Sapu Tangan Merah Muda

Kenangan Belajar Menulis Cerpen..dahulu kala..hehehe

Oleh: Fawaidurrahman

Tun, tun…!

Deru sebuah bus jurusan Gilimanuk yang datang dari arah timur, berlaju pelan tepat di hadapanku. Kulihat bus padat itu siap memuntahkan penumpangnya Yang berdesakan. Lalu semburat menyerbu dan memasuki terminal. Pengeras suara mewartakan jalur yang akan dilalui bus itu. Belum juga bus itu berhenti benar, para penumpang berebutan keluar dari bus. Suara derap sepatu dari para penumpang memecah kesunyian.

Bus kembali berlalu meninggalkan para penumpangnya yang lelah. Suasana riuhpun lambat laun menghilang dan diganti suara hujan. Malam dingin menggigil, udara terasa membekukan sendi-sendiku. Angin yang berhembus disertai dengan derasnya hujan, membuat malam semakin terasa beku. Gemercik air hujan terdengar berjatuhan membentuk pulau-pulau yang menggelisahkan. Tak terdengar suara-suara binatang malam yang berbunyi, aku duduk terjebak hujan di terminal itu. Hujan seperti tumpah. Tapi bus yang kutunggu sejak sejam yang lalu, belum juga kelihatan ujung kepalanya. Kunyalakan sebatang rokok, kuhisap dalam-dalam sambil kusandarkan badanku pada salah satu kursi yang berjejer di terminal itu.

“Capek benar aku hari ini,” gerutuku. Sebagai seorang wartawan kecil di sebuah stasiun televisi swasta, mencari berita setiap hari membawa dan menyisakan kelelahan yang luar biasa. Tak jarang pula membawa sakit hati yang menjemukan.

Tak lama kemudian kulihat orang berbadan kurus berjalan melewatiku. Dengan penuh ketidak sabaran, kucoba untuk bertanya kepadanya tentang keterlambatan bus yang menuju Sanur.

“Permisi pak, boleh mengganggu sebentar?”

“Boleh, apa yang bisa saya bantu?” Bapak itu menjawabku penuh santun.

“Bus menuju Sanur akan tiba jam berapa, ya pak?”

“O…, adik belum tahu ya?, bus yang menuju Sanur ditunda sampai pukul sebelas nanti,” ujarnya sambil melihat arlogi yang ada di tangan kirinya dan menunjukkan pukul sembilan lewat tujuh menit.

“Terima kasih pak,” ucapku sambil menundukkan badan.

“Iya, sama-sama,”

Orang itupun lalu pergi meninggalkanku. Sunyi kembali menyapa, para pedagang di sepanjang terminal mulai mengemasi barang-barang jualannya. Dingin angin malam yang disertai hujan, membuat mereka enggan berjualan lebih lama lagi. Kucoba untuk duduk santai di kursi yang tadi kududuki semula, sambil melihat-lihat kekanan dan kekiri. Seketika itu, tanpa sengaja aku melihat samar-samar sosok wanita yang mengigil di bawah tiang terminal. Dengan langkah pelan kudekati dia dengan maksud ingin menolong, siapa tahu butuh bantuan. Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas wajah wanita itu.

Astaghfirullah, subhanallah!” aku terperanjat melihat kecantikan wanita itu yang begitu sempurna. Tapi mengapa ia berada di tempat seperti ini sendirian dan basah kuyup dan membuatku celegukan. Semakin kudekati, ia seperti ketakutan,  pancaran wajahnya membuatku terpesona.

“Tenang nona, jangan takut. Aku bukan orang jahat,” ujarku mencoba meyakinkannya bahwa aku memang ingin membatu. Namun, wanita cantik itu tetap seperti orang ketakutan, matanya menyurup-nyurup.

Masak keren-keren begini disangka orang jahat, gumamku dalam hati.

“Nona, namaku Afandi. Aku orang baik-baik. Jadi, nona tidak perlu takut denganku,” ucapku sambil menyodorkan kartu identitasku, ia sedikit tenang, namun, tak satupun kalimat keluar dari bibirnya yang tipis. “Sepertinya nona kedinginan, saya belikan kopi dulu oke, tunggu di sini ya,” ujarku sambil memberikan jaketku padanya. Sementara wanita itu hanya mengangguk  bisu.

