Bahasa Diam

bicara hanya melahirkan kemunafikan

sepanjang pengembaraan tanpa sebait risalah sepi

senantiasa membisikkan kekalutan tanpa sudah

bagai anak panah yang siap menancap ke ulu hati

adakah yang lebih berlian dari kesunyian

saat pecahan kaca mengaduh menghempas keputusasaan

inikah pembaringan abadi keresahan

pelarian para pecundang yang tersingkir dari runcing zaman

hingga terasing ke dalam rimba kenistaan namun,

bahasa diam tetap saja diluar kenyataan

sampai aku terjaga pada sebuah masa yang tak pernah aku kenal sebelumnya

bernama alam durjana

alam kegelapan: Kehancuran

By Fawaidurrahman Posted in Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s