Risalah Badai

(cerpen ini ditulis tahun 2007)

karya: Fawaidurrahman

“Terserah kau mau pergi dariku atau tidak, yang pasti aku tak ingin berkorban untukmu. Dan jika kau masih ingin jadi kekasihku, jangan harap aku akan mencintaimu dengan tulus. Sebab kini aku lebih cinta kepada diriku sendiri.”

Kata-kata itulah yang sering membuat wanita-wanitaku pergi dariku. Karena aku memang tak ingin lagi berkorban demi cinta yang sesaat. Setelah dulu aku dikhianati oleh cinta itu sendiri.

Dulu, beberapa kali aku pernah bercinta dengan segenap perasaan dan penuh pengorbanan, hingga aku mencintai melebihi apa yang bisa aku pahami tentang hakikat hidup. Tapi apa yang dia berikan padaku? Cinta suci? Kasih sayang? Tidak! Tapi sebuah penghianatan yang sakitnya tak bertepi.

Sekarang aku tak percaya lagi dengan adanya cinta sejati seorang wanita. Ia hanya membuatku terasing dari kesenyataan hidup. Maka kini, wanita bagiku hanyalah lahan subur yang sangat asyik untuk bercocok tanam.

Maafkan aku wanita, aku tak bisa lagi memberikan cintaku padamu dan memang engkaulah yang telah membuatku kehilangan rasa untuk mencintai. Dulu aku memang bisa memberikan cintaku untukmu. Tapi kepadaku kau berikan topan yang kemudian menghantam pondasi hidupku. Pun waktu itu aku terhempas menghantam bebatuan di curam terjal. Yang jelas tampak semakin lungkrah dan kumuh dipertengahan abad. Hingga waktu itu pun aku merasa bahwa cinta telah mati; terbunuh cinta itu sendiri.

***

Kini purnama ketiga cengengesan di langit pencakar jingga, setelah sebelumnya kau kembali merayu; tak semua wanita seperti itu, buktinya aku. Aku beda dengan Mawar, Melati, dan mereka-mereka yang telah memberikan duri dalam kehidupanmu. Aku akan membahagiakanmu, mencintaimu seadanya dan menemanimu dalam suka dan duka, selamanya.

Ah, tidak usah semadu itu wanita. Aku sudah terlalu sering mendengar kata-kata orang rada-rada sakit kepala seperti itu. Telingaku gatal mendengarnya. Walau demikian, aku masih bisa memberimu kehangatan dan melayanimu dengan sepenuh nafsu. Karena cintaku padamu telah mati beberapa kurun waktu yang lalu dan yang tersisa kini hanyalah nafsu, nafsu dan nafsu.

Apalagi setelah beberapa saat yang lalu Ibu berceramah padaku; nak, walau Ibu seorang wanita, jangan sampai engkau mencintai seorang wanita melebihi rasa cintamu kepada Tuhan, orang tuamu dan dirimu sendiri. Karena ketika suatu saat wanita itu meninggalkanmu, sakitnya pun tiada bertepi. Bisa-bisa membuatmu mati karenanya. Seperti yang dialami Ayahmu waktu ditinggal Ibu.

Sekali lagi maafkan aku wanita. Aku hanya bisa memberimu nafsu, tanpa memberimu cinta. Karena setiap fajar menyingsing, rerumputan yang berdzikir dan sepoi angin malam seakan hanya membisikkan satu hal padaku; PERSELINGKUHAN SEUTUHNYA.

Bagiku kini, mencintaimu hanyalah sebuah kemunafikan yang berujung pada keterasingan. Karena ketika aku mencintaimu dulu, aku seperti kehilangan jati diri. Aku menjadi sangat hina dengan tunduk pada keindahan cinta yang sesaat. Bahkan, kau telah membuatku lupa bahwa aku punya Tuhan yang wajib aku cintai di atas segalanya. Untung Tuhan Maha Pengampun dan Penyayang.

Wanita, dari awal penciptaan, dirimu telah mampu menyesatkan para lelaki dan menjerumuskannya ke jurang tipu daya. Buktinya Hawa. Nenek moyangmu. Dialah penyebab keterjerumusan Adam ke dalam tipu daya setan, lewat rayunnya untuk memakan buah khuldi. Pun akhirnya Adam dibuang dari surga yang kemudian terdampar di alam dunia yang penuh dengan kerusakan ini.

Ya, engkau memang biang kerok segala keterasingan. Bayangkan saja, seandainya nenek moyangmu itu tidak merayu Adam untuk memakan buah khuldi, Tuhan pasti tidak akan marah dan tidak akan mengusirnya dari surga. Kita pun akan menikmati indahnya kehidupan surga.

Demikian juga dalam pertikaian antara Qobil dan Habil. Lagi-lagi kau menjadi penyebab terjadinya peristiwa tersebut. Kedua anak Adam itu mencoba saling membunuh hanya karena memperebutkanmu. Akhirnya, terjadilah pembunuhan untuk yang pertama kali. Darah mengalir dari tubuh Habil, petanda kematiannya. Setelah kejadian itu, darah-darah banyak mengalir menggenangi permukaan bumi.

Dari itu semua, kini aku—layaknya anak Adam—tak ingin terasing dari diriku sendiri. Apalagi setelah beberapa kali kau mencakar dan mengoyak hatiku dengan perselingkuhan yang kau lakukan di depan kedua mataku. Maka semakin sirnalah rasa cintaku padamu.

***

Namun, cinta tetaplah cinta. Walau dipaksa untuk tidak jatuh cinta, akhirnya aku pun jatuh cinta lagi. Sesaat memang indah, tapi ketika hari itu datang. Sebuah hari pengasingan, hari di mana bom-bom meledak memporak-porandakan seisi hidupku, hari di mana aku menjadi orang yang tersingkir dan terbuang; katika seorang wanita mengirimiku badai yang kemudian melemparku jauh ke liang pengasingan: Saat kau datang lagi berwujud kupu-kupu dan hinggap di pundakku. Lalu kau bawa aku terbang ke kayangan tiada bertepi setelah menaburi sayapmu dengan beribu bunga bermekaran yang diambil dari sorga loka. Angin pun berbisik lirih di telingaku tentang badai yang sebentar lagi datang bersama kupu-kupu yang melambai lekat di mukaku.

Sampai aku tersadar, aku sudah diasingkan dari tempat suci yang selama ini kubangga-banggakan, kuagung-agungkan, kini telah kutorehkan arang berlumur darah pada keagungan itu.

Oh wanita, kau corengkan arang berbara ke wajahku hingga aku jadi seperti ini; terhina dan terasing dari hakekat hidupku yang selama ini kuperjuangkan untuk selalu meneteskan norna-norma. Lihatlah…! Kini aku hancur berkeping-keping. Bersama itu pula, segala perasaanku padamu—entah itu cinta atau pun nafsu—hancur lebur, mengiringi lumatan badai yang kau kirimkan padaku. Aku mati rasa.

Duba el-Tsani, 2007

By Fawaidurrahman Posted in Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s