Aku lalu melangkah setengah lari menuju tukang jual kopi yang tempatnya tidak jauh dari tempat wanita misterius tadi. Timbul banyak pertanyaan di dalam benakku tentang wanita misterius itu.

Sejenak sunyi.

Tun, tun…!

Deru bus jurusan Sanur, yang datang dari arah timur, memecah keheninganku. Tapi, aku tidak memperdulikan bus itu, walaupun sudah tiga jam lebih aku menunggu. Aku lebih memilih menolong wanita misterius itu. Karena menurutku, ia sangat memerlukan pertolonganku .

Namun, setelah aku mendekati tempat wanita itu tadi dengan membawa secangkir kopi, wanita misterius itu sudah tidak ada di tempat, ia hilang bagai ditelan kelam. Aku termangu setengah heran  penuh tanda tanya. Apakah ini hanya hayalanku saja  atau ia adalah hantu. Hi.., bulu kudukku bangun. Seketika kulihat ada sehelai kain berwarna merah muda ditempat ia duduk tadi.

“Karmila Dewi,” kubaca sapu tangan berwarna merah muda itu. Sapu tangan itu membuatku yakin bahwa dia bukanlah hantu. Detak jantungku semakin kencang.  Aku tak menyangka sekian banyak gadis-gadis yang kujumpai, tak satupun yang mampu membuat hatiku terpaut. Tapi, wanita itu lain, pesonanya membuat  hatiku terpaut dengannya. Entah, ada apa dengannya. Lalu kutarik nafas dalam-dalam mencoba untuk menenangkan diri. Dalam hati aku menbatin,

‘Percintaan terpendek se dunia…,’

“Bus jurusan Sanur siap diberangkatkan.” Bunyi pengeras suara menghancurkan keheninganku. Akupun segera masuk ke dalam bus dan mencari tempat duduk yang nyaman.

Beberapa jam kemudian aku sudah sampai di Sanur. Di sana kucari sebuah hotel untuk beristirahat, karena keesokan harinya aku harus jalan-jalan dan menikmati hari tenangku.

***

Tut…, tit…, tut…!

Bunyi Hpku membangunkanku. Akupun segera mengangkatnya,

“Halo…”

“Pagi Fan, gimana liburannya asyik enggak? Udah dapat tempat yang nyaman apa belum? Gimana, gimana, indah enggak pulau Bali, aman enggak, atau kamu sekarang lagi asyik berduaan dengan cewek-cewek Bali? Oh ya ada kejadian hangat enggak?” Suara mbak Yuli, menejerku langsung nyerocos tanpa titik koma.

“Asyik apanya, kalau orang nyantai aja udah diganggu, aku baru bangun tidur nich! Sorry ya aku mau mandi dulu ya da….h” jawabku tegas sambil langsung meletakkan Hp setelah selesai bicara.

Segera aku bangkit dari tempat tidur, lalu kubuka jendela kamar dan sang surya telah memancarkan cahayanya. Kulihat pemandangan di sekitar hotel, bunga-bunga yang mekar seperti memberi warna pada pagi. Udara terasa segar, daun-daun yang melambai, seperti menyerahkan hijaunya pada musim. Waktu merambat berputar pada sumbunya. Rasa sejuk yang tadi, diam-diam melangkah menaiki birunya langit yang menyeruak dari segenap dataran hijau. Sepi tiba-tiba hilang berganti hiruk-pikuk suara mobil. Akupun segera mandi dan langsung keluar dengan menbawa handicamp, sebagai persiapan siapa tahu ada kejadian yang menarik.

Lima menit berlalu, akupun sampai di pusat kota Sanur dengan naik taksi. Sengaja aku mengambil gambar di sekitar kejadian, sebelum makan-makan dan sekalian mencari kebetan. Tiba-tiba…,

Demmm…!!!

Tanpa diduga-duga sebuah bom meledak dari sebuah mobil kijang. Suara dahsyat yang luar biasa kerasnya, seakan memecahkan telingaku. Suara berderak-derak dan kacau menimpali ledakan itu. Beberapa bangunan hancur seketika. Api menyala-nyala di sekililing tempat itu. Jeritan dan teriakan memekik, menambah suasana menjadi sungguh-sungguh menciptakan kengerian yang menyayat-nyayat.

