Islam-phobia & Klaim Terorisme (Membendung Arogansi, Menuju Dialog Antar Agama)

Naskah Nominasi Lomba Esai Mahasiswa Nasional

oleh: Fawaidurrahman

Semua agama mengajarkan untuk selalu menghormati-menghargai agama lain. Sebab, hidup dengan memeluk agama tertentu adalah pilihan yang sifatnya privasi karena terkait langsung dengan kayakinan masing-masing individu. Tidak ada satu agamapun yang mengajak pemeluknya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap agama lain. Oleh sebab itu, esensi agama adalah ajaran hidup untuk saling mengasihi. Agama secara sosial, berfungsi sebagai control bagi terjadinya distorsi akhlak, budi pekerti dalam masyarakat. Korupsi, penindasan, kemiskinan, kemaksiatan, kekerasan dan tindakan-tindakan amoral yang berimplikasi sosial dianggap abnormal dan sangat bertentangan dengan nilai agama yang menjunjung tinggi terhadap pri-kemanuisaan dan keluhuran moral. Demikian halnya dengan isu terorisme yang acap kali dialamatkan kepada agama, terlebih kepada agama Islam. Klaim tersebut sangatlah bertentangan dengan cita-cita agama di atas.

Jika lebih spesifik dikaji dari perspektif keislaman, klaim tersebut secara implisit sangat tidak sesuai atau bahkan telah mencoreng nilai universalitas Islam sebagai Islam yang mengusung jargon rahmatan lil-‘alamin. Dengan jargon yang kemudian menjadi prinsip hidup tersebut, tidaklah mungkin Islam mendorong untuk melakukan tindakan-tindakan represif yang secara sosial dapat mengancam atau bahkan menyengsarakan orang lain.

Namun demikian, seringkali manusia—umat muslim khususnya—tidak dapat menangkap pesan rahmatan lil-‘alamin tersebut ketika nilai-nilai dalam Islam yang bersumber dari wahyu mencoba dimanifestasikan dalam kehidupan sosial yang berakibat pada pemaksaan tafsir dari masing-masing kepala. Ironisnya, tafsir tersebut seringkali diklaim sebagai kebenaran utuh dan tunggal, dengan menafikan tafsir-tafsir lain. Padahal tidak ada kebenaran yang utuh dan tunggal. Kebenaran selalu berjalin-kelindan antara satu dengan yag lain, bagai benang yang mencoba dirajut menjadi kain.

Menurut Qodri A. Azizy (2003), Islam tidak hanya tegak dalam posisinya sebagai agama an sich akan tetapi sebagai bangunan dari sebuah peradaban yang cukup besar yang menyentuh empat dimensi kehidupan manusia, yakni ubudiyah (berkaitan dengan persoalan ibadah), ahwal al syakhsiyah (keluarga), muamalah (masyarakat) dan siyasah (negara). Nabi Muhammad SAW sendiri yang mendapatkan “titah dari Tuhan” ditugaskan untuk membawa empat dimensi tersebut dalam menciptakan rahmat bagi seluruh semesta alam. Sehingga sosok Nabi, tidak hanya sebagai seorang pemimpin agama akan tetapi juga sebagai “aktivis” perubahan sosial dan pendobrak ketidakadilan.

Berangkat dari pemahaman tersebut, dianggap perlu untuk mencari format pemahaman terhadap Islam yang progresif, humanis dan dialektik. Karena menjadi tugas manusia sebagai khalifah fil ‘ardh dalam mengejawantahkan agama sebagai “ikon pembebas” yang bertanggungjawab terhadap kemaslahatan bumi. Bukan sebaliknya, agama sebagai pemicu konflik perang, bom, kekerasan, serta pemandangan “tak sedap” lainnya. Dengan corak agama seperti ini, Tuhan sebagai “Kekuatan Tiada Tara” tidak hanya akan menjadi Tuhan Langit (ilah al-samawat) tetapi juga menjelma menjadi Tuhan bagi bumi (ilah al-ardh).

