PERGESERAN PARADIGMA DALAM HUKUM PIDANA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PIDANA MATI DI INDONESIA

Oleh: Fawaidurrahman, SHI.

Prolog
Paradigma merupakan sumber, fondasi, asal dan awal dari keberadaan dan perkembangan ilmu hukum. Paradigma merupakan nilai-nilai dasar yang telah diyakini kebenarannya oleh komunitas ilmuwan (ahli hukum), dan untuk selanjutnya dijadikan pedoman dalam berolah ilmu maupun mengamalkan ilmu hukum ketika berhadapan dengan realitas. Sebagai unit konsensus yang paling luas dan mendalam mengenai nilai-nilai dasar, paradigma dapat digunakan untuk membedakan suatu jenis ilmu hukum dengan ilmu hukum yang lain, sekalian penganut-penganutnya.[1]
Paradigma lahir dari pandangan manusia terhadap Tuhan, manusia dan alam, serta hubungan di antara ketiganya. Nilai-nilai yang melekat pada entitas-entitas itu dapat diyakini kebenarannya atas dasar keyakinan yang diperoleh melalui kontemplasi maupun merupakan hasil pertimbangan akal terhadap realitas empiris.[2]

Paradigma tidak mesti dan tidak harus rasional, akan tetapi dapat irasional. Kalaupun manusia berusaha merasionalkan paradigma akan tetapi gagal, bukan berarti sebuah paradigma salah. Keterbatasan akal, tidak boleh mengatasi paradigma. Kebenaran yang diperoleh dengan perantaraan wahyu misalnya, menjadi “terberi” bagi seorang Nabi dan pengikut-pengikutnya. Paradigma dapat menjangkau nilai-nilai religius, dan dengan begitu ilmu hukum menjadi bersifat sakral. Namun tak tertutup kemungkinan bahwa paradigma lahir dari nilai filosofis sekuler sebagaimana umumnya dianut ilmu hukum Barat, sehingga ilmu hukum bersifat profan.[3]
Sunatullah menunjukkan bahwa tidak ada paradigma hukum yang normal dan berjaya sepanjang jaman. Ia juga memiliki masa berlaku. Ketika paradigma dalam hukum normal gagal menghadapi realitas, sehingga dalam hidup dan kehidupan ditemukan keganjilan-keganjilan (anomalies), maka mulailah orang menaruh keraguan dan mempertanyakan kenormalan tersebut. Misalnya, ketika paradigma ilmu hukum selalu mengajarkan tentang kepastian, ketertiban, keteraturan, sementara itu realitas yang terbentang justru menunjukkan adanya pemahaman dan pengamalan ilmu hukum yang simpang-siur, acak, majemuk, sehingga tidak pasti, tidak tertib dan tidak teratur.

Realitas demikian itu tidak sejalan, menyimpang bahkan bertentangan dengan asas dan doktrin ilmu hukum normal yang selalu mengajarkan kepastian, ketertiban dan keteraturan tadi. Apabila paradigma ilmu hukum normal tidak mampu lagi mengakomodasi keganjilan-keganjilan itu dengan baik, maka sejak saat itu kenormalan ilmu hukum goyah sehingga menjadi ilmu hukum abnormal.[4]

Hukum pidana—sebagai hukum yang bersifat publik dan sub-kajian dari keilmuan hukum—menempati posisi signifikan dalam kajian hukum di Indonesia. Hal tersebut disebabkan di dalam hukum pidana terkandung aturan-aturan yang menentukan perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukan dengan disertai ancaman berupa pidana (nestapa) dan menentukan syarat-syarat pidana dapat dijatuhkan.[5]

Hukum pidana memiliki muatan materi yang erat kaitannya dengan nilai-nilai kemanusian yang mengakibatkan hukum pidana acapkali mengalami dilema yang cukup krusial. Satu sisi hukum pidana bertujuan menegakkan nilai kemanusiaan, namun di sisi yang lain penegakan hukum pidana justru memberikan sanksi kenestapaan bagi manusia yang melanggarnya. Dengan demikian, paradigma dalam hukum pidana sering menjadi perbincangan serius guna mencari konsep yang benar-benar menyentuh substansi hukum yang berkeadilan tanpa menafikan kepastian hukum dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang beradab.

Realitas tersebut tidak terlepas dari perkembangan main-set masyarakat—terutama para ahli hukum—dalam memandang realitas hukum dan kemudian mengkajinya. Perkembangan main-set tersebut di tangan para ahli menjelma menjadi suatu paradigma yang kemudian akan diikuti dan dikaji ulang oleh generasi penerusnya. Seolah-olah menjadi beban bagi generasi penerusnya untuk melakkan konstruksi kritis terhadap paradigma sebelumnya.[6]

Pergulatan paradigma lama dengan paradigma baru dalam keilman hukum tiada lain merupakan bentuk dari pencarian kebenaran dan keadilan yang memang menjadi tujuan hukum itu sendiri. Kegelisahan dan kekecewaan muncul ketika yang diperoleh hanya kebenaran dan keadilan relatif. Memang, kebenaran dan keadilan absolut tidak mudah diperoleh, kecuali dengan paradigma hukum yang benar. Manusia tidak boleh menyerah dan pasrah dengan kebenaran dan keadilan relatif. Perburuan harus terus dilakukan. Kualitas paradigma hukum pun perlu terus diperbaharui. Maka menjadi keniscayaan bahwa paradigma hukum terus berubah, bergeser dan berkembang. Dengan demikian paradigma hukum bersifat dinamis, bukan statis.
 
Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, penulis dapat merumuskan permasalahan dengan mempertanyakan sejauhmana pergeseran paradigma dalam ilmu hukum dapat memperngaruhi eksistensi hukuman mati dalam tatanan hukum Indonesia.
 
Pergeseran Paradigma Hukum Pidana: dari Retributif ke Restoratif

Paradigma normal yang dianut dalam hukum pidana Indonesia adalah paradigma keadilan retributif. Dalam pandangan Jan W. De Keijser dikatakan bahwa dalam mengkonsepsikan pemidanaan hanya yang bersalah yang dapat dipidana dan yang bersalah hanya dapat dipidana sebatas ganjaran atas kesalahannya. Menurut H.L.A Hart dikatakan bahwa restribusi dalam distribusi pemidaan adalah balasan yang setimpal atas tindak pidana. Dalam karakter retributivisme memberikan perlindungan kepada individu terhadap pemidanaan yang tidak proporsional dan tidak adil hanya untuk kepentingan kemanfaatan.

William Pompe berpendapat retribusi atas kesalahan merupakan justifikasi umum atas pemidanaan. Konsep retribusi didasarkan pada pemahaman atas intuisi kolektif yang dilengkapi dengan gangguan objektif tatanan moral dalam hubungannya dengan kesalahan pribadi pelaku tindak pidana. Tatanan moral sebagai tatanan atas keinginan bebas dari manusia yang terstruktur oleh hukum moral. Menurut Muladi teori retributif teologis dalam tujuan pemidanaan bersifat plural yang menganjurkan mengartikuasikan beberap fungsi sekaligus[7].

Dalam teori retributif [8]adanya kesalahan merupakan syarat yang paling utama dan dalam kaitannya terdapat pelanggaran-pelanggaran hukum yang dapat dipersalahkan terhadap pelaku. Substansi dari teori retributif adalah pidana pembalasan, hampir sama dengan konsep qishos dalam hukum pidana Islam. Teori ini memandang korban atau keluarganya mempunyai hak untuk memperlakukan terpidana sama seperti terpidana memperlakukan korban.

Seiring dengan perkembangan keilmuan hukum dan persentuhannya dengan berbagai ilmu sosial, muncul arus arus baru yang membawa gelombang paradigma keadilan restoratis. Restoratif dikemukakan oleh Howard Zehr sebagai penemu teori ini secara umum mengatakan bahwa kejahatan adalah pelanggaran terhadap manusia dan hubungan-hubungannya. Kejahatan menciptakan kewajiban untuk membuat keadaan-keadaan tersebut menjadi baik. Keadilan melibatkan korban, pelaku dan komunitas dalam rangka mencari solusi-solusi yang mengedepankan perbaikan, rekonsiliasi dan meyakinkan kembali.[9]

Dilanjutkan oleh Walgrave yang mengatakan bahwa teori keadilan restoratif adalah setiap perbuatan yang berorientasi pada penegakan keadilan dengan memperbaiki kerugian yang diakibatkan dari hasil tindak pidana. Teori ini menyatakan bahwa korban atau keluargannya dapat kembali pada keadaan yang semula seperti sebelum terjadi tindak pidana.  Teori ini berasal dari tradisi common law dan tort law yang mengharuskan semua yang bersalah untuk dihukum.[10]

Menurut teori ini pemidanaan meliputi pelayanan masyarakat, ganti rugi dan bentuk-bentuk lain selain pidana penjara yang membiarkan terpidana untuk tetap aktif dalam masyarakat. Keadilan restoratif mendeskripsikan keadialan sebagai paradigma yakni lensa untuk memahami realitas yang terlihat. Selanjutnya Kent Roach Keadilan restoratif sebagai bagian dari teori keadilan harus direkonsialisasikan dengan teori keadilan retributif dalam aplikasinya.[11]
 
Implikasinya dalam Pidana Mati
Dalam komunitas hukum maupun kalangan masyarakat umum, fenomena pro dan kontra tentang masalah pidana mati bukanlah hal yang baru. Meskipun bersifat temporer, polemik mengenai hal ini biasanya akan selalu muncul setiap kali ada penjatuhan pidana mati oleh pengadilan atau ada eksekusi terhadap putusan pidana tersebut.

Secara faktual, hukum pidana Indonesia masih menggunakan pidana mati karena dianggap masih efektif dalam mencegah terjadinya kejahatan-kejahatan yang dapat dikualifikasikan kejahatan berat. Hal itu dapat dilihat dari KUHP nasional yang masih menempatkan hukuman mati sebagai pidana pokok. Selain itu pada hukum pidana di luar KUHP juga terdapat sebagian yang menempatkan hukuman mati sebagai sanksi dari pelanggaran perbuatan tersebut. Faktor yang melatar belakangi masih digunakannya pidana mati sebagai saranan politik kriminal di Indonesia adalah bahwa hukuman mati memiliki tingkat efektifitas lebih tinggi dari ancaman hukuman mati lainnya karena memiliki efek yang menakutkan (shock therapi) disamping juga lebih hemat.

Implemantasi pidana mati di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari jiwa hukum pidana Indonesia sebagai sarana penjatuhan pidana terhadap pelanggaran yang terjadi terlepas dari apa tujuan pidana mati itu sendiri. Pada tahun 2008, Mahkamah Konstitusi melalui putusannya menyatakan bahwa penjatuhan pidana hukuman mati tidak bertentangan dengan konstitusi. Walaupun diwarnai dengan discenting opinion dan lingkup putusan yang terbatas dalam judicial review tindak pidana narkotika, namun putusan tersebut dipandang memiliki nilai keterwakilan atas pandangan masyarakat luas.

Beberapa tindak pidana yang tergolong sebagai tindak pidana luar biasa (extraordinary crime) seperti tindak pidana terorisme, narkotika, korupsi, maupun illegal logging dianggap pantas dijatuhi pidana mati. Bukan hanya karena modus operandi tindak pidana tersebut yang sangat terorganisir, namun ekses negatif yang meluas dan sistematik bagi halayak, menjadi titik tekan yang paling dirasakan mayarakat. Oleh sebab itu, sebagai langkah yuridis yang menentukan eksistensi keberlakuan pidana hukuman mati di Indonesia, apa yang dilakukan MK pada waktu itu mendapat apresiasi representatif.

Hukuman mati pada umumnya digunakan agar tidak ada eigenrichting dalam masyarakat. Secara teoritis, hukuman mati ini juga dianggap menimbulkan efek jera (detterent effect) sangat tinggi sehingga akan menyebabkan orang mengurungkan niatnya untuk melakukan tindak pidana, sehingga bisa dijadikan sebagai alat yang baik untuk prevensi umum maupun prevensi khusus. Eksistensi pidana mati tidak terlepas dari masih kuatnya fungsi pemidanaan yang menekankan pada aspek pembalasan—sebagaimana paradigma lama hukum pidana Indoneisa yang cenderung pada keadilan retributif—menjadikan pidana mati masih dipertahankan.

Alasan utama penjatuhan pidana adalah untuk menjamin kelangsungan hidup masyarakat dan untuk mencegah orang melakukan kejahatan. Kenyataannya, pidana mati tidak mampu mencegah kejahatan tetapi justru lebih mencerminkan sebuah kebrutalan. Seseorang tidak dapat mengorbankan kehidupannya sendiri, sehingga oleh karena itu tidak ada pula seorang pun yang dapat memberikan suatu kehidupan (hak hidup) ataupun kematian (hak mati) kepada sesamanya. Karena hidup adalah hak paling dasar yang dimiliki setiap manusia secara kodrati sebagai anugrah/pemberian Tuhan Yang Maha Esa.[12]

Demikian halnya keberadaan sebuah sanksi pidana, khususnya pidana mati, seringkali juga dipersoalkan dengan mengkaitkan efektivitas kemampuannya dalam menanggulangi dan mencegah kejahatan (terutama yang bersifat general prevention). Atas dasar ini seringkali orang kemudian mudah berpandangan bahwa jika tujuan keberadaan dan penerapan pidana mati antara lain misalnya adalah untuk mencegah terulangnya kembali kejadian kasus-kasus pembunuhan sadis dan berencana atau kejahatan serius lainnya pada masa mendatang (pasca penerapan pidana mati), maka apabila dalam fakta, kasus-kasus tersebut ternyata masih sering terjadi, berarti pidana mati tidak efektif dan perlu digugat justifikasi keberadaannya.[13] Meskipun tentang efektifitas pidana dan pemidanaan tersebut, Karl O. Christiansen pernah menyatakan bahwa hal itu hakekatnya merupakan Terra in Cognita, yaitu sebuah persoalan yang memang tidak dapat diketahui atau diukur secara pasti.[14]

Demikian halnya jika meminjam konsep maqasid syariah yang ada dalam hukum Islam—walaupun dalam hukum Islam terdapat qishos—yang membagikan skala prioritas menjadi tiga macam yakni dharuriah (primer), hajiayah (sekunder) dan tahsiniyah (tertier).[15] Dalam skala kebutuhan yang bersifat primer ada 5 prinsip yang menjadi kunci dari segala macam aktifitas hukum yang tidak boleh dilanggar:
Pertama, penjagaan agama (hifz} ad-din)Kedua, terjaminnya perlindungan hak hidup (hifz} an-nafs). Ketiga, terjaminnya hak atas pengembangan akal dan pemikiran (hifz} al-‘aql)Keempat, terjaminnya perlindungan hak atas kepemilikan harta benda (hifz} al-māl)Kelima, terjaminnya hak atas pengembangan jenis dan keturunan (hifz} an-nasb/nasl).

Jika dikaji dengan kacamata maqasid syariah, disana terdapat prinsip pemeliharaan terhadap hak hidup, realitas pidana mati yang ada di Indonesia menjadi suatu hal yang semakin dilematis. Demikian halnya dengan prinsip pemeliharaan terhadap keturunan. Ketika terpidana mati meninggalkan anak, lantas kemudian siapa yang akan menafkahi anaknya? Sebuah pertanyaan yang sejurus kemudian menempatkan pidana mati semakin terpojok.

Persinggungan hukum dengan keilmuan sosial menuntut hukum untuk tidak hanya terpaku pada aspek normatifitas-positifis yang pada tahap selanjutnya menjadikan hukum terkesan mengabaikan aspek HAM, nilai-nilai Agama, Budaya, dan aspek-aspek kemanusiaan lainnya. Di sinilah letak pengaruh pergeseran paradigma hukum pidana di Indonesia yang pada beberapa decade ini lebih cenderung menggunakan pendekatan restoratif, yang menilai sejauhmana hukum dapat efektif tanpa harus melakukan upaya represif yang terkesan untuk “balas dendam”.

Substansi hukum adalah untuk mewujudkan keadilan substantif, bukan sebagai ajang pembalasan. Dalam rangka memenuhi keadilan substantif tersebut, hemat penulis, perlu adanya upaya mengembalikan hukum itu pada tujuan yang benar-benar ideal; menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat tanpa melihat status dari masyarakat itu sendiri. Hukum dalam hal ini harus melihat sistem nilai yang ada dalam masyarat, bukan sistem politik.

Epilog
Pergeseran paradigma dalam kajian hukum dengan lebih mengupayakan paradigma keadilan substansaal yang dewasa ini termasnifestasi dalam bentuk restorstif memberikan dampak secara komprehensif terhadap penerapan dan penegakan hukum, khususnya dalam eksistensi hukuman mati yang semakin ditinggalkan karena dianggap melanggar sisi-sisi kemanusiaan yang paling krusial.

Namun demikian, transformasi pardigmatik pada tatanan hukum masih perlu untuk dikaji secara kontekstual. Dengan tidak menutup formula hukum bernafaskan keadilan substantif, merekonstruksi pemahaman modern terhadap fleksibelitas hukum itu sendiri. Sehingga akan menemukan pengertian, implementasi Hukum yang inklusif dan tetap elastis pada zaman modern saat ini yang banyak tersentuh dengan problematika sosial yang baru pula.

Akhirnya, apologia prolibro suo, tiada gading yang tak retak. Sebagai sebuah karya kreatif manusia, paradigma apapun harus selalu dikaji secara ktiris-inovatif guna ditemukan konsep yang lebih dapat menjawab preblematika sosial. Demikian hanya tulisan ini yang masih jauh dari kesempunaan. Penulis mengharap kritis-saran dari para pembaca yang budiman demi lebih baiknya tulisan-tulisan selanjutnya.


[1] Ritzer, 1996, dikutip oleh Sudjito, “Perkembangan Ilmu Hukum: dari Positivistik Menuju Holistik dan Implikasinya terhadap Hukum Agraria Nasional”, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 28 Maret 2007, hlm. 2.
[2] Ibid., hlm. 3.
[3] Ibid.,
[4] Ibid., hlm. 4.
[5] Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hlm. 1.
[6] Asumsi tersebut searah dengan pandangan Unger yang menyatakan bahwa Sudah menjadi rahsia umum bahwa pemikiran tokoh-tokoh besar meninggalkan beban bagi generasi sesudah mereka. Lacak Roberto M. Unger, Teori Hukum Kritis, (Bandung: Nusamedia, 2007), hlm. 1.
[7] Purwaning M. Yuniar, Pengembalian Aset Hasil Tindak Pidana Korupsi (Bandung: PT Alumni, 2007), hlm. 28-29.
[8] Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana (Bandung: PT Alumni, 2005), hlm. 17.
[9] Purwaning M. Yuniar, op.cit, hlm. 90.
[10] Ibid.,
[11] Ibid.,
[12] Cesare Beccaria dikutip oleh Soedarto, “Suatu Dilemma dalam Pembaharuan Sistem Pidana Indonesia”, dalam Kumpulan Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Hukum, UNDIP, Semarang, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 1994, hlm. 22.
[13] M. Abdul Kholiq, “Kontroversi Hukuman Mati Dan Kebijakan Regulasinya Dalam RUU KUHP (Studi Komparatif Menurut Hukum Islam)”, Jurnal Hukum, NO. 2 VOL. 14 APRIL 2007, hlm. 192.
[14] Karl O. Christiansen dalam Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, (Bandung: Citra Aditya Bhakti,  2002), hlm. 229.
[15] Yudian Wahyudi, Ushul Fikih Versus Hermeneutika: Membaca Islam dari Kanada dan Amerika, Cet. IV, (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2007), hlm. 45.