Dalam situasi seperti itu. Aku termangu di antara bengong, ketidak percayaan dan ketakutan pada penglihatanku sendiri. Karena selama bertahun-tahun aku jadi wartawan, baru kali itu aku berhadapan dengan ledakan bom. Tangan dan kakiku gemetar. Nafas seakan terputus seketika. Kulihat disekelilingku orang-orang berlarian. Tiba-tiba seorang lali-laki kurus menabrakku.

“Maaf mas, maaf,” ujarnya terengah-engah sambil berlari. Akupun tersadar dari kebengonganku. Kucoba melangkahkan kaki mendekati tempay ledakan tiu sambil lalu kukeluarkan handicamp-ku untuk merekam gambar bangunan-bangunan yang hancur akibat ledakan tadi. Suara ambulan meraung-raung di telinga, beberapa aparat mencoba menenangkan suasana. Tiba-tiba tampak di kameraku, sosok wanita cantik berjilbab hitam dengan pakaian serba hitam. Aku keheranan sedikit tak percaya. Kugosok mataku, karena mungkin aku hanya salah lihat. Namun, ternyata sosok itu adalah wanita cantik yang kutemukan basah kuyup tadi malam. Kutinggalkan tempat kejadian itu dan ku coba mengikutinya. Kulihat ia berjalan menuju sebuah mobil panther. Mobil itu lalu membawanya ke rumah tua yang cukup jauh dari khalayak ramai. Akupun membuntuti dengan menyetop taksi berwarna biru. Di sana Ia lalu disambut oleh dua orang laki-laki bertubuh kekar dan membuatku curiga, jangan-jangan mereka adalah komplotan teroris yang terkait dengan kasus pemboman itu.

Semakin dekat aku melangkah menuju markas mereka, detak jantungku semakin kencang. Tiba-tiba,

Brokkk…!

Sebuah bogem mentah mendarat cukup keras di kepala belakangku. Dunia terasa biru dan alam terasa biru, berputar-putar. Kucoba untuk bangkit, namun, seorang laki-laki bertubuh besar telah berada di depanku dan menyeretku masuk ke dalam markas mereka.

“Siapa cecurut ini, kenapa kau bawa ke sini?!” gertak seorang laki-laki bercadar hitam.

“Orang ini kutemukan di luar sedang mengintip kita, aku curiga ini adalah mata-mata polisi. Makanya kau bawa masuk,”

“Bawa dia ke gudang bawah tanah dan kurung di sana, Jangan sampai ter lepas.”

Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kepalaku masih terasa berputar akibat bogem mentah tadi. Namun,

“Jangan kak, dia temanku,” terdengar agak gamang di telinga, suara seorang wanita. Dengan sedikit sadar, kulihat wanita itu memang wanita yang kujumpai di terminal semalam.

“Apa?, ini temanmu?, mengapa kamu bawa kesini?” tanya laki-laki yang memakai cadar hitam itu.

“Aku tadi mengajaknya. Tenang saja kak, dia tidak akan membocorkan tempat kita ini kepada orang lain.” Wanita itu mencoba membelaku.

“Ya sudah, cepat bawa dia pergi dari sini,”

Wanita cantik itupun lalu membawaku keluar dari tempat itu seraya menggandeng tanganku. Lalu ia menghentikan langkahnya dan menatapku.

“Mengapa kamu ada di sini?” tanyanya kesal.

“Tadi, ketika aku mengambil gambar lokasi kejadian, aku melihat wajahmu tertangkap kameraku. Jadi, aku mengikutimu hingga sampailah kau di tempat ini,”

Sejenak sunyi. Hingga kucairkan suasana dengan sebuah kalimat,

“O ya, mengapa semalam kau meninggalkan tempat itu, padahal susah payah aku belikan kopi untukmu,” tanyaku sambil menatap matanya yang sunyi. Namun, ia tidak menjawab pertanyaanku.

“Mila, di tempat itu aku temukan sapu tangan ini. Apa ini milikmu?,” celetukku sambil menyodorkan sapu tangan berwarna merah muda itu.