Max Weber (1864–1920) pernah mengungkapkan bahwa agama cukup berjasa dalam melahirkan perubahan sosial yang paling spektakuler dalam sejarah peradaban manusia. Agama dianggap mampu memberikan dorongan terhadap masyarakat untuk melakukan “revolusi”. Tesis ini tentunya bagaikan “mimpi indah” bagi umat beragama. Namun yang perlu direnungkan kembali, tesis Weber mengenai agama sebagai motor perubahan sosial “dilahirkan” di atas seratus tahun yang lalu. Weber bukanlah sosok “masa kini”. Karenanya, kita perlu membuktikan kembali kebenaran tesis Weber tersebut. Karena nampaknya saat ini kondisinya justru berbalik, yakni agamalah yang mesti mengejar “kebaruan” dalam pola interaksi sosial yang terbangun.

 

Islam-phobia dan Klaim Terorisme

Katakutan (phobia) terhadap Islam merupakan stigma negatif yang tidak bisa dilawan dengan sekedar kritik atas Barat dan medai Barat yang melakukan kampanye mengenai citra negatif, tidak hanya Arab, tapi juga Muslim secara Umum. Hal ini dimasudkan agar Umat Islam lebih obyektif dalam memandang segala macam persoalan. Kenyataan yang terjadi, kebanyakan mereka terlalu otoritatif tentang klaim kebenaran. Seolah tidak ada kebenaran lain di luar. Sebab, kebenaran tak ubahnya benang yang dirajut menjadi kain; saling berjalin kelindan dan tak pernah utuh dan tunggal.

Jika dilihat dari latar-hirtoris, Islam pada masa kekhalifahan sampai masa muluk at-Thawaif sering melakukan ekspansi kekuasaan atau. Hal ini misalnya bisa dilihat dari ekspansi militer hingga jauh dari titik geografis kelahirannya hingga sampai ke Afrika, Eropa dan lain sebagainya—walaupun dalam Islam sendiri di sebut Dakwah. Realitas itulah yang kemungkinan masih menyisakan dendam yang mendarah-daging dalam dunia barat yang sejurus kemudian memberikan predikat bahwa Islam identik dengan pedang.

Timbulnya Islamophobia sendiri merupakan realitas historis. Akar-akarnya sudah lama menancap, khususnya sejak Perang Salib di abad pertengahan, yakni perang antara pasukan Islam dan Kristen di daratan Eropa. Perang itu sendiri memunculkan trauma psikologis hubungan antara kedua pemeluk agama besar. Celakanya, hubungan buruk itu tidak pernah diperbaiki serius

Hal tersebut diperkeruh oleh hubungan internal dalam Islam yang berlangsung antar kelompok sejak pembunuhan Usman sampai sekarang selalu diwarnai oleh kekerasan. Kenyataan inilah yang juga menjadi bukti sejarah betapa Umat Islam sejak masa klasik terlibat dalam konflik, baik internal, maupun eksternal. Realitas ini didukung oleh kebanyakan umat Islam, khususnya kaum fundamentalis, yang menafsirkan ayat-ayat tentang jihat tanpa melakukan semacam tafsir ulang dengan mencoba mengkontekstualisasikan dengan sosio-kultur dan pradigma kultural era sekarang.

Pada tatanan praktis, kekerasan atas nama agama sebagai pengaruh dari gerakan Islam yang mengekspresikan keberagamaanya secara berlebihan atas nama doktrin literal agama, menambah keyakinan masyarakat dunia akan stereotype Islamophobia tersebut. Semisal, aksi-aksi kekerasan demi perjuangan agama yang dilakukan di Iran, Sudan, Irak, Lebanon, Somalia, Afganistan, Libya dan lain sebagainya yang menjadikan stereotype tersebut sulit terelakkan. Data tersebut penulis dapatkan dari hasil penelitian Zauhairi dan Khamami yang kemudian ditambah oleh Edward W. Said dengan mencatat insident kekacauan yang dilakukan umat Islam sejak 1983 sampai 1993. (Lacak dalam Zuhairi dan Khamami, 2004:64-65)

Data-data tersebut menunjukkan betapa aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok teroris sering kali dilabelkan kepada kelompok agama fundamentalis. Sementara, lebih lanjut Zuhairi mengasumsikan bahwa fundamentalisme sendiri, lahir karena kebijakan politik Barat yang menyudutkan umat Islam, yang sudah terdesak oleh sekularisme, yang sudah mengancam eksistensi agama. Sehingga, tidak salah jika semua agama yang ada di Barat Baik Islam atau yang lain melahirkan fundamentalisme.