“GUS DUR TIDAK BOLEH MATI”()

Sebuah refleksi mengenang kepergian Gus Dur upaya membaca Gus Dus di mata seorang Fawaidurrahman (Penulis).

Oleh: Fawaidurrahman

Prolog

Greg Barton, sebagai mana dikutip oleh A. Gaffar Karim, menilai Gus Dur sebagai salah seorang pemikir Islam liberal di Indonesia, meskipun ia tidak pernah secara formal mengenyam pendidikan tinggi sekuler, seperti Nurcholish Madjid, dkk. Secara lebih lanjut Fachri Ali berpendapat bahwa dalam batas-batas tertentu, Gus Dur adalah agamawan dan pemikir yang paling liberal di Indonesia, dan belum tertandingi oleh Nurcholish Madjid.[1]

Gus Dur memang unik. Ia merupakan fenomena tersendiri dalam penampilannya sebagai seorang tokoh dari gerakan Islam tradisionalis. Bukan saja hanya pemikirannya yang sering dianggap liberal, tapi dia juga memiliki gagasan-gagasan yang sering menimbulkan kontrofersi.[2] Selain itu, yang turut mempengaruhinya yaitu dari segi kultural, Gus Dur melintasi tiga model budaya yaitu pesantren, Timur Tengah dan Barat.[3]

Jika dikaji lebih dalam, dunia pesantren sangat hierarkis, tertutup, penuh etika dan formal. Budaya Timur Tengah terbuka dan keras. Semantara, budaya Eropa (Barat) cenderung liberal, sosial dan sekuler. Dengan demikian, hemat penulis, telah terjadi “perkawinan silang” dalam ranah pembentuan kepribadian yang kemudian menyebabkan pendapat-pendapat Gus Dur terkesan berbeda dengan pendapat mayoritas.

Pada sisi lain,  budaya Timur yang santun, tertutup dan penuh basa-basi, dan budaya Barat yang terbuka, modern dan liberal juga dielaborasi oleh Gus Dur baik dalam pemikiran maupun kultur. Hal tersebut dapat dilihat pada pemahaman keagamaan dan ideologi Gus Dur yang sulit diidentifikasi apakah tradisional, ideologis, fundamentalis, modernis atau sekuler. Demikian halnya dalam hal pemikiran, apakah konservatif, ortodoks, liberal atau radikal. Akhirnya, jadilah pribadi Gus Dus selalu kelihatan dinamis dan “sulit dipahami.”

Namun demikian, Gus Dur merupakan sosok santri yang menjelma menjadi cendekiawan rakyat dan pemimpin politik yang sangat berpengaruh. Pengaruh itu bisa diraih karena pengetahuannya yang luas terhadap persoalan masyarakat dan pengetahuan agamanya yang mendalam serta kemampuannya untuk meramu pengetahuan tentang masyarakat dan agama itu menjadi pengetahuan baru yang kemudian menjadi kunci pembuka untuk memahami dinamika masyarakat dan solusi atas persoalannya.[4]

Sekilas tentang Pemikiran Gus Dur

Gus Dur memandang bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam), karenanya seperti konsep dasar agama Islam dalam apa yang disebut sebagai tujuan syariat (maqashid as-syari’ah) yang pertama hifz ad-din diterjemahkan dengan keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama.[5] Dalam konteks kebebasan beragama di Indonesia Gus Dur banyak menyorotinya jauh sebelum ia menjadi Presiden.

Selain itu, pembelaannya bisa dilihat bagaimana Gus Dur sering mengatakan bahwa umat Islam tidak boleh melarang umat agama lain mendirikan tempat ibadah. Dalam hal ini, Ia ingin menegaskan bahwa kita harus toleran dengan pemeluk agama lain, rukun, dan bahkan sering kerja sama.[6] Dalam kedekatannya dengan umat beragama lain, dapat dilihat dalam kebijakan pengakuan terhadap Kong hu cho, maupun kunjungannya ke Israel pada saat mayoritas umat Islam Indonesia kebakarang jenggot ketika mendengar nama Israel..[7]

Faktor kedekatannya dengan agama lain yang bersumber dari pemikiran yang ditransformasikan dalam sikapnya yang aneh bahkan nyleneh ini merupakan kasus yang menarik untuk dikaji, khususnya yang berkaitan dengan persoalan proses keagamaan dan kebangsaan yang tengah berlangsung dinegeri ini. Dalam hal agama kaitannya dengan konteks keindonesiaan Gus Dur melakukan pribumisasi Islam yang menurut Al-Zastrouw Ng merupakan upaya mendialogkan agama dengan realitas sosial, disaratkan adanya integrasi yang utuh antara agama dan kebudayaan, tanpa menghilangkan esensi dan ruh dari agama itu sendiri.[8]

Menurutnya, untuk membangun negara demokrasi haruslah dibutuhkan kesadaran dan keikutsertaan semua warga negara, yang itu berarti tanpa memandang perbedaan agama. Dan lebih jauh, ia mengatakan bahwa teologi diserahkan saja pada masing-masing agama dan keyakinan. Kerena hanya dengan begitu semua agama akan mampu memperjuangkan proses demokrasi secara bersama-sama.[9]

Berbagai hal yang dilakukan oleh Gus Dur terkait dengan kebebasan beragama dan demokratisasi telah banyak membawa perubahan di Indonesia. Pengakuan tersebut juga telah mengantarkannya pada penerimaan hadiah Magsaysay (Filipina) untuk Gus Dus. Hadiah tingkat Asia itu diberikan atas keberhasilan Gus Dur di bidang pengembangan toleransi dalam kehidupan beragama, peningkatan ekonomi kerakyatan yang berkeadilan, serta perjuangan peningkatan kehidupan demokrasi di tanah air.[10]

Secara lebih jauh, dalam tulisannya yang berjudul  “Kebebasan Beragama dan Hegemoni Negara”, Gus Dur memandang bahwa Pancasila adalah asas dari Nahdlatul Ulama, sedangkan Islam adalah aqidahnya.  Negara tidak harus berbentuk negara Islam, yang penting tidak bertentangan dengan agama Islam.[11] Dari pendapat inilah Gus Dur memandang agama secara historis mengisaratkan relasi kuasa antara agama dan negara memperlihatkan semacam hubungan simbolik dalam pemberian legitimasi. Proses pemberian legitimasi bisa dari agama atas negara, bisa pula dari negara atas agama.

Dalam hal ini Gus Dur lebih memilih pola hubungan antara agama dan negara terpisah, kerena masing-masing mempunyai otoritas tersendiri. Namun, negara harus memberikan jaminan yang konkret. Upaya Gus Dur dalam pemikiran dan politik menjadi peretas jalan penghubung antara masyarakat dan negara, dan pada saat yang sama berhasil mendamaikan hubungan agama dan negara melalui konsep Islam sebagai etika sosial, dan juga hubungan agama dan masyarakat melalui konsep pribumisasi Islam.[12]

Perjuangannya membela hak-hak agama minoritas diwujudkan dengan jalan dicabutnya Intruksi Presiden No. 14 Tahun 1967 oleh pemerintah mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang selanjutnya Ia menetapkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2000 tentang pencabutan instruksi presiden nomor 14 tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat cina. Dalam keputusannya, Ia menimbang bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan dan adat istiadat, pada hakekatnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hak asasi manusia.

Selain itu, bahwa pelaksanaan Intruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967tentang Agama, Kepercayaan, Adat Istiadat Cina, dirasakan oleh warga negara Indonesia keturunan Cina telah membatasi ruang-geraknya dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat. Dus, Intruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 perlu dicabut. Dalam keputusannya tersebut Ia beralasan bahwa Intruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967tentang Agama, Kepercayaan, Adat Istiadat Cina, bertentangan dengan Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945, dan juga bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.[13]

“Gus Dur Tidak Boleh Mati”

Gus Dur telah pergi. Kepergiannya mengandung pesan bahwa dia juga manusia yang ada kalanya datang dan pergi. Suatu ritual yang tidak dapat dipungkiri oleh Rasul sekalipun. Rasul boleh mati, tapi risalahnya harus tetap hidup. Demikian juga Gus Dur. Dia boleh saja mati, namun “risalah Gus Dur tidak boleh mati” dan harus tetap hidup untuk terus dikaji dan diolah demi menemukan sebuah konsepsi yang lebih bermuatan maslahah bagi kesejahteraan masyarakat akar rumput.

Gus Dur di mata penulis lebih sebagai sosok dekonstruktif yang selalu  meneriakkan spirit pembaharuan (al-ijad) dari pada sekedar tranformasi (al-Muhafadhah dan al-Akhdzu) sebagai manifetasi prinsip Islam Shalih fi kulli zaman wa makan. Oleh sebab itu, penulis sepakat dengan asumsi Muhaimin yang menyatakan bahwa pemikiran Gus Dur selalu mencerminkan hal-hal mendasar yang menjadi karakteristik Syariat Islam. Pertama, kepedulian keada kepentingan kemanusiaan dalam arti luas; kedua, watak dinamis yang melekat di dalamnya sebagai cerminan dari sifat ajaran Islam; ketiga, kesediaan untuk bersikap terbuka terhadap ajaran dan peradaban lain sebagai manifestasi kosmopolitanisme peradaban Islam.[14]

Dengan demikian, NU secara khusus dan umat Islam secara umum seharusnya menjadi muslim yang kuat (qowi) yang tidak mudah kaget dengan berbagai isu kontemporer ataupun ketika ada teori baru dari luar Islam. Kita harus beranjak dari konsep “al-Muhafadzah ‘ala al-Qodim al-Shaleh, wal-Akhdzu bil-Jadid al-Ashlah” menuju “al-Muhafadzah ‘ala al-Qodim al-Shaleh, wal-Ijad bil-Asya’ al-Anfa’ wal-Ashlah.

Dengan adanya perubahan prinsip tersebut penulis meyakini umat islam tidak hanya bisa melakukan the Islamication of Knowledge terhadap berbagai teori barat yang selama ini seringkali dilakukan oleh para alumni lulusan barat semisal Nur Cholis, Amin Abdullah, Ulil Abshar dan sebagainya. Melainkan lebih kepada upaya menciptakan teori baru yang lebih pure dari kreatifitas pemikiran umat Islam, yang tentunya tanpa adanya ekstrimitas penolakan terhadap teori barat.

Epilog

Akhirnya, apoligia pro libro suo, tiada gading yang tak retak. Gus Dur boleh mati. Tapi kematian Gus Dur bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari proses diaspora intelektual yang mencoba mamatahkan nalar positifis-logosentris. Wallahu A’lam.


[1] A. Gaffar Karim, Metamorfosis NU dan Politisasi Islam Indonesia, cet,ke-1, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan LKiS, 1995), hlm.97

[2] Abd. Rohim Ghazali, Gus Dur Dalam Sorotan Cendekiawan Muhammadiyah, cet,ke-1, (Bandung: Penerbit Mizan, 1999), hlm.79.

[3] Khairul Anam, Peran Politik Kiai NU di Tengah Krisis Multidimensional; (Study Kritis Terhadap Peran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Sebagai Presiden RI dan Kiai NU Dalam Konsistensi Pribumusasi Nilai-nilai Keislam, Skripsi S1 Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004. hlm.147.

[4] A. Muhaimin Iskandar, Gus Dur, Islam dan Kebangkitan Indonesia, cet,ke-1, (Yogyakarta: KLIK.R dan DPP PKB, 2007), hlm. 28.

[5] A. Muhaimin Iskandar, Gus Dur… hlm.14.

[6] Abd. Rohim Ghazali, Gus Dur …hlm.86.

[7] Ibid, hlm.79.

[8] M. Fajrul Falaakh, dkk, Membangun Budaya Kerakyaan: Kepemimpinan Gus Dur dan Gerakan Sosial NU, cet,ke-1, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997), hlm. 135.

[9] Ibid, hlm.368.

[10] Ibid, hlm.214.

[11] Komarudin Hidayat dan Ahmad Gaus AF (ed), Passing Over, Melintasi Batas Agama, cet,ke-3, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama dan Yayasan Wakaf Paramadina, 2001), hlm.166.

[12] A. Muhaimin Iskandar, Gus Dur,…hlm.25.

[13] Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2000 Tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, Dan Adat Istiadat Cina.

[14] A. Muhaimin Iskandar, Gus Dur,…hlm. 13

Menghidupkan Narasi Kecil Hukum Islam (Makelar Kasus dalam Kajian Maqashid Syariah)

Tulisan ini pernah diikutkan dalam Lomba LKTI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2010 (Harapan 1)

Oleh: Fawaidurrahman

KEY WORDS: Islam, Islamic Law and Cases Middleman.

Pendahuluan

Hukum Islam[1] yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah mencoba mengakomudir segala aktifitas manusia. Banyak terekam dalam lintas peradaban manusia upaya kontekstualisasi hukum Islam baik dilakukan oleh pemikir klasik maupun kontemporer. Namun demikian, upaya untuk menerjemahkan kembali nilai-nilai Islam yang memiliki prinsip rahmatan lil-‘alamin masih terlihat titik kelemahannya secara fundamental.

Di sisi lain, ada sebagian umat Islam yang mencoba menonjolkan hukum Islam sebagai entitas unik yang terpisah dari peradaban lain—termasuk di dalamnya local wisdom—dan menutup ruang untuk ditafsir ulang.[2] Hal tersebut mengakibatkan hukum Islam terkesan sangat mengerikan, jumud, statis dan eksklusif. Padalah jika melihat perjalanan panjang hukum Islam dari masa Nabi, Sahabat, Tabi’in hingga sekarang, hukum Islam lahir untuk menjawab problematika masyarakat pada masanya.

Tidak salah jika kemudian Umar bin Khatab tidak menggunakan hukum potong tangan sesuai dengan bunyi teks al-Quran ketika menghukum seorang pencuri, atau Imam as-Syafi’ie dengan Qoul al-Qadim dan Qoul al-Jadid, atau imam-imam lainnya yang seringkali berbeda baik dalam tatanan konsep maupun produk hukum. Perbedaan tersebut tiada lain hanyalah untuk mensinkronkan hukum Islam dengan ruang dan waktu yang sesuai dengan tuntutan kemaslahatan masyarakat di mana mereka hidup.

Di sinilah letak nilai-nilai kemanusiawian hukum Islam (The Humanism of Islamic Law), semua selalu terbuka untuk mendapatkan sentuhan baru dalam penafsiran, bahkan terhadap ayat-ayat khash dan qath’iy sekalipun jangkauan proses penalaran (Ijtihad) harus tetap memberikan sentuhan tafsir, sebagai bukti dari adanya slogan al- islam shaleh fi kulli zaman wa makan, bahwa Islam akan senantiasa mampu menciptakan sebuah solusi bagi problem masyarakat dimanapun dan kapanpun.[3] Oleh sebab itu, bagaimana mungkin hukum Islam akan dapat menjawab persoalan-persoalan kontemporer jika ruang untuk berijtihad terpasung oleh sumber hukum Islam yang ditulis beberapa abad yang lampau tanpa adanya proses kontekstualisasi maksud syari’ dengan kondisi sosial dimana problem masyarakat itu tumbuh dan berkembang.

Kendati demikian, problematika aktual dalam wacana sosial menuai kritik penalaran tekstualitas hukum Islam yang nampaknya dinilai masih ad hoc dan parsial. Akumulasi sistem hukum Islam keluar dari mekanisme asal yang semula terekam secara pasti di mayoritas negeri muslim. Kejanggalan yang bersifat struktural maupun kultural secara faktual membatasi ruang gerak hukum Islam asal yang sandaran tekstualitasnya masih berbentuk wujud klasikal. Selain itu, terdapat arah dukungan untuk memanifestasikan konsepsi Islam yang dipandang dapat terealisir tujuan hukum Islam yang sebenarnya. Teknik logika penerapan sosial pada gilirannya mereduksi kemampuan hukum dalam merespos secara positif terhadap polemik sosial tersebut yang tengah berlangsung dan relatif  berkembang.

Hukum Islam, dalam perangkat metodologi ulama’ klasik merepresentasikan sebagai produk pemikiran (ijtihad) yang di dalamnya bersumber suatu hukum yang mengakordinir aktivitas manusia (‘amaliyah) dengan bukti-bukti yang komprehensif (dalalah al-tafsiliyah). Dengan  ini, hukum Islam telah membatasi dirinya sebagai suatu hukum yang pasti dan bersumber dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunah Rasul (Al-Hadits). Namun, benarkah hukum Islam telah merespons aspek-aspek mendasar dalam aktivitas manusia?

Disinilah, kita akan melihat bagaimana hukum Islam selayaknya dibarengi dengan sentuhan kritis terhadap wilayah-wilayah metodologis (manhaj) dan implementasinya (istinbath ) dalam tataran sosial. Problem yang mendasar ini sebenarnya membawa dan menampilkan pemikiran kreatif dan produktif para ulama kontemporer. Sejurus dengan pemahaman ini, kisaran hukum islam terus disejajarkan dengan sikap fleksibelnya yang nyata dan daya pemahaman yang disesuaikan dengan keberadaan kondisi umat manusia.

Ritme Percaturan Hukum Islam di Indonessia[4]

Hukum Islam pada dasarnya merupakan manifestasi penerapan hukum (istinbath  al-ahkam) yang berbicara tentang eksoteris keagamaan yang bersifat praktis-aplikatif. Sebelum pembukuan dan transformasi hukum Islam dilakukan, penetapan hukum secara pasti (qath’iy) telah ditetapkan oleh (baca; dengan) Firman Allah dan Sabda Nabi. Dalam perkembangannya, aktivitas pencarian solusi hukum belum menemukan corak keragaman yang pluralistik dan dominan dalam menerapkan konsep reaktualisasi hukum. Karena sumber hukum terus menggunakan prinsip-prinsip sosial secara utuh dan global.

Upaya aktualisasi dalam istinbath hukum Islam, disadari atau tidak, telah menempuh kurun waktu relatif lama. Kesadaran ini pada awalnya memunculkan sindrom dalam merepresentasikan kualitas suatu produk hukum, dimana banyak hukum baru dianggap legitimatif jika didasarkan pada hasil ijtihad ulama klasik, terlebih pada produk hukumnya. Sementara, upaya mengemas kajian hukum secara rasional dengan menggunakan perangkat metodologis, modern dan aktual menyebabkan tendensi untuk mengakomodir pemahaman hukum Islam itu lebih lanjut. Sehingga tak salah, dewasa ini tumbuh pelbagai khilafiyah (perbedaan) baru di kalangan umat Islam. Pada satu sisi, terdapat ulama yang menyimbolkan variabel hukum Islam yang mengkorelasikan dengan nilai-nilai modernitas. Namun, di sisi lain, fakta kesejarahan yang menyentuh pada pemberlakuan hukum asal ulama klasik justru masih banyak direfleksikan oleh masyoritas umat muslim sebagai sumber referensi autentik (maraji’ al-ashliyah).[5] Bahkan, ada beberapa kelompok yang meneriakkan keharusan untuk menyandarkan hukum Islam terhadap al-Quran dan as-Sunnah secara tekstualitas.[6]

Percaturan kuasa makna antara ketiga kelompok di atas secara faktual masih menjadi alternatif dalam membebankan hukum Islam sebagai cabang syari’ah yang harus direaktualisasikan. Solusi yuridis yang diambil dalam pemaknaan hukum Islam dieksplanasikan dengan memunculkan kontrol wacana. Sehingga, penafsiran (interpretasi) hukum Islam lebih condong pada formula personalitas belaka, dengan tanpa mendominasi ketetapan hukum asal yang pada konsekuensinya, mangaburkan pandangan terhadap hukum Islam itu sendiri. Lebih dari itu, simbol hukum Islam yang adaptif tersebut, mengupayakan terpecahnya pluralitas metodologi istinbath hukum yang pada gilirannya merefleksikan disintegralitas ilmiah antar umat muslim.