“Dari mana kamu tahu namaku?” tanyanya heran,

“Ya dari sapu tangan itu. Mil, terima kasih atas pertolonganmu tadi ya,”

Aku bahagia sekali bisa berhadapan dengan gadis yang telah mampu menyalakan pelita kasih dalam hatiku itu.

“Fan, lebih baik kamu segera pergi dari sini. Dan aku mohon jangan sampai orang lain tahu tentang keberadaan kami. O ya, jangan kau tampakkan kewartawananmu kepada kakak-kakakku, karena kalau mereka tahu, kamu tidak akan bisa pulang dari tempat ini.” Ujarnya penuh harap. Akupun segera pergi dari tempat itu, kulihat matanya yang teduh, seakan memberikan harapan untuk kuisi dengan cintaku.

***

Malampun menyapa. Desau angin malam membawa aroma tubuhnya kelobang hidungku. Membuatku tidak bisa memejamkan mata. Wajahnya, suaranya dan semuanya, membuatku selalu terbayang akan dirinya. Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke tempat itu lagi untuk mengungkapkan perasaanku yang paling dalam. Karena aku sudah tidak kuat lagi menahan perasaan yang memuncak bagai gunung berapi yang siap untuk memuntahkan lavanya.

Suasana di tempat itu tampak sepi, malam terasa semakin dingin. Sunyi, tanpa satupun suara binatang malam, kecuali suara cicak pada dinding-dinding tembok. Semakin dekat aku dari markas tempat Karmila berada, terdengar samar-samar di telingaku sebuah suara yang agak mencurigakan. Suara itu semakin jelas di telinga.

“Mila, kutugaskan kau untuk meletakkan bom, setelah President datang besok pagi. Dan kau Adnan, kau berjaga-jaga di sekitar target dan ingat!, jangan sampai seorangpun mencurigai kalian.” Percakapan mereka membuatku agak merinding ketakutan. Mereka akhirnya bubar, sebagian masih menetap dan sebagian yang lain pergi ke tempat masing-masing. Kulihat Karmila sedang menuju tempatnya. Diam-diam aku melangkah pelan menuju tempatnya itu.

“Karmila…,” sapaku lirih

“Kau…p”

“St st st…, jangan keras-keras,” ucapku sambil membungkam mulutnyan lembut.

“Mengapa kamu ke sini lagi?”

“Mil, sekarang aku ingin jujur padamu.” Kutarik nafasku dalam-dalam dan kuteruskan kata-kataku dengan mencoba menenangkan diri. “Sejak malam itu aku langsung jatuh hati padamu dan aku tak kuasa menahan perasaan ini,” celetukku. Namun, Mila tetap diam seribu bahasa, tanpa satu katapun yang keluar dari bibir tipisnya. “Mil, jujurlah padaku apakah kau juga begitu?, apakah kau masih menyisakan tempat untukku di hatimu,?” ia hanya menunduk tanpa berani menatap mataku. “Mil, jawab pertanyaanku. Jika tidak, berarti kau tega menyiksaku. Dan itu berarti di hatimu sudah tidak ada tempat untuk kuisi dengan cinta sejatiku.?” Kubelokkan badanku sambil melangkah pelan menuju pintu.

“Fan,” ujarnya seraya berlari dan mendekap  tubuhku. Kurasakan kehangatan yang tak pernah kurasakan selama hidupku. Ingin rasanya aku berjingkrak-jingkrak, namun, suasana tidak mendukungku. “Fan, jangan bilang seperti itu, sesungguhnya sejak malam itu aku…, aku sudah mulai jatuh hati dengan kebaikanmu, dan itupun yang pertama kalinya untukku. Tapi, setelah tahu kau adalah seorang wartawan, aku mencoba membuang jauh-jauh bayanganmu. Tapi, kini kau datang lagi dan membuatku bimbang. Tapi, lebih baik kau pergi dari sini sekarang. Mengertilah dengan keadaanku Fan, please!” kalimat itu membuat telingaku sejuk, kulihat air mata berlinang di kedua kelopak matanya.

“Apakah besok kamu akan membunuh seribu jiwa lagi?” ujarku sambil membelai rambutnya nan halus dan hitam berkilau. Spontan ia langsung bangkit dari pelukanku.

“Apa?!”, “Apa kamu mendengar percakapan kami tadi,?” ucapnya.