Namun demikian, ekspresi keberagamaan kaum fundamentalis yang memancarkan semangat membela agama dengan kekerasan terlalu berlebihan karena tidak melihat perubahan siosio-politik di dalam khazanah intelektual mana pun. Hal ini mengakibatkan arogansi yang luar biasa, jika tidak diminimalisir dengan sikap toleransi terhadap liyan (meminjam Istilah Derrida).

Dus, tudingan Islam sebagai agama teroris mendapat legitimasi kuat setelah peristiwa 11 September 2001. AS menuding Usama bin Laden sebagai otak di balik kolompok al-Qaida dalam peristiwa kelabu tersebut. Tudingan tersebut semakin meyakinkan setelah media-media internasional mengkoar-koarkan kenyataan kongkret dari tudingan tersebut. Sejak saat itu pula AS menjadikan al-Qaida sebagai target operasi. Dengan dalih membasmi al-Qaida pulalah AS melakukan operasi militer di Afganistan.

Hemat penulis, tindakan serta merta AS dengan menuding al-Qaida sebagai biang dari tragedi tersebut perlu dianalisis kembali perihal validitasnya. Sebab, Direltur FBI, Robert Muller, pernah mengaku tak menemukan selembar pun bukti yang mengindikasikan keterlibatan Usamah dan al-Qaida. Bahkan, dari 19 tersangka pelaku bunuh diri dalam tragedi WTC, 10 diantaranya masih hidup. Juga ada kesaksian bahwa Muhammad Atta, yang disebut-sebut operator utama pembajakan pesawat tewas bersama 18 “teroris” lainnya, masih berkeliaran di Amerika. (Idi Subandy & Asep Syamsul, 2007: 96) Dengan demikian, tidakan AS tidak berlandaskan pada data-data kongkret.

Kaitannya dengan konteks ke-Indonesia-an, pasca tregedi 11 September tersebut, Indonesia pernah dijuluki surga bagi teroris, dengan merujuk situasi gerakan anarkis atas nama Islam yang muncul belakangan. Mereka misalnya dikenali dengan ciri-ciri; penggunaan simbol-simbol Arab, sering mengerahkan massa, cita-cita menegakkan syariat Islam, seringnya terjadi Bom dan lain-lain.

Sejak Amerika memproklamirkan war againts terorist, Indonesia masuk dalam sasaran ini. Ada beberapa alasan yang populer dan bisa diinventarisir dalam sorotan dunia  tentang isu Islam di Indonesia pasca tragedi 11 September: Pertama, Isu Jamaah Islamiyah (JI). Alfitra Salam, peneliti dari LIPI yang lama tinggal di Malaysia dalam wawancara dengan Metro TV mengatakan bahwa JI hanyalah kelompok maya, hasil rekaan Intelijen Malaysia untuk kepentingan politik, yang sebenarnya tidak ada. Adapun yang memberi nama JI adalah koran-koran Malaysia dan diciptakan oleh Intelijen Malaysia. Ironisnya, ratusan media di Indonesia ikut-ikutan suara yang dipimpin oleh pemerintah AS. Ironisnya, organisasi yang hampir tak pernah dikenal di Indonesia ini, disinyalir sebagai sarang lahirnya teroris. Di Indonesia, nama Abu Bakar Ba’asyir, ketua MMI dan pengasuh pesantren Ngruki ini mendadak menjadi sangat terkenal, dalam kasus pencarian jaringan-jaringan JI. Apapun alasannya, akhirnya ia berhasil dikenai dengan serangkaian tuduhan makar maupun aktor di balik terjadinya gerakan-gerakan Islam garis keras.