Kalangan modernis lebih bersikap apriori terhadap perspektif hukum klasik. Keinginan untuk memberlakukan hukum islam dengan mengangkat pada pengamalan realitas sosial, menegasikan aspek kontekstualisasi dari pemahaman dan konstitusi hukum islam. Timbulnya problem dehumanisasi materialistik dan kurangnya sinergi keadilan pada ranah implementasi hukum Islam bersejajar dari deskripsi pemahaman mereka yang kabur dan ambigu.

Demikian halnya dengan kalangan tradisional yang terkesan memaksakan sebuah produk pemikiran hukum pada suatu masa tertentu dan pada seorang tokoh tertentu. Hal ini berimplikasi pada ketidak produktifan hukum Islam dalam menjangkau tuntutan masyarakat dengan pelbagai problem yang berbeda, ruang yang berbeda dan dimensi yang berbeda pula. Pemahaman seperti ini sejurus kemudian menimbulkan sebuah keyakinan bahwa memang ada upaya menghentikan laju ijtihad pada zaman pertengahan, bersamaan dengan adanya statemen pintu ijtihad tertutup—walaupun tidak ada kepastian tentang siapa yang menyatakan statemen tertutupnya pintu ijtihad tersebut. Seolah-olah, superioritas hukum Islam menjadi hegemoni ulama’ yang mengatasnamakan perwakilan seluruh umat Islam. Implikasi terburuk dari pemahaman ini menyebabkan maraknya taqlid buta dan fanatisme terhadap sutu mazhab tertentu dikalangan umat Islam.

Wal hal, jika kembali lagi bercermin kepada sejarah munculnya mazhab-mazhab dalam hukum Islam yang menjadi pijakan setiap umat Islam sekarang ini justu melibatkan interaksi-dialektis antara mazhab satu dengan yang lain. Tidak jarang terjadi kritik yang pada gilirannya memunculkan konsep dan hasil berbeda walaupun antara mereka masih ada relasi guru-murid. Jika para Imam Mazhab bisa, kenapa kita tidak?

Sementara di sisi lain, kelompok yang menginginkan kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah tidak kalah dalam mengambil peran dalam percaturan wacana hukum Islam ini. Mereka beranggapan bahwa umat Islam dewasa ini telah jauh meninggalkan sumber hukum Islam (al-Quran dan as-Sunnah), sehingga mereka menyerukan untuk kembali menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber otoritatif hukum Islam yang menutup ruang untuk ditafsir ulang. Kelompok ini seakan tidak peduli pada “islam yang hidup” di masa kini maupun dalam sejarah.

Memang, tidak dapat dipungkiri dan semua umat Islam Islam meyakini bahwa Al-Quran dan as-Sunnah menempati posisi otoritatif yang sangat tinggi dalam keyakinan Islam. Keduanya merupakan sumber tak terbatas bagi pemikiran tentang etika, moral, hukum, dan kearifan. Namun, jika didekati dengan komitmen intelektual dan moral yang keliru, parsial dan mengabaikan konteks, hal tersebut akan berkontribusi bagi proses kejumudan intelektual da etis—untuk tidak menyebutnya kemunduran dan kebusukan.[7]

Setiap masa mempunyai sejarah masing-maisng. Umat Islam tidak boleh terus dibayang-bayangi dengan retorika sejarah yang memang boleh sesuai pada zamannya tersendiri. Kita belajar dari proses hidup Umar bin Khatab yang bisa tampil berbeda. “Umar sangat praktis, realistis, fleksibel dan humanis dalam memecahkan masalah-masalah hukum.”[8] Dari sanalah kita harus berusaha untuk menciptakan konsep baru yang lebih menyentuh kemashlahan umat dari pada sekedar terjebak dengan normatifitas dan tekstualiatas belaka.

Makelar Kasus dalam Tela’ah Maqashid Syariah

Yudian Wahyudi mengasumsikan bahwa Maqashid Syariah, sebagai bagian dari ushul fikih, sebenarnya lebih merupakan metode dari pada doktrin (apalagi Slogan!).[9] Dengan pendekatan inilah hukum Islam menjadi tampak praktis, realistis, elastis, fleksibel dan humanis dalam menjangkau ranah paling sensitif dari problematika manusia modern yang demikian komplek.

Maqashid syariah tiada lain merupakan metode untuk melacak tujuan syari’ (Allah) dalam memberikan justifikasi terhadap permasalahan kemaslahatan manusia secara universal. Dalam hal ini maqashid syariah mencakup tiga skala prioritas berbeda tapi saling melengkapi dalam menjawab tuntutan zaman: al-dharuriyyah, al-hajiyyah dan al-tahsiniyyah.[10] Al-dharuriyyah merupakan prioritas paling pokok yang harus dipenuhi, dimana akan berakibat fatal tanpa terpenuhinya, mencakup penerapan Hukum Islam dalam lintas kemaslahatan berberdeda:

Pertama, penjagaan agama (hifdz al-din). Terjaminnya hak atas tegaknya agama dan kebebasan beragama harus menjadi keharusan bagi umat manusia. Karena dengan agama inilah, yang dapat membedakan manusia dengan hewan. Bagaimana Islam telah meletakkan dasar pemahaman kepada manusia dalam kebebasan beragama, sesuai dengan firman Allah Swt.: laa ikraaha fi al-din qad tabayyana al-rusydu min al-ghayyi (tiada paksaan untuk masuk ke suatu agama….)[11]

Kedua, terjaminnya perlindungan hak hidup (hifdz al-nafs). Kasus-kasus pelanggaran HAM di atas otoritas kekuasaan dan birokrasi sudah banyak dipublikasikan di media massa. Selain kasus GAM dan TNI, kasus Timor Leste juga menjadi keprihatinan sendiri bagi masyarakat yang telah banyak menelan korban sipil tak berdosa, terlantarnya anak-anak yatim piatu, dan terjangkitanya busung lapar, ataupun hak-hak asasi manusia lain seperti hak bekerja, hak berpendapat, hak berfikir, seperi kasus Ahmadiyah, Al-Qiyadah dan sebagainya.

Dengan terjadinya kasus tersebut, aplikasi mashlahah terutama perlindungan hak hidup harus benar-benar direalisasikan oleh pemerintah. Termasuk dalam katagori pemeliharaan jiwa adalah perlindungan kehormatan, perlindungan kemanusiaan, larangan menuduh zina (penghinaan), dan hal-hal lain yang terkait dengan martabat kemanusiaan.

Ketiga, terjaminnya hak atas pengembangan akal dan pemikiran (hifdz al-‘aql). Prinsip ini mencoba melindungi pemeliharaan hak atas kebebasan berfikir, berpendapat, dan sebagainya. Islam melalui konsep mashlahah ini mampu memelihara akal sebagai salah satu hal yang penting di tubuh manusia yang ditunjukkan dengan adanya perubahan masa jahiliyah ke masa keemasan. Dengan demikian, pemerintah Indonesia seharusnya mempertimbangkan katagori mashlahah ini dalam struktur yuridis dalam rangka menjaga kelangsungan akal manusia yang sehat.

Keempat, terjaminnya hak atas pengembangan jenis dan keturunan (hifdz  al-nasb/nasl). Kasus aborsi dan kekerasan rumah tangga yang tidak sesuai dengan syari’at Islam saat ini sudah banyak terjadi di mana-mana. Kasus tersebut setidaknya harus menjadi pandangan utuh dari pemerintah yang nota bene mempunyai tanggung jawab terhadap perlindungan tersebut.

Kelima, terjaminnya perlindungan hak atas kepemilikan harta benda (hifdz al-mal). Tidak jarang ditemukan akhir-akhir ini adanya perampokan, eksploitasi sumber daya alam semisal hutan, dan kasus yang paling sistemik sekalipun; korupsi dan makelar kasus (markus).

Dengan konteks makelar kasus, dengan maqashid syariah diharapakan dapat melakukan proyeksi non-penal, disamping juga upaya penal tidak kalah penting untuk diketatkan prihal penegakannya. Dengan memasukkan konsep mashlahah dalam berbagai keputusan dan kebijakan hukum, pemerintah dapat dengan mudah mencari problem solving akurat dalam menjamin adanya hak kepemilikan harta benda tersebut.

Allah memberi hak kepada manusia untuk memiliki harta yang sah dan halal. Karena, Allah sendiri yang nantinya akan meminta pertanggung jawaban kepada seluruh umat manusia yang mempunyai harta benda sekecil apapun (Q.S. 2:107; Q.S. 3:189; Q.S. 57:7,10, dan sebagainya), yang semuanya itu merefleksikan pembinaan dan pencapaian kemashlahatan manusia di dunia dan  akhirat.

Memberantas Markus: Menghidupkan Narasi Kecil

Maraknya makelar kasus di Indonesia secara tidak langsung telah mencoreng wibawa hukum yang memang menjadi aspek paling mendasar dari suatu Negara yang berasaskan Negara hukum. Selama ini hukum di Indonesia hanya berprinsip teguh terhadap keadilan yang sifatnya prosedural bukan keadilan substansial. Dalam hal ini, keadilan prosedural merupakan keadilan yang mengacu pada bunyi undang-undang an-sich. Sepanjang bunyi undang-undang terwujud, tercapailah keadilan. Terlepas secara materiil keadilan itu benar-benar dirasakan adil secara moral dan kebajikan (virtue) bagi banyak pihak atau tidak. Para penegak keadilan prosedural tidak memedulikannya. Mereka, para penegak keadilan prosedural itu, biasanya tergolong kaum positifistik dan tidak melihat betapa masyarakat tidak merasakan keadilan yang sejatinya hukum merupakan sarana mewujudkan keadilan yang tidak sekedar formalitas.

Banyak kasus-kasus yang beberapa dekade belangan ini mewarnai pewartaan media terkait dilema keadilan hukum. Sebut saja semisal kasus Ibu Minah dengan Semangkanya, atau kasus Prita—walaupun sudah dibebaskan dari gugatan—serta kasus-kasus lainnnya. Bahkan yang masih hangat diperbicangkan di media saat ini yang tiada lain adalah Isu Makelar Kasus yang melibatkan pelbagai pihak, baik jaksa, hakim, lawyer dan sebaainya.

Problem makelar kasus ini merupakan bagian kecil dari sindroma penegakan hukum di Indonesia yang memang menggrogoti wibawa hukum. Hal ini sejurus kemudian berpengaruh pada timbulnya rasa pesimistis masyarakat terhadap kesucian hukum itu sendiri. Sebab, pada ranah praktis, makelar kasus biasanya berbentuk transaksi jual beli kasus untuk kepentingan salah satu pihak oleh pihak-pihak tertentu. Kondisi seperti ini sangatlah mengancam substansi hukum yang bertujuan menciptakan keadilan tanpa pandang status.

Dengan maraknya makelar kasus, seolah-olah hukum di Indonesia tak ubahnya barang lelang yang dapat dimiliki oleh orang yang mampu membayar mahal. Sementara yang tidak beruang, hukum tidak akan pernah singgah kepadanya. Realitas ini merupakan kejahatan yang luar biasa. Tidak mudah untuk mengupas tuntas problem ini sampai ke akar-akarnya, sejauh pemahaman kita tentang hukum masih terjebak dengan legal-formal, halal-haram, atau hal-hal yang hanya mengandung unsur hitam-putih.

Di sinilah hukum Islam yang berpredikat sebagai designer terhadap tatanan sosial umat Islam yang mengisi ruang mayor di Indonesia harus mengambil peran. Sebab, walaupun hukum positif Indonesia bukanlah hukum Islam, hukum Islam juga menjadi salah satu sumber hukum yang kemudian bertranformasi menjadi nilai etik (moral) yang mengkontrol aplikasi hukum nasional.

Makelar kasus dalam tinjauan hukum Islam jelas tidak diperbolehkan. Hal  ini diqiyaskan dengan proses suap-menyaup yang dalam surat al-Baqarah: 188

dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.”

Demikian halny hadis Nabi memberikan ancaman neraka bagi pelaku suap, arrasyi wa al-murtasyi fi an-nar Demikian halnya dengan konsep maqashid syariah yang secara tidak langsung mengisyaratkan penggunaan harta sebagaimana mestinya. Dengan demikian, tidak perlu ditanya lagi perihal hukum Islam menanggapi isu makelar kasus. Namun, bagi penulis hukum yang demikian adalah “narasi besar” hukum Islam yang selama ini mewarnai dunia alam sadar umat Islam.

Umat Islam harus berani keluar dari bingkai narasi besar tersebut, agar supaya hukum Islam tetap menjadi ruh hukum nasional tanpa terjebak dengan ekstrimitas diberlakukannya syariah Islam di altar bumi nusantara ini. Di sinilah perlunya menghidupkan “narasi kecil” hukum Islam yang selama ini terabaikan oleh umat Islam di Indonesia. Narasi kecil ini yang akan menjadi perbaikan dari dalam individu dengan menitik beratkan pada pembangunan moralitas kesadaran hukum.

Aplikasi dari narasi kecil hukum Islam dalam konteks keindonesiaan, dapat menghidupkan kesadaran perbaikan moral dalam pribadi masyarakat Indonesia yang mayoritas umat islam. Sebab, menurut Aquinas mengasumsikan, dinamika hukum tergantung pada moralitas  masyarakat dimana hukum itu tumbuh-berkembang.[12] Moralitas masyarakat dalam hal ini tidak hanya masyarakat akar-rumput. Lebih dari itu, cakupan masyarakat dalam menopang penegakan hukum melibatkan para penegak hukum, baik polisi, advokat, jaksa serta seluruh elemen. Sebab, sebuah reformasi tidak akan lahir hanya dari satu aspek. Dalam hal ini minimal ada tiga (3) dimensi yang harus mendapatkan sentuhan reformasi moralitas demi terciptanya kesadaran untuk hormat-patuh terhadap hukum yang berlaku; substansi hukum, struktur hukum dan kultur hukum.[13]

Ketika dimensi tersebut dapat menjangkau nilai moralitas, penulis yakin kesadaran hukum masyarakat Indonesia akan tergugah. Sebab, menurut Satjipto Rahardjo wibawa hukum secara psikologis berpengaruh terhadap orang-orang yang ada di bawah hukum itu sendiri untuk menghormai hukum itu sendiri.[14] Dalam hal ini, wibawa hukum tidaklah terletak dalam kekuasaan pemerintah yang menciptakannya, melainkan lahir dari moralitas masyarakat yang peka terhadap kondisi sosial yang sehat.

Wibawa itu ada pada hukum itu sendiri. Sebab, pada prinsipnya hukum mengatur dan membimbing kehidupan bersama manusia atas dasar prinsip keadilan (yang sebagian diambil dari norma kesusilaan dan sebagiannya diambil dari norma agama). Sebaik apapun suatu sistem tanpa ditopang/didukung oleh individu yang baik pula, idealisme untuk menciptakan keadilan hukum substansial hanya akan menjadi misionis-utopis.


Penutup

Transformasi sistem nilai dalam praktek hukum Islam masih perlu untuk dikaji secara kontekstual. Dengan tidak menutup formula hukum formal, merekonstruksi pemahaman modern terhadap fleksibelitas hukum, serta perlunya menghidupkan narasi kecil hukum Islam yang selama ini terabaikan. Sehingga kita akan menemukan pengertian, implementasi hukum yang adaptif dan tetap elastis pada zaman modern saat ini yang banyak tersentuh dengan problematika sosial yang lebih menyentuh ruang kesejahteraan umat.

Dengan demikian, hukum akan tampak lebih berarti guna apabila ia dibiarkan hidup berkembang bebas di masyarakat, menjadi etika, sarana kontrol, dan pembebasan, serta emansipasi sosial, dan bukan sebaliknya. Sehingga, yang tercipta adalah hukum yang memang menyejarterakan rakyat dan tidak terjebak dengan faktor legal-formal terlebih self-interest yang dapat mencoreng wibawa hukum itu sendiri.

Akhirnya, apologia prolibro suo, tiada gading yang tak retak. Sebagai sebuah karya kreatif manusia, tulisan ini masih jauh dari kesempunaan. Dengan demikian, penulis mengharap kritis-saran dari para pembaca yang budiman demi lebih baiknya tulisan-tulisan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Agger, Ben. Teori Kritik Sosial: Kritik, Penerapan dan Implikasinya. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2008.

Ali, Muhammad. Teologi Plural-Multikulturalisme. Jakarta: Kompas, 2003.

As-Sikhawi, Syamsuddin Muhammad. Al-Maqosid al-Hasanah. Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1987.

El Fadl, Khaled Abou. Selamatkan Islam Dari Muslim Puritan, trj. Helmi Mustofa, (Jakarta: Serambi, 2006.

Kamali, Mohammad Hashim. Principles of Islamic Jurisprudence. UK: The Islamic Texts Society. Cet. III, 2003.

Najib, Agus Moh. dkk.. Gerakan Wahabi di Indonesia: Dialog dan Kritik. Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009.

Raharjo, Sadjipto. Hukum dan Perubahan Sosial. Bandung: Alumni 1999.

Ujan, Andrea Ata. Filsafat Hukum: Membela Hukum, Membela Keadian. Yogyakarta, Kanusius, 2009.

Wahyudi, Yudian. Ushul Fikih Versus Hermeneutika: Membaca Islam dari Kanada dan Amerika. Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, cet. IV. 2007.

_______________. Maqashid Syari’ah dalam Pergumulan Politik: Berfilsafat Hukum Islam dari Harvard ke Sunan Kalijaga. Yogyakarta: Persantren Nawesea Press, cet. III, 2007.

_______________. The Slogan “Back to the Qur’an and the Sunna” as Ideal Solutions to the Decline of Islam in the Modern Age. Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2007.

Zahrah, Muhammad Abu. Ushul Fiqh. Bairut: Dar al-Fikr, 1985.

Zahro, Ahmad. Tradisi Intelektual NU. Yogyakarya: LkiS, 2004.


[1] Dalam hal ini penulis lebih mengorientasikan penggunaan hukum Islam kepada hal-hal yang terkait langsung dengan perbuatan manusia secara spepsifik-aplikatif, dari pada penggunaan hukum Islam yang seringkali dikaburkan dengan istilah Syariah yang menurut Abu Zahrah merupakan Titah (khitab) Syari’ yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf, baik berupa tuntutan, pilihan atau wadh’i. Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, (Dar al-Fikr, 1985), hal. 26.

[2] Asumsi ini searah dengan pemikiran Muhammad Ali tentang watak muslim klasik di Indonesia. Lihat, misalnya, Muhammad Ali, Teologi Plural-Multikulturalisme, (Jakarta: Kompas 2003) hal. 81.

[3] Hal ini searah dengan apa yang dilontarkan oleh Mohammad Hashim Kamali, Principles of Islamic Jurisprudence, (UK: The Islamic Texts Society, Cet. III, 2003) hal. 34.