“Ya, tanpa sengaja aku nguping percakapan kalian,” Karmila tampak gelisah dengan perkataanku tadi.

“Mil, mengapa kalian lakukan itu?” tanyaku sambil memegang tangannya.

“Kami benci orang-orang Amerika dan sekutu-sekutunya yang telah membantai saudara-saudara kita para muslimin di Afganistan pada bulan Ramadlan tahun 2001 dulu. Hampir seluruh umat manusia di penjuru bumi menyaksikan peristiwa itu. Mereka telah membantai para kaum lemah dan bayi-bayi tak berdosa. Allah berfirman, “dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya, sebagaimana mereka memerangi kamu semua. Dan ketahuilah bahwasanya Allah berserta orang-orang yang bertaqwa (Al-Taubah: 02). Ayat ini yang membuat kami berani melawan siapapun yang telah mengobrak-abrik para kaum muslim”. Perkataan itu membuat hatiku tersentuh, kulihat matanya manyala-nyala bagaikan kilat yang siap menyambar.

Sejenak sunyi.

“Tapi Mil, apakah kamu akan mengorbankan masa remajamu, reputasimu untuk semua itu?” ujarku.

“Demi meninggikan agama Allah, nyawapun akan kukorbankan,” ujarnya penuh semangat.

Sementara aku tak tahu lagi harus berkata apa, hingga akhirnya salah seorang temannya mengetuk pintu.

“Mila, kamu berbicara dengan siapa?” tanyanya dari luar pintu. Mila lalu menyuruhku sembunyi di bawah tempat tidur dan membuka pintu.

“Tidak kak, aku hanya sendirian”

“Ya sudah istirahatlah, karena besok pagi-pagi sekali kita akan mulai beraksi,”

Laki-laki itupun pergi meninggalkan tempat Karmila. Iapun lalu menyuruhku pergi dari tempatnya.

“Fan, pergilah dari sini, sebelum kakak-kakakku mengetahui keberadaanmu,” ucapnya sambil mengusap pipiku lembut.

“Tidak Mil, aku tidak akan pergi dari sini tanpa membawamu. Kau harus pergi denganku”

“Fan, aku mohon mengertilah dengan keadaanku. Aku tidak ingin mengkhianati mereka,”

“Mil, cinta bukanlah pengkhianatan, tapi, ini jalan yang terbaik bagimu,”

“Baiklah Fan, kau pergi duluan, nanti aku akan menyusulmu,” ujarnya.

“Mil, kutunggu kau di terminal. Dan kita langsung pergi dari pulau ini.” Hatiku berbunga-bunga mendengar keputusannya, kulihat wajahnya berbinar-binar bercampur kegelisahan. Namun, aku mengerti dengan dirinya.

***

Sudah pukul 06:00 pagi, berarti sudah lima jam lamanya aku menunggunya, beberapa bus datang dan pergi. Tak bisa kubayangkan bila ia tidak datang. Ini akan membuat hatiku luka, yang bila tersiram kenangan akan menciptakan kepedihan yang dalam.

“Fan, percuma kau menunggunya, ia tidak akan pernah datang, masak baru kenal satu  hari, bisa membuatnya mau meninggalkan jihadnya” kata hatiku yang tak henti-hentinya menyerukan kalimat itu yang membuatku semakin gundah. Namun, aku yakin kalau memang ia mencintaiku, walaupun kami baru kenal hanya satu hari, ia pasti datang menjawab panggilan cintaku.

Dari jauh, dalam keremangan embun pagi tampak sosok wanita berbaju merah jambu, berjalan ke arahku. Kutahan nafas, meredakan gejolak jiwa yang tiba-tiba mengentak-entak dalam dadaku.

Hatiku meronta-ronta melihat sosok wanita itu, walau tidak yakin bahwa itu adalah Karmila Dewi. Semakin dekat, sosok wanitapun semakin tampak jelas, aku menyambutnya dengan segudang harapan dan tanda tanya.

Tapi, sorot mata itu, ya… sorot mata itu mengatakan lain. Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia kabarkan padaku. entah, kabar baik atau buruk.

Ia semakin mendekat. Sudah tampak jelas sorot mata Karmila mengembang di hadapanku. Tapi ada apa dengan wajah itu? Kenapa ia tampak tak bergairah.