Kedua, menguatnya citra Islam radikal di Indonesia seperti tindak-tanduk FPI dan sebagainya. Al-Zastrouw Ng mengasumsikan bahwa pada hakekatnya, gerakan FPI bukanlah seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir yang memiliki ideologi yang jelas. Gerakan FPI cenderung kepada gerakan radikal-politis yang tidak memiliki ideologi yang jelas. Dalam artian, ia bukanlah gerakan yang memperjuangkan suatu ideologi keagamaan tertentu, tapi justru gerakan politik yang menggunakan simbol agama. (Al-Zastrouw Ng., 2006: 156)

Ketiga, meningkatnya aksi bom untuk dan atas nama jihad, dari Imam Samudra hingga Nurdin M.Top. Bagaimanapun, ketika dunia masih tersentak dengan peristiwa 11 September,  tiba-tiba bom Bali terjadi dan disusul dengan Bom J.W. Marriot hotel, yang targetnya membunuh orang. Pelbagai bentuk aksi serangan terorisme sebenarnya merupakan malapetaka besar bagi Indonesia, yang dulunya dikenal ramah dan cinta damai. Karena itu, hal tersebut merupakan tantangan serius bagi agama-agama, terutama untuk memberikan penyadaran agar tidak bersikap radikal dan anarkis. Sebab, kekerasan adalah tindakan biadab, yang melanggar ajaran agama, terlebih Islam dengan jargonnya rahmatan lil-alamin.

Terlepas dari realitas tersebut, perlu kiranya mematangkap konsep jihad yang selama ini kerapkali dipahami secara tekstual, parsial dan bersifat ofensif sebagaimana yang serukan oleh Qutub, yang kemudian dikembangkan-diaplikasikan oleh kaum fundamentalis. Dalam hal ini, jihad bukanlah seruan untuk mengkonversi individu atau kelompok tertentu ke dalam Agama Islam. Melainkan untuk menundukkan “kekuatan kafir”, yakni tatanan politis kaum kafir serta kekuatan militernya. Kekuatan mereka tidak hanya menentang penebaran Islam (sebagai agama keadilan) di muka bumi,tapi mereka juga sebagai penjelmaan dari imoralitas dan ketidakpastian.

Karena itu, ketika Muhammad beserta sahabatnya memberontak terhadap tatanan yang korup pada masyarakat jahiliyah, mereka dianiaya, dihina, diasingkan, dan dibunuh. Mereka terpaksa melakukan hijrah. Dalam suasana semacam itu, tugas dan strategi utama Muhammad adalah mengorganisir, memperkuat, dan mempertahankan kaum proletariat yang tak berdaya, lemah, dan miskin. Dengan demikian, pembenaran jihad bis-saif lebih memiliki makna defensif.

 

Bertoleransi di tengah Perbedaan: Menuju Dialog Antar Agama.

Melihat kompleksitas fenomena tersebut, yang perlu diperhatikan sebenarnya adalah respons umat Islam dalam menyikapi perbedaan keyakinan. Khususnya yang baru-baru ini muncul wacana hanya tentang “aliran-aliran sempalan” yang saat ini banyak lahir justru membuat umat muslim bersikap arogan dan destruktif. Umat Islam tidak menyadari bahwa diri mereka saat ini tengah diuji oleh lahirnya berbagai aliran tersebut. Sejauh mana mereka mampu mengaplikasikan sikap toleransi Nabi Muhammad yang dulu hidup di tengah keberagaman umat, baik dari berbagai suku, warna kulit, dan agama. Di mana pada waktu itu, Rasulullah sangat menghargai perbedaan-perbedaan tersebut dengan tetap mempertahankan sikap inklusif dan tidak memaksakan kehendak seseorang untuk mengikuti ajarannya. Apalagi, bersikap arogan pada mereka yang berbeda agama dengan beliau.

Bahkan, saat baru diangkat menjadi pemimpin Madinah, beliau pernah berpesan: “Barangsiapa yang mengganggu umat agama samawi, maka ia telah menggangguku”. Sabda beliau jelas merupakan anjuran kepada kaum muslimin di dunia untuk selalu bersikap pluralis dan toleran (tasamuh) pada berbagai perbedaan yang ada. Oleh sebab itu, umat Islam harus bersikap secara lebih terbuka, arif, dan bijaksana dengan tetap menghargai nilai-nilai kemanusiaan universal.