[4] Dalam kajian ini, penulis mencoba keluar dari perbedatan tentang tarik-ulur antara hukum Islam dengan adat yang dimainkan pada masa kolonial sampai Hasbi dan Hazairin. Walaupun masih ada implikasinya hingga sekarang. Penulis lebih cederung mencoba melakukan dekripsi dan analisa singkat terhadap dikotomi kecenderungan arah pemikiran hukum umat Islam di Indonesia.

[5] Realitas semacam itu dapat diamati dalam proses penetapan hukum yang diakukan oleh Lajnah bahtsus masail yang cenderung hanya mendasarkan pada produk hukum ulama’ klasik tanpa upaya mengkontekstualisasikan dengan kondisi kekinian. Telusuri, Ahmad Zahro, Tradisi Intelektual NU, (Yogyakarya: LkiS, 2004), hal. 167.

[6] Kelompok ini kian hari kian berkembang pesat di Indonesia yang pada mulanya berawal dari “kelompok serambi mesjid” hingga tanpa terasa telah berdiaspora menjadi “kelompok serambi Indonisa”.  Terkait pola gerak kelompok ini lebih detailnya lacak Agus Moh. Najib, dkk., Gerakan Wahabi di Indonesia: Dialog dan Kritik, (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009) hal. 291. Kelompok ini dikenal dengan slogan “back to the Qur’an and the Sunna” yang memang dalam catatan sejarah di Indonesia sudah berkembang sedari dulu. Sebagai bahan perbandingan baca juga Yudian Wahyudi, the Slogan “Back to the Qur’an and the Sunna” as Ideal Solutions to the Decline of Islam in the Modern Age, (Yogyakarta, Pesantren Nawesea Press, 2007). Dalam buku ini dijelaskan secara komprehensif bagaimana seluk-beluk tentang kelompok ini sekaligus mengungkap maneuver politik dengan diusungnya slogan tersebut.

[7] Hal tersebut dapat dilihat misalnya dengan kajian Al-Quran dan as-Sunnah yang memuat semangat pemberdayaan perempuan, sementara disisi lain ada pula seolah merendakan perempuan. Atau dengan adanya isu makelar kasus yang memang tidak ada Nash pun yang menyinggungnya secara tektual. Jika tidak ada upaya kontekstualsasi dengan melihat mencoba mensinkronkan maqashid dari suasana yang melingkupi suatu teks dengan nilai-nilai mashlahah, yang tampak jusru keusangan dari teks-teks itu sendiri. Asumsi ini searah dengan teori otoritatif dan otoritarianisme Abou El Fadl yang mengisyaratkan bahwa hukum Islam mesti menjadi sarana perwujudan rahmat dan kasih saying Tuhan bagi semua manusia. Baca, Khaled Abou El Fadl, Selamatkan Islam Dari Muslim Puritan, trj. Helmi Mustofa, (Jakarta: Serambi, 2006). Hal. 178. Untuk keterangan yang lebih komprehensif terkait permasalahan ini, baca keseluruhan bukunya.

[8] Menurut Prof. Yudian Wahyudi, Umar mampu tampil seperti itu karena—secara tidak langsung—maqashid Syariah dijadikan sebagai metode yang sayangnya dimensi tersebut hilang dalam perjalanan sejarah, yang mengakibatkan maqashid Syariah lebih menjadi doktrin. Baca Yudian Wahyudi, Maqashid Syari’ah dalam Pergumulan Politik: Berfilsafat Hukum Islam dari Harvard ke Sunan Kalijaga,(Yogyakarta: Persantren Nawesea Press, cet. III, 2007) hal. 12.

[9] Yudian Wahyudi, Maqashid Syariah , hal. 12.

[10] Yudian Wahyudi, Ushul Fikih Versus Hermeneutika: Membaca Islam dari Kanada dan Amerika, cet. IV, (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2007), hal. 45.

[11] QS. Al-Baqarah: 265.

[12] Lacak Andrea Ata Ujan, Filsafat Hukum: Membela Hukum, Membela Keadian, (Yogyakarta, Kanusius, 2009) hal. 159.

[13] Asumsi ini dibangun berdasarkan opini hukum Friedmen yang penulis dapatkan dalam www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=49326:-makelar-kasus-vs-makelar-peradilan&catid=78:umum&Itemid=139 yang ditulis oleh  Richard Hamonangan Saragih pada 14-januari-2010.

[14] Sadjipto Raharjo, Hukum dan Perubahan Sosial, (Bandung: Alumni 1999) hal. 78.

By Fawaidurrahman Posted in Fikih

Bahasa Diam

bicara hanya melahirkan kemunafikan

sepanjang pengembaraan tanpa sebait risalah sepi

senantiasa membisikkan kekalutan tanpa sudah

bagai anak panah yang siap menancap ke ulu hati

adakah yang lebih berlian dari kesunyian

saat pecahan kaca mengaduh menghempas keputusasaan

inikah pembaringan abadi keresahan

pelarian para pecundang yang tersingkir dari runcing zaman

hingga terasing ke dalam rimba kenistaan namun,

bahasa diam tetap saja diluar kenyataan

sampai aku terjaga pada sebuah masa yang tak pernah aku kenal sebelumnya

bernama alam durjana

alam kegelapan: Kehancuran

By Fawaidurrahman Posted in Sastra

Risalah Badai

(cerpen ini ditulis tahun 2007)

karya: Fawaidurrahman

“Terserah kau mau pergi dariku atau tidak, yang pasti aku tak ingin berkorban untukmu. Dan jika kau masih ingin jadi kekasihku, jangan harap aku akan mencintaimu dengan tulus. Sebab kini aku lebih cinta kepada diriku sendiri.”

Kata-kata itulah yang sering membuat wanita-wanitaku pergi dariku. Karena aku memang tak ingin lagi berkorban demi cinta yang sesaat. Setelah dulu aku dikhianati oleh cinta itu sendiri.

Dulu, beberapa kali aku pernah bercinta dengan segenap perasaan dan penuh pengorbanan, hingga aku mencintai melebihi apa yang bisa aku pahami tentang hakikat hidup. Tapi apa yang dia berikan padaku? Cinta suci? Kasih sayang? Tidak! Tapi sebuah penghianatan yang sakitnya tak bertepi.

Sekarang aku tak percaya lagi dengan adanya cinta sejati seorang wanita. Ia hanya membuatku terasing dari kesenyataan hidup. Maka kini, wanita bagiku hanyalah lahan subur yang sangat asyik untuk bercocok tanam.

Maafkan aku wanita, aku tak bisa lagi memberikan cintaku padamu dan memang engkaulah yang telah membuatku kehilangan rasa untuk mencintai. Dulu aku memang bisa memberikan cintaku untukmu. Tapi kepadaku kau berikan topan yang kemudian menghantam pondasi hidupku. Pun waktu itu aku terhempas menghantam bebatuan di curam terjal. Yang jelas tampak semakin lungkrah dan kumuh dipertengahan abad. Hingga waktu itu pun aku merasa bahwa cinta telah mati; terbunuh cinta itu sendiri.

***

Kini purnama ketiga cengengesan di langit pencakar jingga, setelah sebelumnya kau kembali merayu; tak semua wanita seperti itu, buktinya aku. Aku beda dengan Mawar, Melati, dan mereka-mereka yang telah memberikan duri dalam kehidupanmu. Aku akan membahagiakanmu, mencintaimu seadanya dan menemanimu dalam suka dan duka, selamanya.

Ah, tidak usah semadu itu wanita. Aku sudah terlalu sering mendengar kata-kata orang rada-rada sakit kepala seperti itu. Telingaku gatal mendengarnya. Walau demikian, aku masih bisa memberimu kehangatan dan melayanimu dengan sepenuh nafsu. Karena cintaku padamu telah mati beberapa kurun waktu yang lalu dan yang tersisa kini hanyalah nafsu, nafsu dan nafsu.

Apalagi setelah beberapa saat yang lalu Ibu berceramah padaku; nak, walau Ibu seorang wanita, jangan sampai engkau mencintai seorang wanita melebihi rasa cintamu kepada Tuhan, orang tuamu dan dirimu sendiri. Karena ketika suatu saat wanita itu meninggalkanmu, sakitnya pun tiada bertepi. Bisa-bisa membuatmu mati karenanya. Seperti yang dialami Ayahmu waktu ditinggal Ibu.

Sekali lagi maafkan aku wanita. Aku hanya bisa memberimu nafsu, tanpa memberimu cinta. Karena setiap fajar menyingsing, rerumputan yang berdzikir dan sepoi angin malam seakan hanya membisikkan satu hal padaku; PERSELINGKUHAN SEUTUHNYA.

Bagiku kini, mencintaimu hanyalah sebuah kemunafikan yang berujung pada keterasingan. Karena ketika aku mencintaimu dulu, aku seperti kehilangan jati diri. Aku menjadi sangat hina dengan tunduk pada keindahan cinta yang sesaat. Bahkan, kau telah membuatku lupa bahwa aku punya Tuhan yang wajib aku cintai di atas segalanya. Untung Tuhan Maha Pengampun dan Penyayang.

Wanita, dari awal penciptaan, dirimu telah mampu menyesatkan para lelaki dan menjerumuskannya ke jurang tipu daya. Buktinya Hawa. Nenek moyangmu. Dialah penyebab keterjerumusan Adam ke dalam tipu daya setan, lewat rayunnya untuk memakan buah khuldi. Pun akhirnya Adam dibuang dari surga yang kemudian terdampar di alam dunia yang penuh dengan kerusakan ini.

Ya, engkau memang biang kerok segala keterasingan. Bayangkan saja, seandainya nenek moyangmu itu tidak merayu Adam untuk memakan buah khuldi, Tuhan pasti tidak akan marah dan tidak akan mengusirnya dari surga. Kita pun akan menikmati indahnya kehidupan surga.

Demikian juga dalam pertikaian antara Qobil dan Habil. Lagi-lagi kau menjadi penyebab terjadinya peristiwa tersebut. Kedua anak Adam itu mencoba saling membunuh hanya karena memperebutkanmu. Akhirnya, terjadilah pembunuhan untuk yang pertama kali. Darah mengalir dari tubuh Habil, petanda kematiannya. Setelah kejadian itu, darah-darah banyak mengalir menggenangi permukaan bumi.

Dari itu semua, kini aku—layaknya anak Adam—tak ingin terasing dari diriku sendiri. Apalagi setelah beberapa kali kau mencakar dan mengoyak hatiku dengan perselingkuhan yang kau lakukan di depan kedua mataku. Maka semakin sirnalah rasa cintaku padamu.

***

Namun, cinta tetaplah cinta. Walau dipaksa untuk tidak jatuh cinta, akhirnya aku pun jatuh cinta lagi. Sesaat memang indah, tapi ketika hari itu datang. Sebuah hari pengasingan, hari di mana bom-bom meledak memporak-porandakan seisi hidupku, hari di mana aku menjadi orang yang tersingkir dan terbuang; katika seorang wanita mengirimiku badai yang kemudian melemparku jauh ke liang pengasingan: Saat kau datang lagi berwujud kupu-kupu dan hinggap di pundakku. Lalu kau bawa aku terbang ke kayangan tiada bertepi setelah menaburi sayapmu dengan beribu bunga bermekaran yang diambil dari sorga loka. Angin pun berbisik lirih di telingaku tentang badai yang sebentar lagi datang bersama kupu-kupu yang melambai lekat di mukaku.

Sampai aku tersadar, aku sudah diasingkan dari tempat suci yang selama ini kubangga-banggakan, kuagung-agungkan, kini telah kutorehkan arang berlumur darah pada keagungan itu.

Oh wanita, kau corengkan arang berbara ke wajahku hingga aku jadi seperti ini; terhina dan terasing dari hakekat hidupku yang selama ini kuperjuangkan untuk selalu meneteskan norna-norma. Lihatlah…! Kini aku hancur berkeping-keping. Bersama itu pula, segala perasaanku padamu—entah itu cinta atau pun nafsu—hancur lebur, mengiringi lumatan badai yang kau kirimkan padaku. Aku mati rasa.

Duba el-Tsani, 2007

By Fawaidurrahman Posted in Sastra

Islam-phobia & Klaim Terorisme (Membendung Arogansi, Menuju Dialog Antar Agama)

Naskah Nominasi Lomba Esai Mahasiswa Nasional

oleh: Fawaidurrahman

Semua agama mengajarkan untuk selalu menghormati-menghargai agama lain. Sebab, hidup dengan memeluk agama tertentu adalah pilihan yang sifatnya privasi karena terkait langsung dengan kayakinan masing-masing individu. Tidak ada satu agamapun yang mengajak pemeluknya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap agama lain. Oleh sebab itu, esensi agama adalah ajaran hidup untuk saling mengasihi. Agama secara sosial, berfungsi sebagai control bagi terjadinya distorsi akhlak, budi pekerti dalam masyarakat. Korupsi, penindasan, kemiskinan, kemaksiatan, kekerasan dan tindakan-tindakan amoral yang berimplikasi sosial dianggap abnormal dan sangat bertentangan dengan nilai agama yang menjunjung tinggi terhadap pri-kemanuisaan dan keluhuran moral. Demikian halnya dengan isu terorisme yang acap kali dialamatkan kepada agama, terlebih kepada agama Islam. Klaim tersebut sangatlah bertentangan dengan cita-cita agama di atas.

Jika lebih spesifik dikaji dari perspektif keislaman, klaim tersebut secara implisit sangat tidak sesuai atau bahkan telah mencoreng nilai universalitas Islam sebagai Islam yang mengusung jargon rahmatan lil-‘alamin. Dengan jargon yang kemudian menjadi prinsip hidup tersebut, tidaklah mungkin Islam mendorong untuk melakukan tindakan-tindakan represif yang secara sosial dapat mengancam atau bahkan menyengsarakan orang lain.

Namun demikian, seringkali manusia—umat muslim khususnya—tidak dapat menangkap pesan rahmatan lil-‘alamin tersebut ketika nilai-nilai dalam Islam yang bersumber dari wahyu mencoba dimanifestasikan dalam kehidupan sosial yang berakibat pada pemaksaan tafsir dari masing-masing kepala. Ironisnya, tafsir tersebut seringkali diklaim sebagai kebenaran utuh dan tunggal, dengan menafikan tafsir-tafsir lain. Padahal tidak ada kebenaran yang utuh dan tunggal. Kebenaran selalu berjalin-kelindan antara satu dengan yag lain, bagai benang yang mencoba dirajut menjadi kain.

Menurut Qodri A. Azizy (2003), Islam tidak hanya tegak dalam posisinya sebagai agama an sich akan tetapi sebagai bangunan dari sebuah peradaban yang cukup besar yang menyentuh empat dimensi kehidupan manusia, yakni ubudiyah (berkaitan dengan persoalan ibadah), ahwal al syakhsiyah (keluarga), muamalah (masyarakat) dan siyasah (negara). Nabi Muhammad SAW sendiri yang mendapatkan “titah dari Tuhan” ditugaskan untuk membawa empat dimensi tersebut dalam menciptakan rahmat bagi seluruh semesta alam. Sehingga sosok Nabi, tidak hanya sebagai seorang pemimpin agama akan tetapi juga sebagai “aktivis” perubahan sosial dan pendobrak ketidakadilan.

Berangkat dari pemahaman tersebut, dianggap perlu untuk mencari format pemahaman terhadap Islam yang progresif, humanis dan dialektik. Karena menjadi tugas manusia sebagai khalifah fil ‘ardh dalam mengejawantahkan agama sebagai “ikon pembebas” yang bertanggungjawab terhadap kemaslahatan bumi. Bukan sebaliknya, agama sebagai pemicu konflik perang, bom, kekerasan, serta pemandangan “tak sedap” lainnya. Dengan corak agama seperti ini, Tuhan sebagai “Kekuatan Tiada Tara” tidak hanya akan menjadi Tuhan Langit (ilah al-samawat) tetapi juga menjelma menjadi Tuhan bagi bumi (ilah al-ardh).

Max Weber (1864–1920) pernah mengungkapkan bahwa agama cukup berjasa dalam melahirkan perubahan sosial yang paling spektakuler dalam sejarah peradaban manusia. Agama dianggap mampu memberikan dorongan terhadap masyarakat untuk melakukan “revolusi”. Tesis ini tentunya bagaikan “mimpi indah” bagi umat beragama. Namun yang perlu direnungkan kembali, tesis Weber mengenai agama sebagai motor perubahan sosial “dilahirkan” di atas seratus tahun yang lalu. Weber bukanlah sosok “masa kini”. Karenanya, kita perlu membuktikan kembali kebenaran tesis Weber tersebut. Karena nampaknya saat ini kondisinya justru berbalik, yakni agamalah yang mesti mengejar “kebaruan” dalam pola interaksi sosial yang terbangun.

 

Islam-phobia dan Klaim Terorisme

Katakutan (phobia) terhadap Islam merupakan stigma negatif yang tidak bisa dilawan dengan sekedar kritik atas Barat dan medai Barat yang melakukan kampanye mengenai citra negatif, tidak hanya Arab, tapi juga Muslim secara Umum. Hal ini dimasudkan agar Umat Islam lebih obyektif dalam memandang segala macam persoalan. Kenyataan yang terjadi, kebanyakan mereka terlalu otoritatif tentang klaim kebenaran. Seolah tidak ada kebenaran lain di luar. Sebab, kebenaran tak ubahnya benang yang dirajut menjadi kain; saling berjalin kelindan dan tak pernah utuh dan tunggal.

Jika dilihat dari latar-hirtoris, Islam pada masa kekhalifahan sampai masa muluk at-Thawaif sering melakukan ekspansi kekuasaan atau. Hal ini misalnya bisa dilihat dari ekspansi militer hingga jauh dari titik geografis kelahirannya hingga sampai ke Afrika, Eropa dan lain sebagainya—walaupun dalam Islam sendiri di sebut Dakwah. Realitas itulah yang kemungkinan masih menyisakan dendam yang mendarah-daging dalam dunia barat yang sejurus kemudian memberikan predikat bahwa Islam identik dengan pedang.

Timbulnya Islamophobia sendiri merupakan realitas historis. Akar-akarnya sudah lama menancap, khususnya sejak Perang Salib di abad pertengahan, yakni perang antara pasukan Islam dan Kristen di daratan Eropa. Perang itu sendiri memunculkan trauma psikologis hubungan antara kedua pemeluk agama besar. Celakanya, hubungan buruk itu tidak pernah diperbaiki serius

Hal tersebut diperkeruh oleh hubungan internal dalam Islam yang berlangsung antar kelompok sejak pembunuhan Usman sampai sekarang selalu diwarnai oleh kekerasan. Kenyataan inilah yang juga menjadi bukti sejarah betapa Umat Islam sejak masa klasik terlibat dalam konflik, baik internal, maupun eksternal. Realitas ini didukung oleh kebanyakan umat Islam, khususnya kaum fundamentalis, yang menafsirkan ayat-ayat tentang jihat tanpa melakukan semacam tafsir ulang dengan mencoba mengkontekstualisasikan dengan sosio-kultur dan pradigma kultural era sekarang.

