KULIAH DI UNIVERSITAS KEHIDUPAN

oleh : Fawaidurrahman

ISLAM mengajarkan “long live education” (belajar sepanjang hayat), sebagaimana terdapat dalam pelbagai hadist Rasul, hal ini tidak perlu disangsikan lagi, kemudian muncul pertanyaan; menyapa harus belajar? Apa yang hendak diraih dari belajar? Dan apa yang harus dipelajarai?
***
Hakikat dari belajar adalah berpikir. Berpikir dilakukan untuk mencapai pemahaman tentang segala hal yang dipikirkan. Dengan pemahaman, kebenaran akan diperoleh dan dirasakan dalam kesadaran yang utuh.
Al-Quran dalam pelbagai ayatnya terus-menerus menggugah manusia untuk memikirkan dan merenungkan segala apa saja; sepanjang batas mata memandang; seluas cakrawala renung menerawang; dan sejauh kepekaan hati merasakan. Bahkan terhadap diri manusia sendiri Al-Quran berseru: “Renungkanlah!”.
Mengapa harus direnungkan? Al-Quran menjawab bahwa segala yang tampak ini, yang memperlihatkan harmoni gerak kehidupan yang mempesona ini, memikul sebuah tanda (ayat) tentang keagungan Tuhan. Dengan kata lain, alam semesta dan hidup ini sendiri tidaklah hadir (diciptakan) dengan sia-sia; tanpa makna (batil), melainkan semuanya bernuansa teologis (mengandung hikmah).
Selain itu, dari aktivitas “renung” itu manusia akan mendapatkan kesadaran tentang kedudukannya di tengah hiruk pikuk kehidupan ini. Ia akan sadar bahwa ia ada tidak dengan sendirinya. Bahwa ia memiliki eksistensi karena ada proses kehidupan, dan bahwa proses kehidupan itu tidak mengalir dengan sendirinya, tetapi dikendalikan oleh sebuah kekuasaan yang Maha Agung. Sehingga pada puncaknya ia sadar bahwa dirinya ciptaan Tuhan.
Kesadaran yang dirasakan seperti itulah yang akan terus bertambah seiring dengan bertambah jauhnya perjalanan hidup, dan seiring dengan kepekaan menangkap “hikmah dan pelajaran” Tuhan yang terkandung dalam pelajaran tersebut.
Belajar di “Universitas kehidupan” tidak akan dibatasi, tidak perlu biaya, dan tidak perlu ujian kecuali dengan masa, biaya, dan ujian hidup itu sendiri: tidak akan dipilah-pilih dalam “kotak-kotak” fakultas, tetapi terbentang sejauh pemahaman menjangkau dunia yang tampak dan tidak tampak; tidak ada yang akan membatasi kebesaran akademik, kecuali daya pemahaman itu sendiri.
Belajar di Universitas kehidupan, tidak ada referensi yang wajib dibaca kecuali “berita dari Tuhan” (Al-Quran) dan hidup itu sendiri; tidak perlu dibatasi dengan kurangnya metodologis semacam rasionalitas, tetapi dipaksa untuk sadar dan menfungsikan segenap aspek kemanusiaan secara utuh. Kita tahu bahwa manusia tidak hanya memiliki “rasio”, tapi juga ruhani. Sehingga ia seharusnya percaya dan bisa beraudiensi dengan dunia ghaib, juga nurani yang lebih bening dan memakai perkataan. Dan bukankah manusia yang hanya menfungsikan salah satu aspek saja dari aspek-aspek aktual kemanusiaannya itu tidak akan mampu memahami secara utuh.
Maka, ketika manusia telah memahami kehidupan secar utuh, bahkan ke alam yang tidak kasat mata, pengetahuan yang dihasilkan bukan sekedar “hipotesa” (Dhan) melainkan “pengetahuan yang meyakinkan” (Ilm Al-Yaqin), lalu kebenaran keyakinan itu sendiri (Haq Al-Yaqin), atau bahkan keyakinan itu sendiri (‘Ian Al-Yaqin). Sekalipun manusia yang mencapainya “diam seribu bahasa”, karena tidak semua orang yang bungkam itu tidak paham, dan tidak semua orang yang mahir berargumentasi paham terhadap realitas, sebab kemampuan berbicara dan menulis pada dasarnya hanyalah “keterampilan” mengungkapkan pikiran dalam kata, bukan indikasi memahami dan menjangkau kebeneran, tetapi perbuatanlah yang menunjukkan pemahaman yang benar terhadap kehidupan.
Seperti itulah “metode” belajar para Nabi, para manusia terbaik menurut Al-Quran. Sebagian mereka memang tidak tahu membaca dan menulis (Misal: Nabi Muhammad SAW), tetapi pemahaman yang utuh tentang kehidupan dapat dilihat dengan jelas dalam perbuatan dan gerak-gerik mereka. Mereka tidak pernah belajar dalam pengertian formal era kini, tetapi setiap apa yang terungkap oleh mereka adalah hikmah dan pelajaran bagi mereka. Mereka tidak pernah membaca bertumpuk-tumpuk buku, tetapi mereka menyimpan “perpustakaan kebenaran” yang membisu di lubuk hati mereka. Mereka memang tak pernah mengikuti ujian tulis dan lisan, tetapi mereka selalu lulus ujian kehidupan. Mereka memang terjun dalam ragam potensi kehidupan (Misal: Nabi Daud, sebagai pembuat baju besi, Nabi Yusuf Perdana Mentri, Nabi Sulaiman penguasa Negeri dan sebagainya), tetapi kesadaran diri sebagai seorang hamba benar-benar tertanam. Mereka memang tidak pernah tahu ilmu kalam, namun demikian mereka benar-benar merasakan kekuasaan Tuhan. Mereka menperjuangkan kebenaran, karena merekalah wakil (Khalifah) Tuhan di muka bumi. Demi kebenaran, bahkan diri sendiri mereka lawan. Sehinnga mereka memperoleh cahaya kebenaran yang hakiki dari Tuhan.
Akhirnya percayalah bahwa bersekolah dari tingkat SD hingga tingkat doktoral belumlah cukup untuk memahami kehidupan. Kini, sampai di manakah pemahaman kita tentang kehidupan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s