Dengan demikian, dialog antar-agama sangat dibutuhkan pada zaman sekarang. Salah satu sasaran yang paling signifikan adalah untuk menunjukkan bahwa agama, bagaimanapun juga, bukan penyeban dari pelbagai konflik. Ada dua hal yang perlu dasampaikan oleh umat Islam untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama cinta damai: pertama, adanya hubungan khusus dengan umat kristiani dan Yahudi dan apa arti hubungan ini bagi pengikut ajaran Ibrahimi; kedua, bahwa militansi agama tidak ditemukan secara khas di dalam masyrakat muslim, dan Bahwa militansi seperti itu akan reda bila isu-isu politik yang memicunya ditangani dengan baik dan dengan jelas.( Imam Feisal AR, 2007: 343)

Dalam hal ini Al-Fayyad (2005) dalam bukunya menyatakan bahwa “kematian” logosentrisme mengawali lahirnya dunia baru tanpa pusat, tanpa subyektifitas, tanpa ontologi, tanpa sandaran makna dan kebenaran otorittatif. Inilah dunia yang mengejarkan kita untuk liyaning liyan, menghormati yang beda dalam keberbedaannya dan yang lain dalam kelainannya.

Selain internal umat Islam, sistem pemerintahan di Indonesia pun perlu melakukan semacam pembenahan diri. Zamakhsyari mengasumsikan bahwa suatu tindak kekerasan yang terorganisir dengan rapi, yang sulit dikendalikan oleh penegak keamanan, sudah pasti berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi dan politik yang labil dan menimbulkan kerawanan serta konflik sosial politik. Kondisi sosial-politik yang tidak stabil, kepemimpinan nasional dan regional yang lemah, kehidupan hukum dan ekonomi kurang adil yang berakibat pada degradasi moralitas bangsa, merupakan lahan hunus bagi berkembangnya terorisme. (Zamakhsyari Dhofier, 2009: 113)

Oleh sebab itu, ia untuk dapat mengatasi problem terorisme di negeri ini perlu adanya upaya injeksi kesadaran terhadapt seluruh lapisan, dari pemerintah hingga masyarakat akar rumput akan pentingnya membangun stabiltas sosial-politik yang mencerdaskan dan upaya penegakan hukum yang tidak sekedar melihat kepastian hukum. Melainkan lebih kepada kemaslahan umat. Sesuai dengan konsep ushul fiqh “tasharruf al-imam manuth bil-mashlahah”.

Lebih lanjut Zamakhsyari menambahkan bahwa tradisi pesantren sebagai lembaga indigenous Indonesia dapat membantu pemerintah untuk mengikis terorisme. Sebab, disadari atau tidak, kepercayaan yang begitu kuat masyrakat terhadap pesantren yang pada prinsipnya meupakan hasil dari deaspora ilmu pengetahuan (agama) yang memang menjadi sign tak tertulis dalam kelompok/warga pesantren itu sendiri. Dimana, hal tersebut selalu mendapat respon dan minat pembelajaran tidak saja bagi kiai atau santri yang telah lama dituntut untuk mendalami, tapi juga masyarakat luas yang ingin memperolah ilmu pengetahuan meski ditengah-tengah kesibukannya yang padat.

Hal tersebut dapat diupayakan dengan cara: pertama, meningkatkan lulusan pesantren, yang pada umumnya adalah kaum miskin yang tinggal di pedesaan, menjadi sarjana lulusan universitas di pesantren, sehingga lebih berpeluang mendapat pekerjaan yang layak. Kedua, meningkatkan volume tafsir moderat. Ini melibatkan proses akulturasi. Ketiga, mengarahkan jihad (dari terorisme) ke proses penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dalam istilah Yudian Wahyudi (2009) disebut “Jihad Ilmiah”.

.