Pada tatanan praktis, kekerasan atas nama agama sebagai pengaruh dari gerakan Islam yang mengekspresikan keberagamaanya secara berlebihan atas nama doktrin literal agama, menambah keyakinan masyarakat dunia akan stereotype Islamophobia tersebut. Semisal, aksi-aksi kekerasan demi perjuangan agama yang dilakukan di Iran, Sudan, Irak, Lebanon, Somalia, Afganistan, Libya dan lain sebagainya yang menjadikan stereotype tersebut sulit terelakkan. Data tersebut penulis dapatkan dari hasil penelitian Zauhairi dan Khamami yang kemudian ditambah oleh Edward W. Said dengan mencatat insident kekacauan yang dilakukan umat Islam sejak 1983 sampai 1993. (Lacak dalam Zuhairi dan Khamami, 2004:64-65)

Data-data tersebut menunjukkan betapa aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok teroris sering kali dilabelkan kepada kelompok agama fundamentalis. Sementara, lebih lanjut Zuhairi mengasumsikan bahwa fundamentalisme sendiri, lahir karena kebijakan politik Barat yang menyudutkan umat Islam, yang sudah terdesak oleh sekularisme, yang sudah mengancam eksistensi agama. Sehingga, tidak salah jika semua agama yang ada di Barat Baik Islam atau yang lain melahirkan fundamentalisme.

Namun demikian, ekspresi keberagamaan kaum fundamentalis yang memancarkan semangat membela agama dengan kekerasan terlalu berlebihan karena tidak melihat perubahan siosio-politik di dalam khazanah intelektual mana pun. Hal ini mengakibatkan arogansi yang luar biasa, jika tidak diminimalisir dengan sikap toleransi terhadap liyan (meminjam Istilah Derrida).

Dus, tudingan Islam sebagai agama teroris mendapat legitimasi kuat setelah peristiwa 11 September 2001. AS menuding Usama bin Laden sebagai otak di balik kolompok al-Qaida dalam peristiwa kelabu tersebut. Tudingan tersebut semakin meyakinkan setelah media-media internasional mengkoar-koarkan kenyataan kongkret dari tudingan tersebut. Sejak saat itu pula AS menjadikan al-Qaida sebagai target operasi. Dengan dalih membasmi al-Qaida pulalah AS melakukan operasi militer di Afganistan.

Hemat penulis, tindakan serta merta AS dengan menuding al-Qaida sebagai biang dari tragedi tersebut perlu dianalisis kembali perihal validitasnya. Sebab, Direltur FBI, Robert Muller, pernah mengaku tak menemukan selembar pun bukti yang mengindikasikan keterlibatan Usamah dan al-Qaida. Bahkan, dari 19 tersangka pelaku bunuh diri dalam tragedi WTC, 10 diantaranya masih hidup. Juga ada kesaksian bahwa Muhammad Atta, yang disebut-sebut operator utama pembajakan pesawat tewas bersama 18 “teroris” lainnya, masih berkeliaran di Amerika. (Idi Subandy & Asep Syamsul, 2007: 96) Dengan demikian, tidakan AS tidak berlandaskan pada data-data kongkret.

Kaitannya dengan konteks ke-Indonesia-an, pasca tregedi 11 September tersebut, Indonesia pernah dijuluki surga bagi teroris, dengan merujuk situasi gerakan anarkis atas nama Islam yang muncul belakangan. Mereka misalnya dikenali dengan ciri-ciri; penggunaan simbol-simbol Arab, sering mengerahkan massa, cita-cita menegakkan syariat Islam, seringnya terjadi Bom dan lain-lain.

Sejak Amerika memproklamirkan war againts terorist, Indonesia masuk dalam sasaran ini. Ada beberapa alasan yang populer dan bisa diinventarisir dalam sorotan dunia  tentang isu Islam di Indonesia pasca tragedi 11 September: Pertama, Isu Jamaah Islamiyah (JI). Alfitra Salam, peneliti dari LIPI yang lama tinggal di Malaysia dalam wawancara dengan Metro TV mengatakan bahwa JI hanyalah kelompok maya, hasil rekaan Intelijen Malaysia untuk kepentingan politik, yang sebenarnya tidak ada. Adapun yang memberi nama JI adalah koran-koran Malaysia dan diciptakan oleh Intelijen Malaysia. Ironisnya, ratusan media di Indonesia ikut-ikutan suara yang dipimpin oleh pemerintah AS. Ironisnya, organisasi yang hampir tak pernah dikenal di Indonesia ini, disinyalir sebagai sarang lahirnya teroris. Di Indonesia, nama Abu Bakar Ba’asyir, ketua MMI dan pengasuh pesantren Ngruki ini mendadak menjadi sangat terkenal, dalam kasus pencarian jaringan-jaringan JI. Apapun alasannya, akhirnya ia berhasil dikenai dengan serangkaian tuduhan makar maupun aktor di balik terjadinya gerakan-gerakan Islam garis keras.

Kedua, menguatnya citra Islam radikal di Indonesia seperti tindak-tanduk FPI dan sebagainya. Al-Zastrouw Ng mengasumsikan bahwa pada hakekatnya, gerakan FPI bukanlah seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir yang memiliki ideologi yang jelas. Gerakan FPI cenderung kepada gerakan radikal-politis yang tidak memiliki ideologi yang jelas. Dalam artian, ia bukanlah gerakan yang memperjuangkan suatu ideologi keagamaan tertentu, tapi justru gerakan politik yang menggunakan simbol agama. (Al-Zastrouw Ng., 2006: 156)

Ketiga, meningkatnya aksi bom untuk dan atas nama jihad, dari Imam Samudra hingga Nurdin M.Top. Bagaimanapun, ketika dunia masih tersentak dengan peristiwa 11 September,  tiba-tiba bom Bali terjadi dan disusul dengan Bom J.W. Marriot hotel, yang targetnya membunuh orang. Pelbagai bentuk aksi serangan terorisme sebenarnya merupakan malapetaka besar bagi Indonesia, yang dulunya dikenal ramah dan cinta damai. Karena itu, hal tersebut merupakan tantangan serius bagi agama-agama, terutama untuk memberikan penyadaran agar tidak bersikap radikal dan anarkis. Sebab, kekerasan adalah tindakan biadab, yang melanggar ajaran agama, terlebih Islam dengan jargonnya rahmatan lil-alamin.

Terlepas dari realitas tersebut, perlu kiranya mematangkap konsep jihad yang selama ini kerapkali dipahami secara tekstual, parsial dan bersifat ofensif sebagaimana yang serukan oleh Qutub, yang kemudian dikembangkan-diaplikasikan oleh kaum fundamentalis. Dalam hal ini, jihad bukanlah seruan untuk mengkonversi individu atau kelompok tertentu ke dalam Agama Islam. Melainkan untuk menundukkan “kekuatan kafir”, yakni tatanan politis kaum kafir serta kekuatan militernya. Kekuatan mereka tidak hanya menentang penebaran Islam (sebagai agama keadilan) di muka bumi,tapi mereka juga sebagai penjelmaan dari imoralitas dan ketidakpastian.

Karena itu, ketika Muhammad beserta sahabatnya memberontak terhadap tatanan yang korup pada masyarakat jahiliyah, mereka dianiaya, dihina, diasingkan, dan dibunuh. Mereka terpaksa melakukan hijrah. Dalam suasana semacam itu, tugas dan strategi utama Muhammad adalah mengorganisir, memperkuat, dan mempertahankan kaum proletariat yang tak berdaya, lemah, dan miskin. Dengan demikian, pembenaran jihad bis-saif lebih memiliki makna defensif.

 

Bertoleransi di tengah Perbedaan: Menuju Dialog Antar Agama.

Melihat kompleksitas fenomena tersebut, yang perlu diperhatikan sebenarnya adalah respons umat Islam dalam menyikapi perbedaan keyakinan. Khususnya yang baru-baru ini muncul wacana hanya tentang “aliran-aliran sempalan” yang saat ini banyak lahir justru membuat umat muslim bersikap arogan dan destruktif. Umat Islam tidak menyadari bahwa diri mereka saat ini tengah diuji oleh lahirnya berbagai aliran tersebut. Sejauh mana mereka mampu mengaplikasikan sikap toleransi Nabi Muhammad yang dulu hidup di tengah keberagaman umat, baik dari berbagai suku, warna kulit, dan agama. Di mana pada waktu itu, Rasulullah sangat menghargai perbedaan-perbedaan tersebut dengan tetap mempertahankan sikap inklusif dan tidak memaksakan kehendak seseorang untuk mengikuti ajarannya. Apalagi, bersikap arogan pada mereka yang berbeda agama dengan beliau.

Bahkan, saat baru diangkat menjadi pemimpin Madinah, beliau pernah berpesan: “Barangsiapa yang mengganggu umat agama samawi, maka ia telah menggangguku”. Sabda beliau jelas merupakan anjuran kepada kaum muslimin di dunia untuk selalu bersikap pluralis dan toleran (tasamuh) pada berbagai perbedaan yang ada. Oleh sebab itu, umat Islam harus bersikap secara lebih terbuka, arif, dan bijaksana dengan tetap menghargai nilai-nilai kemanusiaan universal.

Dengan demikian, dialog antar-agama sangat dibutuhkan pada zaman sekarang. Salah satu sasaran yang paling signifikan adalah untuk menunjukkan bahwa agama, bagaimanapun juga, bukan penyeban dari pelbagai konflik. Ada dua hal yang perlu dasampaikan oleh umat Islam untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama cinta damai: pertama, adanya hubungan khusus dengan umat kristiani dan Yahudi dan apa arti hubungan ini bagi pengikut ajaran Ibrahimi; kedua, bahwa militansi agama tidak ditemukan secara khas di dalam masyrakat muslim, dan Bahwa militansi seperti itu akan reda bila isu-isu politik yang memicunya ditangani dengan baik dan dengan jelas.( Imam Feisal AR, 2007: 343)

Dalam hal ini Al-Fayyad (2005) dalam bukunya menyatakan bahwa “kematian” logosentrisme mengawali lahirnya dunia baru tanpa pusat, tanpa subyektifitas, tanpa ontologi, tanpa sandaran makna dan kebenaran otorittatif. Inilah dunia yang mengejarkan kita untuk liyaning liyan, menghormati yang beda dalam keberbedaannya dan yang lain dalam kelainannya.

Selain internal umat Islam, sistem pemerintahan di Indonesia pun perlu melakukan semacam pembenahan diri. Zamakhsyari mengasumsikan bahwa suatu tindak kekerasan yang terorganisir dengan rapi, yang sulit dikendalikan oleh penegak keamanan, sudah pasti berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi dan politik yang labil dan menimbulkan kerawanan serta konflik sosial politik. Kondisi sosial-politik yang tidak stabil, kepemimpinan nasional dan regional yang lemah, kehidupan hukum dan ekonomi kurang adil yang berakibat pada degradasi moralitas bangsa, merupakan lahan hunus bagi berkembangnya terorisme. (Zamakhsyari Dhofier, 2009: 113)

Oleh sebab itu, ia untuk dapat mengatasi problem terorisme di negeri ini perlu adanya upaya injeksi kesadaran terhadapt seluruh lapisan, dari pemerintah hingga masyarakat akar rumput akan pentingnya membangun stabiltas sosial-politik yang mencerdaskan dan upaya penegakan hukum yang tidak sekedar melihat kepastian hukum. Melainkan lebih kepada kemaslahan umat. Sesuai dengan konsep ushul fiqh “tasharruf al-imam manuth bil-mashlahah”.

Lebih lanjut Zamakhsyari menambahkan bahwa tradisi pesantren sebagai lembaga indigenous Indonesia dapat membantu pemerintah untuk mengikis terorisme. Sebab, disadari atau tidak, kepercayaan yang begitu kuat masyrakat terhadap pesantren yang pada prinsipnya meupakan hasil dari deaspora ilmu pengetahuan (agama) yang memang menjadi sign tak tertulis dalam kelompok/warga pesantren itu sendiri. Dimana, hal tersebut selalu mendapat respon dan minat pembelajaran tidak saja bagi kiai atau santri yang telah lama dituntut untuk mendalami, tapi juga masyarakat luas yang ingin memperolah ilmu pengetahuan meski ditengah-tengah kesibukannya yang padat.

Hal tersebut dapat diupayakan dengan cara: pertama, meningkatkan lulusan pesantren, yang pada umumnya adalah kaum miskin yang tinggal di pedesaan, menjadi sarjana lulusan universitas di pesantren, sehingga lebih berpeluang mendapat pekerjaan yang layak. Kedua, meningkatkan volume tafsir moderat. Ini melibatkan proses akulturasi. Ketiga, mengarahkan jihad (dari terorisme) ke proses penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dalam istilah Yudian Wahyudi (2009) disebut “Jihad Ilmiah”.

.

 

Epilog

Dengan berbagai asumsi dan analisa di atas diharapkan dapat meluruskan pemahaman yang bengkok seputar adanya stereotype Islam agama teroris, yang tentunya juga memerlukan sikap inklusifitas dari umat Islam itu sendiri dalam memaknai suatu perbedaan. Sikap anarkis atas nama agama yang direferensikan kepada ajakan agama untuk berjihat, memerlukan tinjauan yang lebih kritis dengan pendekatan yang jelas dengan tidak hanya menafsirinya secara tekstual dan sepotong-potong.

Hal ini dilakukan agar terbukkti bahwa Islam adalah agama yang toleran, cinta damai, dan anti kekerasan. Adapun, ketika ada sempalan-sempalan yang mengatasnamakan agama untuk berbuat anarkis, perlu dekritkan bahwa tindakan-tindakan seperti itu pasti ada unsur “politik kambing putih” yang perlu untuk ditolak bersama-sama. Sedikit mengutip perkataan Ibnu Qoyyim al-Jauzi, “Islam adalah sesuatu, dan muslim adalah sesuatu yang lain. Seringkali keindahan Islam terhijabi oleh prilaku Muslim..”

Oleh sebab itu, persoalan ini perlu mendapatkan perhatian dan apresiasi dari seluruh umat islam di Indonesia, terutama para cendikiawan, agar keragaman dalam pemikiran dan ideologi di antara umat Islam dapat menjadi rahmat. Khaled Abou el Fadl (2006) menyerukan kepada umat islam untuk tidak terjebak dalam simbol dan otoritarianisme pemikiran apalagi politik. Sebab, baginya, Islam dan umat islam mesti menjadi sarana perwujudan rahmat dan kasih sayang Tuhan bagi semua manusia. Kasih sayang dan moderasi yang menjadi nilai dasar islam harus diingat dan dibiakkan dalam hati umat Islam. Agar ekstrimisme tak punya tempat. Agar kebersamaan semua manusia dalam menegakkan nilai-nilai kebertuhanan sungguh-sungguh mendulang kemajuan. Disamping itu pula, diharapkan citra islam kembali bersinar dan mendapat tempat di hati pemeluknya dan bahkan bagi yang ada disekitarnya (non-islam) yang tiada lain dengan jalan “menyelamatkan Islam dari muslim puritan”

Akhirnya, apoligia pro libro suo, tiada gading yang tak retak. Sebagai sebuah karya kreatif manusia, tulisan ini masih jauh dari kesempunaan. Dengan demikian, penulis mengharap kritis-saran dari para pembaca yang budiman demi lebih baiknya tulisan-tulisan selanjutnya. Wallahu A’lam.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abou El-Fadl, Khaled. Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority, and Women. Oxford: Oneworld Publications, 2001.

­­­­­­­­________. Selamatkan Islam Dari Muslim Puritan, Jakarta: Serambi, 2006.

Ali, Muhammad, Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan, Menjalin Kebersamaan. Jakarta: Kompas, 2003.

Al-Fayyadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta: LKiS, 2005.

Al-Zastrouw. Gerakan Islam Simbolik: Politik Kepentingan FPI. Yogyakarta: LkiS. 2006.

Amstrong Karen. Alih bahasa Satrio,dkk. Berperang Atas Nama Tuhan. Jakarta: Serambi, 2000

Budi Purnomo, Aloys. Membangun Teologi Inklusif-Pluralistik. Jakarta: Kompas, 2003.

Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren; Memadu Modernitas untuk Kemajuan Bangsa. Yogyakarta: Nawesea Press, 2009.

Feisal, Imam. Seruan Azan dari Puing WTC. Bandung: Mizan. 2007.

Karim, M. Abdul. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka, 2007.

Subandy & Asep. Amerika, Terorisme dan Islamophobia. Bandung: Nuansa, 2007.

Wahydi, Yudian, Jihad Ilmiah; dari Tremas ke Harvard. Yogyakarta: Nawesea Press, 2009

Yakin, Haqqul. Agama dan Kekerasan dalam Transisi Demokrasi di Indonesia. Yogyakarta: Elsaq Press. 2009.

Zuhairi & Khamami. Islam Melawan Terorisme. Jakarta: LSIP, 2004.

Sapu Tangan Merah Muda

Kenangan Belajar Menulis Cerpen..dahulu kala..hehehe

Oleh: Fawaidurrahman

Tun, tun…!

Deru sebuah bus jurusan Gilimanuk yang datang dari arah timur, berlaju pelan tepat di hadapanku. Kulihat bus padat itu siap memuntahkan penumpangnya Yang berdesakan. Lalu semburat menyerbu dan memasuki terminal. Pengeras suara mewartakan jalur yang akan dilalui bus itu. Belum juga bus itu berhenti benar, para penumpang berebutan keluar dari bus. Suara derap sepatu dari para penumpang memecah kesunyian.

Bus kembali berlalu meninggalkan para penumpangnya yang lelah. Suasana riuhpun lambat laun menghilang dan diganti suara hujan. Malam dingin menggigil, udara terasa membekukan sendi-sendiku. Angin yang berhembus disertai dengan derasnya hujan, membuat malam semakin terasa beku. Gemercik air hujan terdengar berjatuhan membentuk pulau-pulau yang menggelisahkan. Tak terdengar suara-suara binatang malam yang berbunyi, aku duduk terjebak hujan di terminal itu. Hujan seperti tumpah. Tapi bus yang kutunggu sejak sejam yang lalu, belum juga kelihatan ujung kepalanya. Kunyalakan sebatang rokok, kuhisap dalam-dalam sambil kusandarkan badanku pada salah satu kursi yang berjejer di terminal itu.

“Capek benar aku hari ini,” gerutuku. Sebagai seorang wartawan kecil di sebuah stasiun televisi swasta, mencari berita setiap hari membawa dan menyisakan kelelahan yang luar biasa. Tak jarang pula membawa sakit hati yang menjemukan.

Tak lama kemudian kulihat orang berbadan kurus berjalan melewatiku. Dengan penuh ketidak sabaran, kucoba untuk bertanya kepadanya tentang keterlambatan bus yang menuju Sanur.

“Permisi pak, boleh mengganggu sebentar?”

“Boleh, apa yang bisa saya bantu?” Bapak itu menjawabku penuh santun.

“Bus menuju Sanur akan tiba jam berapa, ya pak?”

“O…, adik belum tahu ya?, bus yang menuju Sanur ditunda sampai pukul sebelas nanti,” ujarnya sambil melihat arlogi yang ada di tangan kirinya dan menunjukkan pukul sembilan lewat tujuh menit.

“Terima kasih pak,” ucapku sambil menundukkan badan.

“Iya, sama-sama,”

Orang itupun lalu pergi meninggalkanku. Sunyi kembali menyapa, para pedagang di sepanjang terminal mulai mengemasi barang-barang jualannya. Dingin angin malam yang disertai hujan, membuat mereka enggan berjualan lebih lama lagi. Kucoba untuk duduk santai di kursi yang tadi kududuki semula, sambil melihat-lihat kekanan dan kekiri. Seketika itu, tanpa sengaja aku melihat samar-samar sosok wanita yang mengigil di bawah tiang terminal. Dengan langkah pelan kudekati dia dengan maksud ingin menolong, siapa tahu butuh bantuan. Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas wajah wanita itu.

