “Menghangatkan Kembali Peran Pesantren dalam Membangun Nalar Pendidikan Berbasis Local Wisdom.” Jurnal Educatia Vol.l No. 1 2008
  • dsb.

Prinsip Hidup              : Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan!

Contact Person            : 085729702433.

Email/Tweeter/FB       : fa_ih@yahoo.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s