 

Epilog

Dengan berbagai asumsi dan analisa di atas diharapkan dapat meluruskan pemahaman yang bengkok seputar adanya stereotype Islam agama teroris, yang tentunya juga memerlukan sikap inklusifitas dari umat Islam itu sendiri dalam memaknai suatu perbedaan. Sikap anarkis atas nama agama yang direferensikan kepada ajakan agama untuk berjihat, memerlukan tinjauan yang lebih kritis dengan pendekatan yang jelas dengan tidak hanya menafsirinya secara tekstual dan sepotong-potong.

Hal ini dilakukan agar terbukkti bahwa Islam adalah agama yang toleran, cinta damai, dan anti kekerasan. Adapun, ketika ada sempalan-sempalan yang mengatasnamakan agama untuk berbuat anarkis, perlu dekritkan bahwa tindakan-tindakan seperti itu pasti ada unsur “politik kambing putih” yang perlu untuk ditolak bersama-sama. Sedikit mengutip perkataan Ibnu Qoyyim al-Jauzi, “Islam adalah sesuatu, dan muslim adalah sesuatu yang lain. Seringkali keindahan Islam terhijabi oleh prilaku Muslim..”

Oleh sebab itu, persoalan ini perlu mendapatkan perhatian dan apresiasi dari seluruh umat islam di Indonesia, terutama para cendikiawan, agar keragaman dalam pemikiran dan ideologi di antara umat Islam dapat menjadi rahmat. Khaled Abou el Fadl (2006) menyerukan kepada umat islam untuk tidak terjebak dalam simbol dan otoritarianisme pemikiran apalagi politik. Sebab, baginya, Islam dan umat islam mesti menjadi sarana perwujudan rahmat dan kasih sayang Tuhan bagi semua manusia. Kasih sayang dan moderasi yang menjadi nilai dasar islam harus diingat dan dibiakkan dalam hati umat Islam. Agar ekstrimisme tak punya tempat. Agar kebersamaan semua manusia dalam menegakkan nilai-nilai kebertuhanan sungguh-sungguh mendulang kemajuan. Disamping itu pula, diharapkan citra islam kembali bersinar dan mendapat tempat di hati pemeluknya dan bahkan bagi yang ada disekitarnya (non-islam) yang tiada lain dengan jalan “menyelamatkan Islam dari muslim puritan”

Akhirnya, apoligia pro libro suo, tiada gading yang tak retak. Sebagai sebuah karya kreatif manusia, tulisan ini masih jauh dari kesempunaan. Dengan demikian, penulis mengharap kritis-saran dari para pembaca yang budiman demi lebih baiknya tulisan-tulisan selanjutnya. Wallahu A’lam.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abou El-Fadl, Khaled. Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority, and Women. Oxford: Oneworld Publications, 2001.

­­­­­­­­________. Selamatkan Islam Dari Muslim Puritan, Jakarta: Serambi, 2006.

Ali, Muhammad, Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan, Menjalin Kebersamaan. Jakarta: Kompas, 2003.

Al-Fayyadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta: LKiS, 2005.

Al-Zastrouw. Gerakan Islam Simbolik: Politik Kepentingan FPI. Yogyakarta: LkiS. 2006.

Amstrong Karen. Alih bahasa Satrio,dkk. Berperang Atas Nama Tuhan. Jakarta: Serambi, 2000

Budi Purnomo, Aloys. Membangun Teologi Inklusif-Pluralistik. Jakarta: Kompas, 2003.

Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren; Memadu Modernitas untuk Kemajuan Bangsa. Yogyakarta: Nawesea Press, 2009.

Feisal, Imam. Seruan Azan dari Puing WTC. Bandung: Mizan. 2007.

Karim, M. Abdul. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka, 2007.

Subandy & Asep. Amerika, Terorisme dan Islamophobia. Bandung: Nuansa, 2007.

Wahydi, Yudian, Jihad Ilmiah; dari Tremas ke Harvard. Yogyakarta: Nawesea Press, 2009

Yakin, Haqqul. Agama dan Kekerasan dalam Transisi Demokrasi di Indonesia. Yogyakarta: Elsaq Press. 2009.

Zuhairi & Khamami. Islam Melawan Terorisme. Jakarta: LSIP, 2004.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s