Astaghfirullah, subhanallah!” aku terperanjat melihat kecantikan wanita itu yang begitu sempurna. Tapi mengapa ia berada di tempat seperti ini sendirian dan basah kuyup dan membuatku celegukan. Semakin kudekati, ia seperti ketakutan,  pancaran wajahnya membuatku terpesona.

“Tenang nona, jangan takut. Aku bukan orang jahat,” ujarku mencoba meyakinkannya bahwa aku memang ingin membatu. Namun, wanita cantik itu tetap seperti orang ketakutan, matanya menyurup-nyurup.

Masak keren-keren begini disangka orang jahat, gumamku dalam hati.

“Nona, namaku Afandi. Aku orang baik-baik. Jadi, nona tidak perlu takut denganku,” ucapku sambil menyodorkan kartu identitasku, ia sedikit tenang, namun, tak satupun kalimat keluar dari bibirnya yang tipis. “Sepertinya nona kedinginan, saya belikan kopi dulu oke, tunggu di sini ya,” ujarku sambil memberikan jaketku padanya. Sementara wanita itu hanya mengangguk  bisu.

Aku lalu melangkah setengah lari menuju tukang jual kopi yang tempatnya tidak jauh dari tempat wanita misterius tadi. Timbul banyak pertanyaan di dalam benakku tentang wanita misterius itu.

Sejenak sunyi.

Tun, tun…!

Deru bus jurusan Sanur, yang datang dari arah timur, memecah keheninganku. Tapi, aku tidak memperdulikan bus itu, walaupun sudah tiga jam lebih aku menunggu. Aku lebih memilih menolong wanita misterius itu. Karena menurutku, ia sangat memerlukan pertolonganku .

Namun, setelah aku mendekati tempat wanita itu tadi dengan membawa secangkir kopi, wanita misterius itu sudah tidak ada di tempat, ia hilang bagai ditelan kelam. Aku termangu setengah heran  penuh tanda tanya. Apakah ini hanya hayalanku saja  atau ia adalah hantu. Hi.., bulu kudukku bangun. Seketika kulihat ada sehelai kain berwarna merah muda ditempat ia duduk tadi.

“Karmila Dewi,” kubaca sapu tangan berwarna merah muda itu. Sapu tangan itu membuatku yakin bahwa dia bukanlah hantu. Detak jantungku semakin kencang.  Aku tak menyangka sekian banyak gadis-gadis yang kujumpai, tak satupun yang mampu membuat hatiku terpaut. Tapi, wanita itu lain, pesonanya membuat  hatiku terpaut dengannya. Entah, ada apa dengannya. Lalu kutarik nafas dalam-dalam mencoba untuk menenangkan diri. Dalam hati aku menbatin,

‘Percintaan terpendek se dunia…,’

“Bus jurusan Sanur siap diberangkatkan.” Bunyi pengeras suara menghancurkan keheninganku. Akupun segera masuk ke dalam bus dan mencari tempat duduk yang nyaman.

Beberapa jam kemudian aku sudah sampai di Sanur. Di sana kucari sebuah hotel untuk beristirahat, karena keesokan harinya aku harus jalan-jalan dan menikmati hari tenangku.

***

Tut…, tit…, tut…!

Bunyi Hpku membangunkanku. Akupun segera mengangkatnya,

“Halo…”

“Pagi Fan, gimana liburannya asyik enggak? Udah dapat tempat yang nyaman apa belum? Gimana, gimana, indah enggak pulau Bali, aman enggak, atau kamu sekarang lagi asyik berduaan dengan cewek-cewek Bali? Oh ya ada kejadian hangat enggak?” Suara mbak Yuli, menejerku langsung nyerocos tanpa titik koma.

“Asyik apanya, kalau orang nyantai aja udah diganggu, aku baru bangun tidur nich! Sorry ya aku mau mandi dulu ya da….h” jawabku tegas sambil langsung meletakkan Hp setelah selesai bicara.

Segera aku bangkit dari tempat tidur, lalu kubuka jendela kamar dan sang surya telah memancarkan cahayanya. Kulihat pemandangan di sekitar hotel, bunga-bunga yang mekar seperti memberi warna pada pagi. Udara terasa segar, daun-daun yang melambai, seperti menyerahkan hijaunya pada musim. Waktu merambat berputar pada sumbunya. Rasa sejuk yang tadi, diam-diam melangkah menaiki birunya langit yang menyeruak dari segenap dataran hijau. Sepi tiba-tiba hilang berganti hiruk-pikuk suara mobil. Akupun segera mandi dan langsung keluar dengan menbawa handicamp, sebagai persiapan siapa tahu ada kejadian yang menarik.

Lima menit berlalu, akupun sampai di pusat kota Sanur dengan naik taksi. Sengaja aku mengambil gambar di sekitar kejadian, sebelum makan-makan dan sekalian mencari kebetan. Tiba-tiba…,

Demmm…!!!

Tanpa diduga-duga sebuah bom meledak dari sebuah mobil kijang. Suara dahsyat yang luar biasa kerasnya, seakan memecahkan telingaku. Suara berderak-derak dan kacau menimpali ledakan itu. Beberapa bangunan hancur seketika. Api menyala-nyala di sekililing tempat itu. Jeritan dan teriakan memekik, menambah suasana menjadi sungguh-sungguh menciptakan kengerian yang menyayat-nyayat.

Dalam situasi seperti itu. Aku termangu di antara bengong, ketidak percayaan dan ketakutan pada penglihatanku sendiri. Karena selama bertahun-tahun aku jadi wartawan, baru kali itu aku berhadapan dengan ledakan bom. Tangan dan kakiku gemetar. Nafas seakan terputus seketika. Kulihat disekelilingku orang-orang berlarian. Tiba-tiba seorang lali-laki kurus menabrakku.

“Maaf mas, maaf,” ujarnya terengah-engah sambil berlari. Akupun tersadar dari kebengonganku. Kucoba melangkahkan kaki mendekati tempay ledakan tiu sambil lalu kukeluarkan handicamp-ku untuk merekam gambar bangunan-bangunan yang hancur akibat ledakan tadi. Suara ambulan meraung-raung di telinga, beberapa aparat mencoba menenangkan suasana. Tiba-tiba tampak di kameraku, sosok wanita cantik berjilbab hitam dengan pakaian serba hitam. Aku keheranan sedikit tak percaya. Kugosok mataku, karena mungkin aku hanya salah lihat. Namun, ternyata sosok itu adalah wanita cantik yang kutemukan basah kuyup tadi malam. Kutinggalkan tempat kejadian itu dan ku coba mengikutinya. Kulihat ia berjalan menuju sebuah mobil panther. Mobil itu lalu membawanya ke rumah tua yang cukup jauh dari khalayak ramai. Akupun membuntuti dengan menyetop taksi berwarna biru. Di sana Ia lalu disambut oleh dua orang laki-laki bertubuh kekar dan membuatku curiga, jangan-jangan mereka adalah komplotan teroris yang terkait dengan kasus pemboman itu.

Semakin dekat aku melangkah menuju markas mereka, detak jantungku semakin kencang. Tiba-tiba,

Brokkk…!

Sebuah bogem mentah mendarat cukup keras di kepala belakangku. Dunia terasa biru dan alam terasa biru, berputar-putar. Kucoba untuk bangkit, namun, seorang laki-laki bertubuh besar telah berada di depanku dan menyeretku masuk ke dalam markas mereka.

“Siapa cecurut ini, kenapa kau bawa ke sini?!” gertak seorang laki-laki bercadar hitam.

“Orang ini kutemukan di luar sedang mengintip kita, aku curiga ini adalah mata-mata polisi. Makanya kau bawa masuk,”

“Bawa dia ke gudang bawah tanah dan kurung di sana, Jangan sampai ter lepas.”

Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kepalaku masih terasa berputar akibat bogem mentah tadi. Namun,

“Jangan kak, dia temanku,” terdengar agak gamang di telinga, suara seorang wanita. Dengan sedikit sadar, kulihat wanita itu memang wanita yang kujumpai di terminal semalam.

“Apa?, ini temanmu?, mengapa kamu bawa kesini?” tanya laki-laki yang memakai cadar hitam itu.

“Aku tadi mengajaknya. Tenang saja kak, dia tidak akan membocorkan tempat kita ini kepada orang lain.” Wanita itu mencoba membelaku.

“Ya sudah, cepat bawa dia pergi dari sini,”

Wanita cantik itupun lalu membawaku keluar dari tempat itu seraya menggandeng tanganku. Lalu ia menghentikan langkahnya dan menatapku.

“Mengapa kamu ada di sini?” tanyanya kesal.

“Tadi, ketika aku mengambil gambar lokasi kejadian, aku melihat wajahmu tertangkap kameraku. Jadi, aku mengikutimu hingga sampailah kau di tempat ini,”

Sejenak sunyi. Hingga kucairkan suasana dengan sebuah kalimat,

“O ya, mengapa semalam kau meninggalkan tempat itu, padahal susah payah aku belikan kopi untukmu,” tanyaku sambil menatap matanya yang sunyi. Namun, ia tidak menjawab pertanyaanku.

“Mila, di tempat itu aku temukan sapu tangan ini. Apa ini milikmu?,” celetukku sambil menyodorkan sapu tangan berwarna merah muda itu.

“Dari mana kamu tahu namaku?” tanyanya heran,

“Ya dari sapu tangan itu. Mil, terima kasih atas pertolonganmu tadi ya,”

Aku bahagia sekali bisa berhadapan dengan gadis yang telah mampu menyalakan pelita kasih dalam hatiku itu.

“Fan, lebih baik kamu segera pergi dari sini. Dan aku mohon jangan sampai orang lain tahu tentang keberadaan kami. O ya, jangan kau tampakkan kewartawananmu kepada kakak-kakakku, karena kalau mereka tahu, kamu tidak akan bisa pulang dari tempat ini.” Ujarnya penuh harap. Akupun segera pergi dari tempat itu, kulihat matanya yang teduh, seakan memberikan harapan untuk kuisi dengan cintaku.

***

Malampun menyapa. Desau angin malam membawa aroma tubuhnya kelobang hidungku. Membuatku tidak bisa memejamkan mata. Wajahnya, suaranya dan semuanya, membuatku selalu terbayang akan dirinya. Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke tempat itu lagi untuk mengungkapkan perasaanku yang paling dalam. Karena aku sudah tidak kuat lagi menahan perasaan yang memuncak bagai gunung berapi yang siap untuk memuntahkan lavanya.

Suasana di tempat itu tampak sepi, malam terasa semakin dingin. Sunyi, tanpa satupun suara binatang malam, kecuali suara cicak pada dinding-dinding tembok. Semakin dekat aku dari markas tempat Karmila berada, terdengar samar-samar di telingaku sebuah suara yang agak mencurigakan. Suara itu semakin jelas di telinga.

“Mila, kutugaskan kau untuk meletakkan bom, setelah President datang besok pagi. Dan kau Adnan, kau berjaga-jaga di sekitar target dan ingat!, jangan sampai seorangpun mencurigai kalian.” Percakapan mereka membuatku agak merinding ketakutan. Mereka akhirnya bubar, sebagian masih menetap dan sebagian yang lain pergi ke tempat masing-masing. Kulihat Karmila sedang menuju tempatnya. Diam-diam aku melangkah pelan menuju tempatnya itu.

“Karmila…,” sapaku lirih

“Kau…p”

“St st st…, jangan keras-keras,” ucapku sambil membungkam mulutnyan lembut.

“Mengapa kamu ke sini lagi?”

“Mil, sekarang aku ingin jujur padamu.” Kutarik nafasku dalam-dalam dan kuteruskan kata-kataku dengan mencoba menenangkan diri. “Sejak malam itu aku langsung jatuh hati padamu dan aku tak kuasa menahan perasaan ini,” celetukku. Namun, Mila tetap diam seribu bahasa, tanpa satu katapun yang keluar dari bibir tipisnya. “Mil, jujurlah padaku apakah kau juga begitu?, apakah kau masih menyisakan tempat untukku di hatimu,?” ia hanya menunduk tanpa berani menatap mataku. “Mil, jawab pertanyaanku. Jika tidak, berarti kau tega menyiksaku. Dan itu berarti di hatimu sudah tidak ada tempat untuk kuisi dengan cinta sejatiku.?” Kubelokkan badanku sambil melangkah pelan menuju pintu.

“Fan,” ujarnya seraya berlari dan mendekap  tubuhku. Kurasakan kehangatan yang tak pernah kurasakan selama hidupku. Ingin rasanya aku berjingkrak-jingkrak, namun, suasana tidak mendukungku. “Fan, jangan bilang seperti itu, sesungguhnya sejak malam itu aku…, aku sudah mulai jatuh hati dengan kebaikanmu, dan itupun yang pertama kalinya untukku. Tapi, setelah tahu kau adalah seorang wartawan, aku mencoba membuang jauh-jauh bayanganmu. Tapi, kini kau datang lagi dan membuatku bimbang. Tapi, lebih baik kau pergi dari sini sekarang. Mengertilah dengan keadaanku Fan, please!” kalimat itu membuat telingaku sejuk, kulihat air mata berlinang di kedua kelopak matanya.

“Apakah besok kamu akan membunuh seribu jiwa lagi?” ujarku sambil membelai rambutnya nan halus dan hitam berkilau. Spontan ia langsung bangkit dari pelukanku.

“Apa?!”, “Apa kamu mendengar percakapan kami tadi,?” ucapnya.

“Ya, tanpa sengaja aku nguping percakapan kalian,” Karmila tampak gelisah dengan perkataanku tadi.

“Mil, mengapa kalian lakukan itu?” tanyaku sambil memegang tangannya.

“Kami benci orang-orang Amerika dan sekutu-sekutunya yang telah membantai saudara-saudara kita para muslimin di Afganistan pada bulan Ramadlan tahun 2001 dulu. Hampir seluruh umat manusia di penjuru bumi menyaksikan peristiwa itu. Mereka telah membantai para kaum lemah dan bayi-bayi tak berdosa. Allah berfirman, “dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya, sebagaimana mereka memerangi kamu semua. Dan ketahuilah bahwasanya Allah berserta orang-orang yang bertaqwa (Al-Taubah: 02). Ayat ini yang membuat kami berani melawan siapapun yang telah mengobrak-abrik para kaum muslim”. Perkataan itu membuat hatiku tersentuh, kulihat matanya manyala-nyala bagaikan kilat yang siap menyambar.

Sejenak sunyi.

“Tapi Mil, apakah kamu akan mengorbankan masa remajamu, reputasimu untuk semua itu?” ujarku.

“Demi meninggikan agama Allah, nyawapun akan kukorbankan,” ujarnya penuh semangat.

Sementara aku tak tahu lagi harus berkata apa, hingga akhirnya salah seorang temannya mengetuk pintu.

“Mila, kamu berbicara dengan siapa?” tanyanya dari luar pintu. Mila lalu menyuruhku sembunyi di bawah tempat tidur dan membuka pintu.

“Tidak kak, aku hanya sendirian”

“Ya sudah istirahatlah, karena besok pagi-pagi sekali kita akan mulai beraksi,”

Laki-laki itupun pergi meninggalkan tempat Karmila. Iapun lalu menyuruhku pergi dari tempatnya.

“Fan, pergilah dari sini, sebelum kakak-kakakku mengetahui keberadaanmu,” ucapnya sambil mengusap pipiku lembut.

“Tidak Mil, aku tidak akan pergi dari sini tanpa membawamu. Kau harus pergi denganku”

“Fan, aku mohon mengertilah dengan keadaanku. Aku tidak ingin mengkhianati mereka,”

“Mil, cinta bukanlah pengkhianatan, tapi, ini jalan yang terbaik bagimu,”

“Baiklah Fan, kau pergi duluan, nanti aku akan menyusulmu,” ujarnya.

“Mil, kutunggu kau di terminal. Dan kita langsung pergi dari pulau ini.” Hatiku berbunga-bunga mendengar keputusannya, kulihat wajahnya berbinar-binar bercampur kegelisahan. Namun, aku mengerti dengan dirinya.

***

Sudah pukul 06:00 pagi, berarti sudah lima jam lamanya aku menunggunya, beberapa bus datang dan pergi. Tak bisa kubayangkan bila ia tidak datang. Ini akan membuat hatiku luka, yang bila tersiram kenangan akan menciptakan kepedihan yang dalam.

“Fan, percuma kau menunggunya, ia tidak akan pernah datang, masak baru kenal satu  hari, bisa membuatnya mau meninggalkan jihadnya” kata hatiku yang tak henti-hentinya menyerukan kalimat itu yang membuatku semakin gundah. Namun, aku yakin kalau memang ia mencintaiku, walaupun kami baru kenal hanya satu hari, ia pasti datang menjawab panggilan cintaku.

Dari jauh, dalam keremangan embun pagi tampak sosok wanita berbaju merah jambu, berjalan ke arahku. Kutahan nafas, meredakan gejolak jiwa yang tiba-tiba mengentak-entak dalam dadaku.

Hatiku meronta-ronta melihat sosok wanita itu, walau tidak yakin bahwa itu adalah Karmila Dewi. Semakin dekat, sosok wanitapun semakin tampak jelas, aku menyambutnya dengan segudang harapan dan tanda tanya.

Tapi, sorot mata itu, ya… sorot mata itu mengatakan lain. Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia kabarkan padaku. entah, kabar baik atau buruk.

Ia semakin mendekat. Sudah tampak jelas sorot mata Karmila mengembang di hadapanku. Tapi ada apa dengan wajah itu? Kenapa ia tampak tak bergairah.

“Fan, aku datang untuk memenuhi panggilanmu, tapi bukan untuk ikut denganmu, maafkan aku Fan” ucapnya seketika. Membuatku tak mengerti apa maksud dari perkatann tadi.

“A, apa maksudmu Mil, aku enggak ngerti,” ucapku gugup.

“Fan, maafkan aku karena tidak bisa ikut denganmu, aku tidak bisa meninggalkan Jihatku dan saudara-saudaraku. Mereka membutuhkanku Fan. Biarlah, akan kusimpan rasa ini dalam hatiku yang terdalam, mungkin suatu hari kita bertemu lagi, ketika semua sudah selesai” kata-kata itu membuat hatiku jasadku dan semua anggota tubuhku gemetar, dingin, bagai disiram air es, beku tanpa gerak.

“Baiklah Mil, jika itu memang yang terbaik untukmu, aku tidak akan memaksa. Karena tidak ada kata-kata ‘terpaksa’ dalam cinta.”

Tun tun…!

Sebuah bus bertuliskan “Bali-Jember” menggema, dan berhenti tepat di hadapanku. Sementara panas mentari tak mengalahkan panasnya hatiku ketika itu.

“Mil, apa kau yakin dengan keputusanmu?” tanyaku mencoba untuk merayunya.

“Ya, aku sudah ”

“Tentu,” jawabku.

Pada saat itu hatiku terasa disiram air es, dingin dan sejuk. aku bagaikan orang yang tak mempunyai hutang sedikitpun. Kegembiraanku kuluapkan dengan memeluk Mila. Namun, tiba-tiba,

Dorrr…!!!

“Angkat tangan…!” suara itu mengejutkanku, Karmila dan kakaknya. Kulihat polisi telah berdiri tegak di sekeliling kami dengan senjata di setiap tangan mereka. “Menyerahlah!, kalau tidak, kami akan menembak kalian bertiga!” aku termangu antara percaya dan tidak. Mila semakin erat memeluk tubuhku. Kulihat matanya redup ketakutan.