“Fan, aku datang untuk memenuhi panggilanmu, tapi bukan untuk ikut denganmu, maafkan aku Fan” ucapnya seketika. Membuatku tak mengerti apa maksud dari perkatann tadi.

“A, apa maksudmu Mil, aku enggak ngerti,” ucapku gugup.

“Fan, maafkan aku karena tidak bisa ikut denganmu, aku tidak bisa meninggalkan Jihatku dan saudara-saudaraku. Mereka membutuhkanku Fan. Biarlah, akan kusimpan rasa ini dalam hatiku yang terdalam, mungkin suatu hari kita bertemu lagi, ketika semua sudah selesai” kata-kata itu membuat hatiku jasadku dan semua anggota tubuhku gemetar, dingin, bagai disiram air es, beku tanpa gerak.

“Baiklah Mil, jika itu memang yang terbaik untukmu, aku tidak akan memaksa. Karena tidak ada kata-kata ‘terpaksa’ dalam cinta.”

Tun tun…!

Sebuah bus bertuliskan “Bali-Jember” menggema, dan berhenti tepat di hadapanku. Sementara panas mentari tak mengalahkan panasnya hatiku ketika itu.

“Mil, apa kau yakin dengan keputusanmu?” tanyaku mencoba untuk merayunya.

“Ya, aku sudah ”

“Tentu,” jawabku.

Pada saat itu hatiku terasa disiram air es, dingin dan sejuk. aku bagaikan orang yang tak mempunyai hutang sedikitpun. Kegembiraanku kuluapkan dengan memeluk Mila. Namun, tiba-tiba,

Dorrr…!!!

“Angkat tangan…!” suara itu mengejutkanku, Karmila dan kakaknya. Kulihat polisi telah berdiri tegak di sekeliling kami dengan senjata di setiap tangan mereka. “Menyerahlah!, kalau tidak, kami akan menembak kalian bertiga!” aku termangu antara percaya dan tidak. Mila semakin erat memeluk tubuhku. Kulihat matanya redup ketakutan.

“Mil, tenanglah, aku akan selalu melindungimu” desahku lirih.

“Fan, lebih baik kita kabur sekarang juga,” kata kakak Mila seraya menarik tangan Mila. Hatikupun langsung menuruti perintahnya. Tanpa basa-basi, kami lalu mencoba untuk kabur. Namun….

Dorrr…!!! Dorrr…!!!

Dua tembakan meluncur ke arah kami. Akupun menghentikan langkahku seraya angkat tangan. Lalu kubelokkan badanku, ternyata Salim dan Karmilaku telah terkapar. Kucoba untuk menolong mereka namun, mereka sudah tidak bisa bangkit lagi. Sementara Karmila, sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya ia masih berwasiat padaku.

“Fan aku mohon jangan bilang siapa-siapa tentang markas dan kawan-kawanku. Fan, aku semakin mencintaimu”. “Asyhadu allailaha illallah waasyhadu annamuhammadan Rasulullah. Allahu Akbar…!!!” jeritnya histeris dan iapun lalu menghembuskan nafas terkhirnya.

Sementara hatiku sakit, sakit sekali, melihat tubuh wanita yang kucintai terkapar penuh darah. Tak tahan lagi aku menahan rasa sakit di dalam dada. Aku lalu berteriak keras, keras sekali.

“MILA…!!!! MILA…!!!” jeritku keras sebelum sesuatu terjadi atas diriku.

“Pak!, ada apa ?” sekonyong-konyong salah seorang pelayan hotel menegurku. Aku tersadar dan gelegapan.

“Oo… tidaK, tidak apa-apa, aku cuma mimpi buruk” jawabku sekenanya.

Pelayan itu lalu pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya setelah sarapan pagi di meja. Aku masih bingung, kulihat ke jendela, Matahari telah berpijar. Setengah sadar aku beranjak bangun. Dengan langkah pelan kutinggalkan tempat tidur menuju kamar mandi tanpa kuasa menepis sisa mimpi yang masih terasa membayangiku.

Lancaran Permai, 25 Juni 2005

By Fawaidurrahman Posted in Sastra

One comment on “Sapu Tangan Merah Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s