“Mil, tenanglah, aku akan selalu melindungimu” desahku lirih.

“Fan, lebih baik kita kabur sekarang juga,” kata kakak Mila seraya menarik tangan Mila. Hatikupun langsung menuruti perintahnya. Tanpa basa-basi, kami lalu mencoba untuk kabur. Namun….

Dorrr…!!! Dorrr…!!!

Dua tembakan meluncur ke arah kami. Akupun menghentikan langkahku seraya angkat tangan. Lalu kubelokkan badanku, ternyata Salim dan Karmilaku telah terkapar. Kucoba untuk menolong mereka namun, mereka sudah tidak bisa bangkit lagi. Sementara Karmila, sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya ia masih berwasiat padaku.

“Fan aku mohon jangan bilang siapa-siapa tentang markas dan kawan-kawanku. Fan, aku semakin mencintaimu”. “Asyhadu allailaha illallah waasyhadu annamuhammadan Rasulullah. Allahu Akbar…!!!” jeritnya histeris dan iapun lalu menghembuskan nafas terkhirnya.

Sementara hatiku sakit, sakit sekali, melihat tubuh wanita yang kucintai terkapar penuh darah. Tak tahan lagi aku menahan rasa sakit di dalam dada. Aku lalu berteriak keras, keras sekali.

“MILA…!!!! MILA…!!!” jeritku keras sebelum sesuatu terjadi atas diriku.

“Pak!, ada apa ?” sekonyong-konyong salah seorang pelayan hotel menegurku. Aku tersadar dan gelegapan.

“Oo… tidaK, tidak apa-apa, aku cuma mimpi buruk” jawabku sekenanya.

Pelayan itu lalu pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya setelah sarapan pagi di meja. Aku masih bingung, kulihat ke jendela, Matahari telah berpijar. Setengah sadar aku beranjak bangun. Dengan langkah pelan kutinggalkan tempat tidur menuju kamar mandi tanpa kuasa menepis sisa mimpi yang masih terasa membayangiku.

Lancaran Permai, 25 Juni 2005

By Fawaidurrahman Posted in Sastra

Sang Pemburu

akulah pemburu
tak pernah kehabisan peluru
biar kau sembunyi di batu mati
atau terbang seperti jibril
darahku terus mengalir
tangan kian merentang
dan kau mangsa kerinduanku

kembalilah ke bait-bait puisiku
sebelum kata menjadi bisu

By Fawaidurrahman Posted in Sastra

MERETAS POSISI EKONOMI SYARIAH DI TENGAH PUSARAN EKONOMI LAIN

Oleh: Fawaidurrahman

Kebengkokan Faktual: Sebuah Prolog

 

Pelaksanaan ekonomi syariah dengan prinsip-prinsipnya diharapkan dapat menghasilkan  masyarakat sejahtera atau  madani yang marhamah secara material dan spiritual, sebagaimana yang pernah terjadi di jaman Rasulullah SAW.[1] Namun demikian, masih banyak orang yang belum memahami dengan baik dan benar tentang falsafah dan bangunan dari ekonomi syariah sehingga akhirnya banyak ditemui kekeliruan dalam mengimplementasikan ekonomi syariah. Salah satu contoh yang dapat dikemukakan disini yaitu bagaimana perbankan syariah sebagai suatu sub-sistem dari ekonomi syariah dijalankan hanya dengan mengadopsi model perbankan konvensional yang menjadi alat kapitalis dalam upaya menumpuk kekayaannya. Bagaimana mungkin, model sub-sistem dari suatu sistem ekonomi konvensional yang telah gagal memenuhi harapan pengikutnya dapat digunakan untuk mewujudkan masyarakat madani?

Lebih jauh lagi, produk atau akad pembiayaan yang digunakan oleh bank-bank syariah, bahkan oleh Islamic Development Bank (IDB) sekalipun, masih didominasi dengan akad murabahah.[2] Lebih memprihatinkan lagi bila kita mendengar ucapan praktisi bank syariah yang mengatakan bahwa strategi ekspansi pembiayaannya diarahkan pada sektor konsumtif.[3] Barangkali suatu apologi yang dapat diterima dari keadaan seperti ini adalah bahwa kita masih berada dalam proses pembelajaran dan tahap pengembangan lembaga keuangan syariah. Tetapi akan sampai berapa lama proses tersebut berlangsung? Sudah berapa lama institusi IDB berjalan tetapi hingga kini masih tetap merasa nyaman dengan akad murabahahnya?. Masih banyak diantara kita yang mempersoalkan pemakaian istilah ‘islam’ atau ’syariah’ sehingga Bank Indonesia sendiri merasa perlu untuk mewajibkan bank yang beroperasi secara syariah menggunakan kata “syariah” pada nama bank tersebut sekedar untuk membedakannya dengan bank yang beroperasi tidak secara syariah (bank konvensional).

Kekeliruan fatal bisa terjadi, dimana bank yang tidak menggunakan kata “syariah” pada nama bank tersebut seolah-olah tidak syariah atau islami. Padahal di Amerika saja, bank-bank yang beroperasi secara syariah seperti Bank of Whittier, California,  tidak perlu harus menggunakan embel-embel “syariah” pada nama bank tersebut. Tingkat pemahaman masyarakat kita ternyata masih berada pada tahap pengenalan simbol dan jargon, masih berada pada tahap pengembangan ghirah (semangat) berekonomi syariah dan belum sampai pada tahap yang lebih substantif, yaitu bagaimana menerapkan prinsip-prinsip ekonomi syariah diatas dalam setiap nafas kehidupan ekonomi keluarga, masyarakat dan negara. Apalagi kalau kita menyadari bahwa pola pikir dan pola hidup kita selama ini sebenarnya, disadari atau tidak, telah dibatasi oleh pengetahuan dan pemahaman yang nyaris semuanya berlandaskan faham kapitalis.

Faham kapitalis telah meracuni pikiran dan kehidupan kita semua, baik pemerintah, pelaku bisnis, masyarakat awam, bahkan para kyai dan ustadz. Satu contoh kecil misalnya, kegiatan pinjam meminjam uang dianggap sebagai kegiatan komersial/bisnis sehingga pihak yang meminjam harus memberikan kelebihan atas uang yang dipinjamnya. Hal ini diterima oleh masyarakat sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, dalam islam, kegiatan tersebut tidak termasuk dalam kegiatan komersial/bisnis, tetapi merupakan kegiatan tolong menolong, dimana peminjam tidak berkewajiban untuk memberikan kelebihan atas uang yang dipinjamnya, sementara pihak yang meminjamkan uang tersebut akan mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT.

Suatu kekonyolan dimasa lalu terjadi dimana kita merasa bangga bilamana kita mampu mendapatkan pinjaman yang besar dari Bank Dunia atau IMF atau bank-bank luar negeri dengan alasan bahwa kita semakin dipercaya oleh badan-badan Internasional tersebut. Padahal justru dengan pinjaman itulah kondisi bangsa ini menjadi terpuruk. Pinjaman tersebut mewajibkan kita untuk mengembalikan pokok pinjaman plus bunga, terlepas dari apakah kita mampu atau tidak mampu memenuhinya. Penerapan bunga tersebut telah melanggar prinsip ekonomi syariah diatas. Contoh kekeliruan lain yang sudah menjadi kelaziman di masyarakat kita dan masyarakat dunia lain akibat pengaruh faham kapitalis adalah tentang nilai uang kertas/koin yang kita miliki. Kita selama ini menganggap bahwa uang kertas/koin tersebut merupakan representasi dari kekayaan dan oleh karenanya dapat berkembang/bertambah dengan sendirinya. Uang dianggap sama dengan barang yang bisa diperjual belikan.

Akibatnya, kita terjebak dengan kehidupan yang serba ribawi, baik ditingkat masyarakat bawah maupun atas, bahkan ditingkat negara. Faham kapitalis yang tidak memiliki landasan spiritual tersebut telah merusak sendi-sendi kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat kita, bahkan masyarakat dunia, selama berabad-abad. Kekayaan alam bangsa kita telah nyaris habis terkuras oleh negara-negara maju melalui lembaga keuangan Internasional tersebut sebagai akibat dari praktek rente. Barangkali diperlukan sekurang-kurangnya satu generasi untuk merubah kondisi masyarakat yang telah diracuni oleh faham kapitalis untuk menuju masyarakat madani.

Masih banyak diantara kita yang berpandangan bahwa syariah menempati posisi yang paling utama di dalam kehidupan sosial dan ekonomi sehingga seolah-olah aspek syariah tersebut tidak dapat dan tidak boleh berubah. Padahal syariah memiliki sifat relatif, yang bisa berubah setiap saat mengikuti perkembangan zaman, kemajuan sain dan teknologi serta peradaban manusia.[4] Pandangan yang keliru tersebut telah mengakibatkan stagnasi dalam sejarah perkembangan islam sehingga tidak mengherankan bilamana sampai sekarang ini pintu ijtihad seolah-olah telah tertutup. Kebebasan berfikir dan berkreatifitas sebagai salah satu prinsip dasar ekonomi syariah tidak berfungsi dengan baik. Kejayaan Islam yang dilandasi oleh semangat ijtihad dimasa lalu seolah-olah tidak akan mungkin muncul kembali.

Landasan Aksiologis Ekonomi Islam

Banyak sekali keterangan dari al-Qur’an yang menyinggung masalah ekonomi, baik secara eksplisit maupun implisit. Bagaimana jual-beli yang baik dan sah menurut Islam, pinjam meminjam dengan akad-akad yang sah sampai dengan pelarangan riba dalam perekonomian. Walaupun pada kitab suci sebelumnya juga pernah disebutkan, dimana perbuatan riba itu dibenci Tuhan. Sedangkan pada tatanan teknisnya diperjelas dengan hadis serta teladan dari Rasulullah dan para alim ulama.

Dari namanya sudah dapat dipastikan bahwa secara ideologi, sistem ekonomi Islam kental dengan nuansa keislaman. Sistem ekonomi Islam memberikan tuntunan pada manusia dalam perilakunya untuk memenuhi segala kebutuhannya dengan keterbatasan alat pemuas dengsn jalan yang baik dan alat pemuas yang tentunya halal, secara dzatnya maupun secara perolehannya.

Objek kajian sistem ekonomi Islam adalah homo-economy-religius,[5] dimana secara fitrah manusia membutuhkan pengejewantahan rasa berkeTuhanan dengan melakukan nilai-nilai syariat Islam. Tanpa harus memandang sisi sistem ekonomi Islam sebagai ekonomi posistif dan normatif. Sedangkan objek kajian yang lain adalah sebagai bagian dari manusia yang belum menerima hidayah dan tengah tenggelam dalam kehidupan parsial. Sebuah derivisi dari kesejatian dalam ber-Islam diharapkan bisa memberikan kesejahteraan bagi semua manusia, sebagaimana Islam diturunkan untuk makhluk di bumi ini agar selamat sejahtera.

 

Sekilas Overview Ekonomi Islam di Indonesia

Kebangkitan ekonomi umat Islam di Indonesia bersamaan dengan kebangkitan umat Islam secara global. Ada sedikit perbedaan wacana antara perkembangan pemikiran ekonomi Islam di Indonesia dengan yang terjadi di berbagai belahan dunia Islam lainnya terutama di Timur Tengah. Lebih dari separoh pertama abad dua puluh ini para ulama dan tokoh masyarakat Islam di Indonesia lebih memikirkan bagaimana nasib ekonomi umat Islam yang dari dulu tidak pernah dibenahi dan selalu dipinggirkan oleh penjajah Belanda.

Karena itu mereka agaknya kurang waktu untuk memikirkan dan menggali sistem ekonomi Islam tersendiri yang rohnya diambil dari al-Quran dan Sunnah. Rasanya kita belum menemukan tulisan-tulisan dari para tokoh Islam sendiri yang mencoba menjelaskan Islam secara komplit dan integratif dibarengi dengan pengajuan Islam sebagai sistem kehidupan bukan saja dalam bidang keagamaan melainkan juga dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan dan lain-lain.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya umat Islam, sistem ekonomi syariah harus dilaksanakan sebagai sistem ekonomi yang universal, yang mengedepankan transparansi, keadilan dan good governance dalam pengelolaan usaha dan asset-asset negara. Di mana praktik ekonomi yang dijalankan berpihak pada rakyat kebanyakan dan berpihak pada kebenaran.

Perjalanan waktu menunjukkan, bahwa ekonomi syariah bisa menjadi pilihan untuk mengatasi masalah umat yang saat ini masih mengalami krisis ekonomi. Adalah menjadi tantangan bagi para pelaku ekonomi syariah untuk lebih meningkatkan pemahaman umat soal prinsip ekonomi syariah, karena mereka akan menjadi pasar potensial bagi penerapan ekonomi syariah yang bukan tidak mungkin akan menjadi batu loncatan bagi penerapan hukum syariah di semua aspek kehidupan yang menjadi impian banyak umat Islam di negeri ini.

Di Indonesia, praktek ekonomi Islam, khususnya perbankan syariah sudah ada sejak 1992. Diawali dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Bank-bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Namun, pada decade hingga tahun 1998, perkembangan bank syariah boleh dibilang agak lambat. Pasalnya, sebelum terbitnya UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, tidak ada perangkat hokum yang mendukung sistem operasional bank syariah kecuali UU No. 7 Tahun 1992 dan PP No. 72 Tahun 1992.[6]

Berdasarkan UU No. 7 Tahun 1992 itu bank syariah dipahami sebagai bank bagi hasil. Selebihnya bank syariah harus tunduk kepada peraturan perbankan umum yang berbasis konvensional. Karenanya manajemen bank-bank syariah  cenderung mengadopsi produk-produk perbankan konvensional yang “disyariatkan”. Dengan variasi produk yang terbatas. Akibatnya tidak semua keperluan masyarakat terakomodasi dan produk yang ada tidak kompetitif terhadap semua produk bank konvensional. Peraturan itu menjadi penghalang bagi berkembangnya bank syariah, karena jalur pertumbuhan jaringan kantor bank syariah yang telah ada.

 

Posisi Ekonomi Islam

 

Sebelum sampai kepada sebuah ulasan dimana posisi Islam di antara sistem ekonomi yang ada di Indonesia (baca: ekonomi Neo-Liberal dan Kerakyatan), penulis akan mencoba memberikan ilustrasi tentang beberapa prinsip dalam sistem ekonomi Islam:

Pertama, Aset adalah milik Allah. Hal ini didasarkan pada sebuah kalam Allah “.. dan berikanlah kepada mereka sebahagian harta Allah yang dikuniakan-Nya kepadamu …”[7]. Prinsip ini secara langsung menafikan kepemilikan mutlak manusia atas suatu aset dan komoditas. Kedua, Bebas Riba, prinsip ini didasarkan pada  ayat al-Quran“… padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba …”[8] Meski masih dalam perdebatan, namun sistem bunga yang dianut perekonomian dunia saat ini telah menampakkan mudharat yang tidak sedikit. Ketiga, Keadilan sosial. “… supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu …”[9] Prinsip ini menuntut intervensi penguasa dalam distribusi aset dan produksi kepada seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya yang bermodal.

Keempat, jaminan Sosial. “… dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).[10] Prinsip ini menggariskan bahwa di dalam modal dan aset seorang pengusaha terdapat hak bagi orang lain. Jumlah hak ini  bisa dihitung, dan harus dikeluarkan atau diambil dari pengusaha tersebut.  Kelima, kerelaan dalam bertransaksi. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.[11] Karena itu, pemaksaan dan penipuan misalnya, benar-benar terlarang dalam ekonomi Islam.

Keenam, Jujur, amanah, dan transparan. Nabi saw. bersabda: “Pebisnis yang jujur dan amanah akan dibangkitkan bersama para nabi, para shiddiq, dan orang-orang saleh” (HR Tirmidzi). Prinsip ini menekankan aspek moralitas dan integritas para pelaku ekonomi. Tanpa aspek ini, akan timbul tindakan korupsi, manipulasi dan sebagainya. Ketujuh, kelonggaran. “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.[12]. Prinsip paling indah dalam ekonomi Islam adalah anjuran dan janji amat baik bagi mereka yang mau berbesar hati menangguhkan pembayaran utang bagi yang berkesusahan. Bukan, malah memberikan sanksi dan denda yang berlipat-lipat.

Setelah memperhatikan prinsip-prinsip di atas, Islam tampaknya mengambil posisi tidak sebagai tandingan (lawan) ataupun sandingan (kawan). Sistem ekonomi Islam lebih menekankan prinsip dan warna bagi suatu sistem, dan bukan merupakan sistem itu sendiri. Artinya, Ekonomi Liberal dapat  menjadi ekonomi Islam, manakala prinsip dan warnanya diselaraskan. Demikian pula ekonomi kerakyatan. Dia menjadi eknomi Islam ketika prinsip-prinsip syariah mennjadi dasar dan kerangkanya.

Ekonomi Islam berada di tataran ideologis, moralitas, dan etika, tidak pada tataran teknik operasional dan detil yang lain. Karena itu, sistem apapun, baik liberal, sosial, kerakyatan dan sebagainya, selama menerapkan prinsip-prinsip etika Islam, maka itu bukanlah cela untuk disebut sebagai Ekonomi Islam atau Ekonomi Syariah.

 

The Future Expectation: Sebuah Catatan Penutup

Masyarakat madani bukanlah suatu hal yang mustahil untuk diwujudkan, mengingat kondisi tersebut pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW dan Islam sendiri pernah pula mengalami masa keemasan, dimana peradaban dan kebudayaan Islam berhasil menguasai jazirah Arab, Asia Barat dan Eropa Timur sejak abad ke sebelas sampai dengan awal abad ke tigabelas Masehi. Tetapi, untuk dapat mewujudkan masyarakat madani yang kita harapkan bersama, diperlukan suatu upaya besar dan berjangka panjang. Kita harus mampu merubah paradigma berfikir dan berperilaku dari masyarakat kita yang selama ini dipengaruhi oleh faham dan cara-cara kapitalis.

Perubahan tersebut harus diikuti dengan pengembangan kelembagaan, model, instrumen dan kebijakan yang dituangkan dalam suatu Arsitektur Ekonomi Syariah yang menjadi pedoman arah pengembangan ekonomi syariah kedepan dalam rangka mewujudkan masyarakat madani, “baldatun toyyibatun warobbun ghofur“. Untuk itu, diperlukan pemikiran dan diskursus diantara praktisi, akademisi/cendekiawan, pemerintah dan para alim ulama untuk merumuskan sistem atau arsitektur ekonomi syariah tersebut sehingga momentum pengembangan ekonomi syariah yang kita miliki saat ini tidak berlalu begitu saja, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal dan menjadi solusi bagi berbagai persoalan ekonomi dan sosial bangsa ini tanpa harus terjebak dengan slogan simbolik “Syariah-isme”. Wallahu a’lam Bissawab.


[1] Hal ini bisa dilihat semisal dalam sejarah perkembangan ekonomi Islam walaupun waktu dulu belum disinggung mengenaik perekonomian secara sistemik melainkan hanyalah sebuah realitas perekonomian yang sehat dan menyejahterakan. Lebih detailnya lacak Akhmad Mujahidin, Ekonomi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2007), hlm. 2-3.

[2] Realitas perekonomian Indonesia diakui atau tidak masih mengandung sistem murabahah. Hal ini dapat diukur dengan analogi riba dengan sistem bunga yang memiliki kesamaan yang berarti az-ziyadah yang dalam pengertian fikih didefinisikan dengan kullu qordin Jarra Naf’an fahuwa riba. Lacak dalam al-Syarbini, Al-Iqna’, (Indonesia: Dar ihya’ al-Kutub al-Arabi,tt) II: 6.

[3] Kecenderungan tersebut penulis dapatkan ketika penulis mengikuti pelatihan BMT, yang mana salah satu pembicaranya mengatakan yang demikian.

[4] Prinsip tersebut searah dengan istilah Ushul Fikih Taghayyar al-Hukm bi Taghaiyyur al-azmina wa al-amkina. Wahbah az-Zuhaili, Uşūl Fiqh al-Islami, (Damaskus: Dar al-Fikr, 1986). hlm. 835.

[5] Konsep tersebut penulis dapatkan dari Hand Out Mata Kuliah Ekonomi Islam yang disampaikan oleh Syafa’ul Mudawam, 2006.

[6] Lacak Muhammad Ridwan, Konstruksi Bank Syariah Indonesia, (Yogyakarta: Garas Comm, 2007), hlm. Vii.

[7] QS An Nur [24]: 33

[8] QS Al Baqarah [2]: 275

[9] QS Al Hasyr [59]: 7

[10] QS Al Ma’arij [70]: 24-25

[11] QS An Nisa [4]: 29

[12] QS Al Baqarah [2]: 280

MANTAP

KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM KAJIAN HADIST (Melacak yang Terlupakan)

oleh: Fawaidurrahman

PENDAHULUAN

Kajian tentang perempuan dan kesetaraan merupakan sebuah kajian yang tidak pernah surut dalam tiap ruang dan waktu. Sekalipun telah berulang-kali dibahas dalam banyak ruang, selalu saja ada upaya penyegaran yang tidak kalah signifikan untuk mengkaji ulang tentang hal tersebut. Hal ini disebabkan oeh sebuah konstruk masyarakat yang seolah menempatkan perempaun dalam posisi minor, dari dahulu, mungkin, hingga sekarang.

Hal tersebut masih terasa janggal dalam tataran realitas keindonesiaan. Walaupun presiden ke-empat tiada lain adalah seorang perempuan, kejanggalan itu tampak semisal pada kuota perempuan dalam kursi parlemen yang hanya diberi jatah 30% (tiga puluh persen). Penulis masih curiga, jangan-jangan adanya kuota 30% tersebut masih karena “keterpaksaan demokratisasi simbolik”. Sebab realitasnya, jumlah perempuan yang duduk di kursi parlemen hanya sekilintir orang, tidak sampai 30%.

Demikian halnya pada ranah ibadah (baca: shalat). Perempuan masih dianggap tidak qualified untuk memimpin shalat, bahkan ada yang mengharamkan. Hal ini dalam diamati ketika Pada 18 Maret 2005, seorang Amina Wadud Muhsin, seorang feminis Islam dari Amerika Utara, memimpin shalat Jum’at yang diikuti oleh 100 orang jamaah, baik laki-laki maupun perempuan di sebuah gereja Anglikan, Manhattan, New York, AS. Peristiwa ini mendapatkan kecaman publik, tidak hanya di Amerika tapi juga di seluruh dunia, bahkan sekelompok orang di Amerika mengancam akan meledakkan bom di tempat berlangsungnya shalat Jumat yang sedianya akan dilakukan di Sundaram Tagore Gallery. Namun, dengan pertimbangan keamanan, akhirnya dipindahkan di gereja.[1] Ironisnya, diantara orang-orang yang mengecamnya ada yang sekelamin dengan Amina Wadud, khususnya muslimah Indonesia yang memang masih merasakan “tabuisme” terhadap hal-hal yag terkait dengan wacana kesetaraan gender.

Terkait dengan fenomena tersebut, makalah ini akan mencoba melacak perspektif hadis tentang kepemimpinan perempuan secara global yang akan mencoba untuk sedikit melakukan warming up, kemudian mencoba menawarkan sebuah upaya rekontruksi terhadap konstruk kemapanan dalam masyarakat yang terkait tentang kepemimpinan yang masih cenderung patriarkhal. Selamat membaca.

PEMBAHASAN

A. Sekilas Kepimpinan Perempuan dalam “Teks” Hadis

Ada sebuah hadis yang selalu dijadikan sebagai alat untuk melegimasi superioritas seorang laki-laki dalam kepemimpinan. Yakni sebauh riwayat Abi Bakarah r.a;

حدثنا عثمان بن الهثيم حدثنا عوف عن الحسن عن أبي بكرة قال: “لقد نفّعني الله بكلمة سمعتها من رسول الله صلى الله عليه وسلم أيّام الجمل بعدما كدتُ أن ألحقَ بأصحاب الجمل فأقاتل معهم. قال: لمّا بلغ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم أنّ أهل فارس قد ملّكوا عليهم بنت كسرى قال: لن يفلح قوم ولّوا أمرهم إمرأة”[2]

“….Ketika sampai kepada Nabi berita tentang bangsa Persia yang mengangkat anak perempuan Kisra sebagai Ratu mereka, Nabi bersabda: “Tidak akan bahagia suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.””

Letak kata kunci dari matan hadis tersebut adalah kalimat لن يفلح  dimana “lan” memiliki fungsi sebagai huruf nafi lil-istiqbal, yang menafikan kemungkinan yang akan terjadi. Sementara ”yuflih” yang berasal dari fi’il madhiaflaha” dalam kamus al-munawwir memiliki arti berhasil baik (sukses; najah)[3] terdiri dari fi’il mudhari’ memberikan pemaknaan akan sebuah kesuksesan pada waktu itu dan atau di masa mendatang. Kemudian kalimat “wallau” yang memiliki arti menguasakan atau mempercayakan.

Yang perlu disoroti dari bangunan kalimat tersebut adalah tiadanya forbidden statement (ungkapan pelarangan), melainkan sebatas “peramalan” akan sesuatu yang masih belum pasti karena masih bersifat asumtif yang tidak niscaya, walaupun “disampaikan oleh Nabi”. Tapi kemungkinan mengandung makna lain di balik statemen tersebut, masih perlu untuk dilacak bersama lewat sentuhan historis-sosiologis.

Hadis diatas diriwayatkan oleh seorang Bukhari yang dalam pemahaman ulama’ salaf semua hadisnya tidak perlu dipertanyakan, sehingga sebagian besar ulama menerima bulat-bulat hadis ini. Memang, secara sanad, hadis tersebut memiliki mata-rantai perawi yang dalam perspektif kritikus hadis “kesemuanya” dipandang siqah. Dengan demikian, besar kemungkinan—untuk tidak mengatakan pasti—hadis tersebut ittshal, benar-benar merupakan hadis Nabi.

Namun demikian, ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa perawi pertama (Abu Bakrah) pada masa khalifah Umar bin Khattab, pernah dihukum cambuk karena memberi kesaksian palsu terhadap tuduhan zina al-Mughiroh bin Syu’bah.[4] Dalam menguji kualitas hadis, ittishal as-sanad tidak hanya menjadi persyaratan, melainkan kualifikasi dalam segi moralitas perawi juga dapat menjadi salah satu unsur valid atau tidaknya sebuah hadis.

Karena riwayat mengenai kecacatan Abu Bakrah banyak tidak terbaca oleh para kritikus hadis yang lain, hadis tersebut berimplikasi pada konstruk pemikiran ulama’ salaf serta-merta memberikan larangan mutlak terhadap kepemimpinan perempuan dengan memberikan persyaratan adanya keharusan berjenis kelamin laki-laki untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Hal tersebut tampak dalam pelbagai pendapat Imam Ghazali, Ibn Hazm, Kamal ibn Abi Syarif, dan Kamal ibn Abi Hammam, yang menurut Yusuf Musa, para imam tersebut mensyaratkan seorang laki-laki untuk dapat diangkat menjadi pemimpin.[5]

B. Melacak Yang Terlupakan

Terlepas dari riwayat tentang kecacatan Abu Bakrah, dalam memahami hadis tersebut perlu dicermati keadaan yang sedang berkembang pada saat hadis tersebut disabdakan (social setting). Sebelum Nabi menyampaikan statemen tersebut, Nabi pernah mengirim surat kepada banyak pembesar negeri sekitar arab untuk memeluk Islam. Kisra Persia merupakan salah satu pembesar yang dikirim surat oleh Nabi yang kemudian pembesar Persia menyobek surat Nabi tersebut. Dengan kejadian tersebut Nabi mengeluarkan sebuah statemen “Orang yang merobek surat itu, dia pun akan dirobek-robek (akan mengalami kekacauan).”[6]

Jelang beberapa decade, kerajaan Persia mengalami kekacauan dalam berbagai bidang seperti halnya yang menjadi hipotesa Nabi. Raja persia dibunuh anaknya sendiri. Kerajaan kemudian diganti kepada anak perempuannya (Buwaran), yang kemudian membawa kehancuran kerajaan Persia karena memang tidak memiliki kualifikasi seorang pemimpin yang adil, bijaksana, visioner, dan karakteristis kepemimpinan lainnya, melainkan hanya kepentingan ingin berkuasa (harsh: tamak).[7]

Hadis tentang kepemimpinan perempuan diatas tidak bisa dipisahkan dari hadis kedua (أن يمزق كل ممزق) yang juga dapat menjadi asbab al-wurud mikro dari hadis pertama. Dengan demikian, hadis yang mengandung pelarangan perempuan untuk menjadi pemimpin merupakan hipotesa Nabi, informasi, atau boleh jadi doa Nabi karena kerajaan Persia telah merobek surat ajakan damai masuk islam dari Nabi.

Kalau kita lebih jauh menjangkau konteks makro dari social-culture masyarakat dimana Nabi pada waktu itu menyampaikan statement tersebut, kita akan mendapatkan suasana yang memang—lagi-lagi—patriarkhal. Dimana perempuan masih tidak memiliki wibawa di mata masyarakat arab—atau bahkan di mata dunia. Sangat kecil kemungkinan suatu tatanan masyarakat akan mencapai tingkat kesejahteraan jika orang yang memimpin itu adalah orang yang tidak dihargai oleh masyarakat yang dipimpinnya. Sebab, salah satu syarat untuk menjadi seorang pemimpin adalah kewibawaan, sedangkan perempuan pada saat itu perempuan tidak memiliki wibawa untuk menjadi pemimpin.

C. Analisa-Kritis Kepemimpinan Perempuan

Dengan berbagai deskripsi diatas, penulis tidak mendapatkan adanya sebuah pelarangan yang bersifat syar’i terkait dengan kepemimpinan perempuan. Mengalisa hadis diatas, penulis mendapatkan tiga (3) subject matter yang dapat dijadikan sebuah kunci utama dalam mengkritisi hadis tersebut. Pertama, tentang status perawi pertama (Abu Bakrah) yang menurut sebagian kritikus hadis memiliki cacat moral.

Kedua, asbab al-wurud mikro yang menurut penulis sangat politis, spesifik, dan tidak rasional jika dipaksakan untuk menjeneraliris realitas masyarakat yang berbeda baik ruang maupun waktu. Ketiga, social-setting makro dari masyarakat pada waktu itu yang masih sangat patriakhal, sehingga kepemimpinan perempuan masih perlu untuk dihindari karena perempuan pada waktu itu masih unqualified.

Dengan demikian, adanya penafsiran yang kemudian menjadi alat untuk melegitimasi superioritas laki-laki dalam kepemimpinan, perlu untuk didekonstruksi. Perbedaan biologis tidak berarti menimbulkan ketidaksetaraan dalam kehidupan. Fungsi-fungsi biologis harus dibedakan dari fungsi-fungsi sosial.[8] Dalam kepemimpinan, nilai yang dianggap paling dominan adalah kualitas kepribadian yang meliputi kemampuan, kapasitas, ghiroh, dan skill. Kepemimpinan erat kaitannya dengan politik, dalam hal ini perempuan memiliki hak politik yang sama dengan kaum laki-laki. Hak politik perempuan artinya hak untuk berpendapat, untuk menjadi anggota lembaga perwakilan, dan untuk memperoleh kekuasaan yang benar atas sesuatu seperti memimpin lembaga formal, organisasi, partai dan negara.[9]

Sejauhmana seorang pemimpin dapat bertanggungjawab dengan semua kinerja secara professional, itulah kunci utama dalam sebuah kepemimpinan yang diserukan oleh Nabi dengan statemennya:

كلكم راع وكلكم مسوءول عم رعيته, متفـق علـيه عن ابن عمر به مرفوعا.[10]

Hadis tersebut dapat menjadi alat untuk membendung justice claim terhadap pelbagai stigma miring kepemimpinan perempuan. Adanya penafsiran secara parsial terhadap hadis yang dijadikan alat untuk memposisikan perempuan inferior dari laki-laki perlu untuk mendapat sentuhan kritis. Disinilah perlunya kita kembali kepada prinsip mengambil apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data yang objektif yang sesuai dengan kondisi dimana dan kapan kita berada.

Dengan demikian, siapapun dapat menjadi seorang pemimpin. Yang terpenting adalah sejauhmana dia memiliki kreteria seorang pemimpin yang menurut Ibn al-Qayyim dia “benar-benar mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan menjauhkan kerusakan dari mereka, sekalipun ia tidak dilakukan oleh Nabi Saw dan tidak diturunkan dalam teks-teks wahyu”[11]

PENUTUP

Dengan ekplorasi sekaligus analisa diatas, bone of contention yang penulis dapatkan, bahwa faktor jenis kelamin tidak dapat menjadi kendala dalam proses menjadi seorang pemimpin. Entah perempuan maupun laki-laki sah untuk memimim, jika secara kualitas telah memenuhi kreteria kepemimpinan yang ideal.

Hadis ataupu teks yang lain yang salama ini dijadikan alat untuk mensubordinasi posisi perempuan harus dikaji ulang terkait kualitas, social-setting, historisitas, dan konten dari teks tersebut. Jangan-jangan, teks tersebut tidak bersifat teologis, melainkan sosiologis-politis yang dalam pemaknaan Asghar dikelompokkan dalam nash practice-contextual.[12]

Ketika teks baik ayat maupun hadis bersifat sosiologis-politis, teks tersebut tidak dapat dijadikan alat untuk menjeneraliris terhadap pelbagai hal yang telah mengalami dinamisasi. Dalam artian, teks tersebut selesai pada saat teks itu ada dan tidak dapat dipaksakan untuk konteks yang lain. Sesuai dengan prinsip ushul fikih “الحكم يدور مع علته وجودا وعدما”.

Apologia prolibro suo, tiada gading yang tak retak. Sebagai sebuah tafsir manusia, pembahasan tentang kepemimpinan perlu untuk selalu dikaji ulang. Sebab, Tafsir sebagai metode ijtihad untuk memahami maksud Syari’ dalam kaitannya dengan realitas sosial yang berkembang, pasti bersifat dinamis dan relatif. Dinamis artinya bergerak mengikuti tuntutan realitas dan relatif berarti kebenarannya tidak bersifat mutlak, tetapi terkait dengan konteks sosial tertentu. Tafsir-tafsir yang terkait dengan fenomena alam dan sosial tidak bersifat final dan mutlak. Sepanjang peradaban Islam, tafsir-tafsir ini mengalami perubahan dan penyesuaian dengan bukti-bukti pengetahuan alam dan sosial. Wallahu a’lam.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Asir, Ibn. Usd al-Gabah fi Tamyiz al-sahabah. t.t.: Dar al-Fikt, t.t.

Al-‘Asqolani, Ibnu Hajar. Fath al-Bāri: Syarh Shahih al-Bukhari. Jus VIII. Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cet. IV, 2003.

As-Sikhawi, Syamsuddin Muhammad. al-Maqosid al-Hasanah. Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1987.

Engineer, Asghar Ali. Hak-Hak Perempuan dalam Islam. terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf. Yogyakarta: LSPPA & CUSO, 1994.

Ilyas, Hamim dkk.. Perempuan Tertindas: Kajian Hadis-Hadis “Misoginis”. Yogyakarta: elSAQ Press dan PSW, cet. III, 2008.

Nasution, Khoiruddin. Fazlur Rahman tentang Wanita. Yogyakarta: Tazzafa dan Academia, 2002.

Munawwir, A.W. Kamus Al-Munawwir. Surabaya: Pustaka Prograsif, Edisi II, Cet. XIV, 1997.

Subhan, Zaetunah. Perempuan dan Politik dalam Islam. Yogyakarta: LKIS, 2006.

Yusuf Musa, Muhammad. Politik dan Negara dalam Islam. terj. M. Thalib. Yogyakarta: Pustaka LSI, 1991.

Sumber lain:

http://www.rahima.or.id/


[1] diakses tanggal 31 Maret 2008 dari http://abdennurprado.wordpress.com/2005/03/10about-the-friday-prayer-led-by-amina-wadud.

[2] Ibnu Hajar al-‘Asqolani, Fath al-Bāri: Syarh Shahih al-Bukhari, Jus VIII, (Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cet. IV, 2003), hal. 160. Hadis tersebut juga dapat dilacak dalam Syamsuddin Muhammad as-Sikhawi, al-Maqosid al-Hasanah, (Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1987), hal. 343. Dalam kitab ini disertai perbandingan dengan riwayat-riwayat yang lain semisal riwayat at-Thabari yang menyatakan “لن يفلح قوم يملك رأيهم إمرأة”  atau riwayat Ahmad “لن يفلح قوم أسندوا أمرهم إمرأة” dan sebagainya.

[3] A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Prograsif, Edisi II, Cet. XIV, 1997) hal. 1070.

[4] Riwayat tersebut penulis temukan dalam Hamim Ilyas, Perempuan…,hal. 287 yang juga dinisbatkan terhadap kitab karangan Ibn al-Asir, Usd al-Gabah fi Tamyiz al-sahabah, (t.t.: Dar al-Fikt,t.t.), V: 38.

[5] Hal tersebut dapat dilacak dalam Muhammad Yusuf Musa, Politik dan Negara dalam Islam, terj. M. Thalib (Yogyakarta: Pustaka LSI, 1991), hal. 60. Hal serupa juga pernah dibahas oleh Nizar Ali, ”Kepemimpinan Perempuan dalam Dunia Politik” dalam Hamim Ilyas,dkk, Perempuan Tertindas: Kajian Hadis-Hadis “Misoginis”, (Yogyakarta: elSAQ Press dan PSW, cet. III, 2008), hal. 380.

[6] Kejadian itu tertuang dalam sebauh hadis “أن يمزق كل ممزق” untuk lebih lengkapnya lacak dalam Ibnu Hajar al-‘Asqolani, Fath al-Bāri… hal. 159.

[7] Ibid. hal. 161

[8] Asghar Ali Engineer, Hak-Hak Perempuan dalam Islam (Yogyakarta: LP3ES 1994), hal. 59.

[9] Zaetunah Subhan, Perempuan dan Politik dalam Islam (Yogyakarta: LKIS, 2006), hal. 39.

[10] Syamsuddin Muhammad as-Sikhawi, al-Maqosid…hal. 325

[11] Hal ini penulis temukan dalam http://www.rahima.or.id yang diposting pada Senin, 08 Juni 2009 10:59

[12] Asghar Ali Engineer, Hak-Hak… hal. 61. Lihat juga dalam Khoiruddin Nasution, Fazlur Rahman tentang Wanita, (Yogyakarta: Tazzafa dan Academia, 2002), hal. 103.